Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [24]

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah 24

 

TEKS #24
Topeng Jualan Kaum Bersilat Lidah

 

Luar biasa!

Mbah Hasyim ini seperti punya mesin waktu. Beliau wafat tahun 1947. Tapi apa yang beliau tulis puluhan tahun lalu, 1926, persis seperti sedang memotret kelakuan orang-orang hari ini. Di media sosial kita. Di panggung politik kita.

Kalau teks ke-23 kemarin bicara soal penontonnya—masyarakat yang hanyut—maka di teks ke-24 ini Mbah Hasyim menunjuk langsung hidung sutradaranya. Aktor pembuat rusuhnya.

وَتَشَدَّقَ اْلمُبْتَدِعُوْنَ السَّارِقُوْنَ كُلُّهُمْ، فَقَلَّبُوْا الْحَقَائِقَ، وَاَنْكَرُوْا المَعْرُوْفَ وَعَرَّفُواْ المُنْكَرَ، يَدْعُوْنَ اِلَى كِتَابِ اللهِ وَلَيْسُوْا مِنْهُ ِ فْي شَيْئٍ
“Dan orang-orang yang membuat bid‘ah (ajaran baru yang menyimpang) serta para ‘pencuri’ (ilmu agama) itu semuanya banyak bicara (membual/fasih bersilat lidah). Lalu mereka memutarbalikkan fakta-fakta kebenaran. Mereka mengingkari hal-hal yang baik dan justru menganggap baik hal-hal yang buruk (munkar). Mereka seolah mengajak kepada kitab Allah, padahal sedikitpun mereka tidak bertolak dari sana.”

Itulah teks kedua puluh empat. Sebuah paragraf yang operatif seperti sebuah pisau bedah sosiologis yang tajam.

Setelah di teks sebelumnya Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari membunyikan alarm tentang daruratnya orang-orang baik yang memilih diam, kali ini beliau melangkah lebih jauh. Beliau memberikan kita sebuah manual, sebuah petunjuk praktis untuk mendeteksi siapa sesungguhnya para perusak tatanan umat itu. Beliau juga menguliti modus operandi mereka dengan sangat telanjang.

Siapa aktornya?

Al-mubtadiʿūn as-sāriqūn. Orang-orang yang membuat ajaran baru (mubtadiʿūn) dan para “pencuri” (sāriqūn). Tentu Anda tahu siapa sāriq atau pencuri ini. Pencuri di sini adalah orang yang menafsirkan agama tanpa jalur guru (sanad) yang sah, lalu mengklaim diri paling tahu.

Kenapa disebut pencuri? Ini analisis sosiologis yang dalam sekali. Pencuri itu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dalam konteks ini, mereka mengambil otoritas agama tanpa jalur guru yang sah. Tanpa sanad. Modal baca terjemahan, modal potong video, lalu merasa sudah jadi mufti.

Senjata Utama: Tasyaddaqū

Lalu, apa modal mereka untuk menipu publik?

Mbah Hasyim menyebut satu kata: Tasyaddaqū.

Artinya: fasih yang dibuat-buat. Jago bersilat lidah. Membual.

Mereka ini adalah kaum yang mahir merangkai kata-kata manis di podium, pandai menyusun diksi yang membakar emosi di media sosial, dan memiliki penampilan luar yang luar biasa meyakinkan.

Zaman sekarang, mereka ini adalah orang-orang yang sangat fotogenik di depan kamera.

Retorikanya luar biasa. Pintar memainkan intonasi. Kalau bikin konten, editing-nya kelas satu. Diksi yang dipakai sangat membakar emosi

Tapi tujuannya ngeri: Qallabul-aqāʾiq. Memutarbalikkan fakta.

Di tangan orang-orang fasih ini, yang hoaks bisa kelihatan seperti wahyu. Yang fitnah bisa dikemas seperti jihad.

Maka terjadilah kekacauan itu: Ankarul-maʿrūf wa ʿarraful-munkar. Kebajikan yang sudah dirawat ratusan tahun oleh para ulama terdahulu—seperti sopan santun, menghormati perbedaan, menjaga lisan—mendadak dianggap kuno. Dianggap salah.

Sebaliknya, mencaci maki, menuduh sesat, dan berbuat kasar, justru dicitrakan sebagai bentuk keimanan yang murni. Yang paling kāffah.

Jerat Slogan dan Pembajakan Ayat

Bagaimana cara jualan mereka bisa laku keras? Mbah Hasyim membongkar strategi marketing-nya: Yadʿūna ilā kitābillāh, wa laisū minhu fī syaiʾin.

Mereka selalu bawa-bawa jargon: “Mari kembali ke Al-Qur’an dan Sunah!”
Siapa yang tidak terpukau? Orang awam yang polos pasti langsung klepek-klepek. Langsung ikut.
Tapi Mbah Hasyim memberi peringatan keras: “Padahal mereka sedikit pun tidak bersumber dari sana!” (wa laisū minhu fī syaiʾin)

Mereka sebenarnya sedang melakukan pembajakan ayat. Ayat Al-Qur’an dipotong dari konteksnya. Tafsir para ulama dibuang. Lalu ayat itu dipakai sebagai tameng untuk menyerang kelompok lain yang tidak sejalan. Ayat kesucian dipakai untuk melegitimasi kebencian.

