Oleh: Bambang Q. Anees

TEKS #23
Ketika Orang Baik Memilih Diam Di Tengah Lautan yang Berisik
Saya tertegun membaca teks ini. Ini teks ke-23.
Isinya? Seperti ditulis kemarin sore. Padahal, teks ini adalah bagian dari Muqaddimah Qanun Asasi—kitab rujukan utama, dasar-dasar berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang ditulis oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ditulisnya hampir seabad yang lalu!
Tapi cobalah baca pelan-pelan kutipan ini. Rasakan getarannya:
وَإِنَّ قَوْمًا قَدْ خَاضُوا بِحَارَ الْفِتَنِ، وَأَخَذُوا بِالْبِدَعِ دُونَ السُّنَنِ، وَأَرَزَ الْمُؤْمِنُونَ الْمُحِقُّونَ أَكْثَرُهُمْ
“Dan sesungguhnya ada sekelompok orang yang telah menceburkan diri ke dalam lautan fitnah. Mereka mengambil perkara-perkara bid‘ah dan meninggalkan sunah-sunah. Sementara itu, sebagian besar orang-orang mukmin yang memegang teguh kebenaran justru menarik diri.”
Gila. Ini bukan sekadar problem sosial-keagamaan zaman baheula. Ini problem sepanjang masa. Ini problem hari ini. Detik ini.
Mari kita bedah situasi ini dengan kacamata hari ini.
Masyarakat dalam Lautan Masalah
Mbah Hasyim sedang membunyikan alarm tanda bahaya tingkat tinggi. Beliau melihat ada pergeseran bandul sosial yang sangat ekstrem di tengah masyarakat.
Ini semacam analisis sosial.
Kita mulai dari kalimat pertama: Inna qawman qad khāḍū biḥāral-fitani. Umat ini sudah menceburkan diri ke dalam lautan fitnah.
Perhatikan pilihan kata khāḍū. Kata ini tidak digunakan untuk orang yang sekadar mencelupkan ujung kakinya ke dalam air. Kata khāḍū berarti masuk, terjun, dan menceburkan diri secara total ke dalam air hingga basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Teks ini ingin menggambarkan fenomena psikologis masyarakat yang sudah terseret arus kekacauan pemikiran secara massal. Mereka tidak sekadar terkena cipratan hoaks atau fitnah, melainkan sudah tenggelam dan berenang di dalamnya. Di dalam lautan fitnah yang berisik itu, ruang publik mendadak dipenuhi oleh caci maki, debat kusir, dan saling tuduh.
Zaman Mbah Hasyim dulu, lautan fitnah itu mungkin berupa adu domba kolonial, perpecahan antar-tokoh, atau munculnya pemikiran-pemikiran yang mengoyak ukhuwah.
Sekarang? Lautan fitnah itu bernama Media Sosial.
Setiap hari kita berenang di dalamnya. Banjir informasi, hoaks, caci maki, dan saling kafir-mengkafirkan. Begitu gampangnya orang menceburkan diri ke sana. Tanpa pelampung akal sehat. Mereka merasa paling benar, lalu dengan ringannya menuduh orang lain sesat.
Mbah Hasyim menggunakan istilah khāḍū, “menceburkan diri”. Artinya apa? Sukarela. Bukan terpaksa. Orang-orang zaman sekarang pun begitu: dengan sukarela jempolnya mengetik fitnah, membagikan berita bohong, demi syahwat politik atau kepuasan ego kelompok.
Anak kandung dari lautan fitnah itu langsung mewujud pada frasa berikutnya: Al-bida‘i dūnas-sunani. Memilih bid‘ah alih-alih sunah.
“Bid‘ah” Zaman Now: Mengemas Kebohongan Jadi Agama
Kalimat kedua berbunyi: Wa Akhadzū al-Bida‘i dūnas-Sunani. Masyarakat ini memilih bid‘ah dan meninggalkan sunah.
Bid‘ah adalah tambahan yang tak perlu. Tambahan yang membuat fungsi asalnya tertutupi. Sunah tentu saja tradisi dari Nabi, melaksanakannya akan membuat umat semakin bertakwa dan berjaya. Bid‘ah justru kebalikannya. Pelaksanaan bid‘ah membuat pelakunya semakin jauh dari takwa dan terpuruk.
Tapi masyarakat seperti buih yang bergerak berdasarkan gerak gelombang. Masyarakat terjebak pada “mabuk tren baru”. Masyarakat mendadak lebih senang, lebih bergairah, dan merasa lebih keren ketika mengikuti corak ajaran baru yang ekstrem, aneh, radikal, dan popular. Soal agama adalah soal viral. Masyarakat atau justru terlalu menggampangkan agama, yang tidak jelas asal-usul sanad gurunya.
Sebaliknya, warisan tradisi keagamaan yang santun, ramah, penuh kasih sayang, dan beradab yang dicontohkan secara autentik oleh Baginda Nabi (sunan) justru pelan-pelan ditepikan. Yang orisinal dianggap kuno dan ketinggalan zaman, sementara yang bising dan penuh distorsi dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Itulah problem sosial keagamaan yang terjadi.
Dulu, bid‘ah diartikan secara fikih: membuat-buat ritual baru dalam agama yang tidak ada contohnya dari Nabi.
Hari ini, esensi bid‘ah itu meluas secara sosial. Yaitu, mempraktikkan hal-hal baru yang menyimpang dari akhlak mulia Nabi, tapi dibungkus dengan simbol-simbol agama.
Menipu orang lewat investasi bodong syariah, itu bid‘ah sosial yang keji.
Mencaci maki orang yang berbeda pilihan politik dengan membawa-bawa dalil ayat, itu bid‘ah perilaku yang merusak.
Mereka meninggalkan sunah Nabi yang paling utama: Akhlak dan Rahmah (kasih sayang). Mereka lebih memilih membakar amarah daripada menebar kedamaian.
Panggung Kosong untuk Sang Perusak
Kontras dengan dua fenomena di atas, bagian akhir teks menampilkan ironi. Kalimatnya paling menguras air mata dan membuat bulu kuduk berdiri. Mbah Hasyim menulis: Wa araza al-mu’minūnal-muḥiqqūna aktsaruhum. Dan orang-orang mukmin yang memegang teguh kebenaran justru menarik diri dan bersembunyi.
Perhatikan kata araza. Kata ini memiliki beban makna psikologis yang sangat dalam. Ia menggambarkan kondisi menyusut, mengkerut, mendengkur, atau mundur bertahan ke belakang karena merasa terdesak oleh keadaan sekitar yang tidak kondusif.
Siapa yang mengkerut dan mendengkur? al-mu’minūnal-muḥiqqūna, orang beriman yang memegang kebenaran.
Inilah ironi terbesar yang sedang melanda kita: Al-Mu’minūnal-Muḥiqqūna—orang-orang yang hatinya bersih, yang memegang teguh komitmen kebenaran, yang memiliki sanad ilmu yang sah—justru memilih untuk diam. Mereka menarik diri ke dalam kesunyian. Mereka memilih mengisolasi diri di dalam kamar-kamar pesantren, di dalam rumah-rumah ibadah, atau di balik akun-akun media sosial yang terkunci senyap.
Mengapa mereka diam?
Mungkin karena mereka sudah terlanjur lelah dengan kebisingan konflik. Mungkin mereka merasa muak melihat panggung publik yang dikuasai oleh orang-orang yang gemar berteriak. Atau, yang paling mengenaskan, mereka memilih diam karena merasa berjalan sendiri-sendiri, kesepian, dan tidak memiliki wadah atau “perahu bersama” untuk melawan derasnya arus lautan fitnah tersebut.
Dampaknya sangat fatal. Ada sebuah pameo terkenal yang sering kita dengar: “Dunia ini tidak akan hancur karena banyaknya jumlah orang jahat, melainkan karena pilihan dari orang-orang baik untuk tetap diam dan tidak melakukan apa-apa.”
Ketika orang-orang yang salah sedang vokal, agresif, dan sangat berisik di luar sana, sementara orang-orang baik justru memilih tiarap dan bersembunyi, maka secara otomatis panggung sejarah akan kosong. Dan panggung yang kosong itu akan langsung diambil alih dengan leluasa oleh kaum perusak.
Di sinilah kita akhirnya menemukan jawaban paling mendasar mengapa Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari bersama para kiai sepuh lainnya bangkit mendirikan sebuah organisasi (jam‘iyyah) raksasa bernama Nahdlatul Ulama.
Teks ke-23 ini adalah fondasi legitimasi berdirinya jam‘iyyah. Mbah Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama bukan untuk gagah-gagahan kekuasaan. Beliau mendirikan organisasi ini untuk menjadi payung besar, menjadi jangkar pengikat bagi seluruh Al-Mu’minūnal-Muḥiqqūna yang tadinya bersembunyi dan menarik diri tersebut.