Ini adalah sebuah fenomena pembajakan simbol yang sangat rapi. Supaya gerakan mereka terlihat suci, sakral, dan heroik, mereka selalu menggunakan jualan tema yang sangat menyentuh sentimen keimanan: “Mari kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah! Tinggalkan tradisi kuno!”

Siapa yang tidak bergetar hatinya mendengar ajakan semulia itu? Masyarakat awam yang polos pasti akan langsung bersimpati, terpukau, lalu dengan sukarela menyerahkan kesetiaannya.

Tetapi teks Mbah Hasyim ini datang dengan sebuah tamparan yang sangat keras untuk membuka mata kita yang mengantuk: “Padahal mereka sedikit pun tidak bersumber dari sana!”

Artinya apa?

Mereka sebenarnya sedang melakukan pencatutan ayat secara ilegal. Mereka mengambil satu-dua potong ayat Al-Qur’an, mencabutnya dari konteks historisnya yang asli, mengabaikan tafsir para ulama otoritatif, lalu menafsirkannya sesuka hati secara tekstual-radikal.

Ayat-ayat tersebut dipaksa menjadi alat legitimasi untuk menyebarkan benih kebencian, menyalahkan sesama muslim yang berbeda pandangan, dan merobek-robek jalinan persatuan umat yang sudah dirajut dengan darah dan air mata oleh para pendahulu kita.

Pesan Utama untuk Kita

Maka, tibalah kita pada pertanyaan yang paling krusial. Pertanyaan yang mengganjal di tenggorokan kita semua.

Apakah kita akan diam saja?

Mbah Hasyim sudah membuka kedok para “pencuri agama” itu. Sosiologinya klir. Modus operandinya telanjang. Lalu, apa sikap kita? Menonton saja? Sambil terus-menerus mengeluh di grup WhatsApp?

Tentu tidak.

Solusinya sebenarnya sudah ada di teks sebelumnya. Kita harus kembali. Pulang. Kepada siapa? Kepada mereka yang disebut sebagai al-muʾminūn al-muaqqiqūn. Orang-orang beriman yang kokoh keilmuannya. Yang memegang teguh kebenaran sejati.

Kita harus kembali merapat kepada para ulama dan sadah (para habaib/keturunan Nabi) yang jernih. Yang sanad keilmuannya tidak putus sampai ke Rasulullah SAW.

Berhentilah menjadi Naif!

Di zaman banjir informasi seperti sekarang, musuh terbesar kita adalah: kenaifan kita sendiri.
Kita ini sering kali terlalu lugu. Terlalu gampang kagum.

Asal ada orang pakai baju gamis mentereng, bicaranya meledak-ledak, jago mengutip satu dua potongan ayat di TikTok atau YouTube, kita langsung sujud syukur. Kita anggap dia wali. Kita telan semua omongannya bulat-bulat.

Padahal, Mbah Hasyim sudah mewanti-wanti: bungkus luar itu bisa menipu. Slogan suci bisa dipalsukan. Bahkan iblis pun pandai mengutip dalil untuk menggoda manusia.

Kebenaran sejati itu tidak bising. Parameternya jelas, sewelas asih, dan membawa kedamaian. Ia merajut persaudaraan yang robek. Ia merangkul, bukan memukul. Ia mendidik, bukan membidik.
Maka, rumusnya sederhana. Lihat buahnya di lapangan.

Jika ada sebuah gerakan, atau seorang tokoh, yang mengklaim dirinya paling murni, paling islami, tapi setiap kali dia bicara yang lahir adalah caci maki. Yang muncul adalah benih kebencian kepada sesama. Yang terjadi adalah perpecahan di tengah masyarakat.

Maka ketahuilah. Detik itu juga Anda harus tahu: mereka itulah komplotan “pencuri agama” yang sedang bersilat lidah. Mereka sedang merampok kedamaian batin Anda demi syahwat kelompok mereka.

Jangan beri panggung lagi. Jangan share videonya. Jangan ramaikan viewer-nya.
Merapatlah erat-erat di bawah bimbingan ulama yang jelas silsilah gurunya. Ulama yang kalau kita memandang wajahnya, batin kita menjadi adem. Yang kalau kita mendengar petuahnya, kita semakin cinta pada kedamaian. Bukan semakin ingin membakar rumah orang lain.

Kembali ke pertanyaan awal: Apakah Anda akan diam saja?
Silent majority harus menyudahi masa ‘uzlahnya. Orang-orang baik tidak boleh lagi bersembunyi di pojokan karena malas berdebat. Kalau orang waras terus-menerus diam, maka panggung publik akan terus dikuasai oleh mereka yang bising dan merusak. Kita tidak perlu ikut-ikutan kasar. Kita tidak perlu membalas dengan caci maki.

Cukup suarakan kebenaran yang teduh itu secara konsisten. Kuasai ruang digital dengan narasi yang merangkul.

Sebab, bualan manis para pencuri agama itu hanya akan laku jika kita, orang-orang yang merindukan kedamaian, memilih untuk diam dan memalingkan diri dari medan kontribusi yang nyata.