Beliau ingin berkata kepada orang-orang baik:
“Wahai para pemilik sanad yang sah, keluarlah dari lubang persembunyian kalian! Jangan berjalan sendiri-sendiri lagi. Satukan barisan, rapikan manajemen gerakan, dan mari bersama-sama kita bentengi umat ini dari terjangan lautan fitnah yang sedang melanda masyarakat.”
Menarik diri dan mengisolasi kesalehan secara individual memang terasa lebih nyaman dan aman bagi diri sendiri.
Tetapi, membiarkan lautan fitnah merusak kapal besar umat ini tanpa ada upaya untuk bersatu melawannya, adalah sebuah kelalaian sejarah yang ongkosnya harus dibayar mahal oleh generasi anak cucu kita di masa depan.
Jadi, ketika lautan fitnah sedang bergolak sedahsyat ini, masihkah kita memilih untuk tetap diam dan menyembunyikan diri?
Analisis Social Actor Theory
Mari kita bedah menggunakan Social Actor Theory. Dalam teori ini, kita melihat masyarakat sebagai panggung tempat berbagai “aktor sosial” memainkan perannya. Ada aktor yang bersifat proactive (pembawa perubahan), dan ada yang reactive.
Di teks ini, Mbah Hasyim mengidentifikasi dua tipe aktor sosial, yakni aktor destruktif dan aktor pasif.
Aktor Destruktif (The Noise Makers): Mereka yang “menceburkan diri” ke dalam lautan fitnah. Mereka menggunakan bid‘ah sebagai alat untuk mendisrupsi tatanan. Dalam perspektif teori ini, mereka adalah aktor yang mencari legitimasi melalui kontestasi yang bising. Mereka tahu bahwa di era mana pun, suara yang paling keras—bukan yang paling benar—sering kali dianggap sebagai otoritas baru. Mereka mendominasi panggung karena mereka berani, meski modalnya kosong (tanpa sanad).
Aktor Pasif (The Silent Virtuous): Mereka yang araza (menyusut/mundur). Ini adalah aktor yang memiliki moral capital dan intellectual capital yang sangat tinggi, namun kehilangan social agency. Mereka punya “isi”, tapi tidak punya “bungkus” atau wadah untuk bersuara. Mereka adalah aktor yang merasa “terasing” di tanah airnya sendiri karena lingkungan tidak lagi menghargai kebenaran yang berbasis sanad.
Mbah Hasyim melihat bahaya besar di sini. Jika aktor-aktor yang memiliki otoritas moral memilih untuk menarik diri, maka terjadi “Vacuum of Authority”. Panggung sejarah tidak akan pernah kosong. Jika orang baik pergi, orang jahat akan mengisi posisi tersebut. Inilah yang terjadi pada 2026: ketika ulama yang bersanad diam, ruang publik digital diisi oleh “ustadz algoritma” yang tidak punya silsilah keilmuan yang jelas.
Nahdlatul Ulama, dalam pandangan saya, adalah jawaban atas kegagalan social agency ini. Mbah Hasyim sedang melakukan “Collective Mobilization” bagi para aktor baik yang tadinya berserakan. Beliau membangun jam‘iyyah sebagai “perahu besar” agar para ulama tidak lagi menjadi aktor yang kesepian. Organisasi ini adalah platform agar suara kebenaran punya amplifier.
Secara sosiologis, Mbah Hasyim sedang menuntut sebuah “Role Reversal“. Beliau ingin para ulama yang tadinya bersifat reactive (hanya bertahan di pesantren/kamar) untuk menjadi aktor yang proactive dan assertive.
Dilema kita saat ini adalah: Bisa tidak kita menandingi kebisingan lautan fitnah itu tanpa harus menjadi bising yang sama?
Ini tantangan bagi NU di era digital. Jika kita menjadi terlalu bising, kita kehilangan adab. Jika kita terlalu diam, kita kehilangan umat. Mbah Hasyim telah memberikan modalnya: Sanad sebagai jangkar. Mungkin tugas kita sekarang adalah menciptakan cara bersuara yang beradab namun tetap mematikan bagi kebatilan.
Satu hal yang pasti: Araza—sikap menarik diri—adalah kemewahan yang tidak bisa kita nikmati lagi. Mbah Hasyim sudah mengetuk alarm itu sekeras-kerasnya. Kalau kita masih memilih diam dan membiarkan sejarah diambil alih oleh mereka yang “menceburkan diri ke lautan fitnah”, maka kita bukan sedang menjaga kesalehan, kita sedang melakukan pembiaran atas kehancuran masa depan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “apakah kita benar?”, tapi “apakah kita berani berdiri di depan barisan saat panggung publik sedang dikuasai oleh mereka yang salah?”