Grafomania. Aku yang Sepi, Aku yang Menulis, dan Aku yang Hampa

Oleh: M. Rachmatullah Arken

Grafomania. Aku yang Sepi, Aku yang Menulis, dan Aku yang Hampa

“The irresistible proliferation of graphomania shows me that everyone without exception bears a potential writer within him, so that the entire human species has good reason to go down into the streets and shout: we are all writers! for everyone is pained by the thought of disappearing, unheard and unseen, into an indifferent universe, and because of that everyone wants, while there is still time, to turn himself into a universe of words. one morning (and it will be soon), when everyone wakes up as a writer, the age of universal deafness and incomprehension will have arrived.”

― Milan Kundera

 

Seperti hari kemaren. Malam ini pun sebelum terlelap, saya kembali membuka beberapa lembar kerja dari hape yang kembali retak ujungnya. Cek beberapa paper yang disubmit di jurnal dan masih belum juga disentuh oleh para editor maha kuasa itu, buka profil Google Scholar sendiri, buka profil di SINTA Dikti. Ya tentu saja sebelum akhirnya rutinitas ini ditutup dengan nonton konten-konten tak jelas hasil algoritma yang berseliweran di Tiktok, Youtube, IG, dan jika bosan, saya buka X (bisa merujuk pada apapun, tak harus X yang itu).

Entahlah, saya harus mengakui ini sedari awal. Apa tujuannya, apa niatannya, apa misinya, sudah tak jelas semuanya. Itu menjadi rutinitas konyol tanpa makna begitu saja. Iya, saya tahu ini bodoh namanya. Tapi ya saya lakukan juga, tiap minggu, kadang tiap hari kalau lagi butuh validasi untuk diri sendiri. Bahwa di tengah dunia yang tak jelas ini, saya tak ketinggalan untuk menjadi “tak jelas” juga. Hadeh.. Tapi pada beberapa momen, melihat dunia yang hadir lewat jendela internet itu sebenarnya bisa membuat saya mengambil jarak dengan segalanya. Dan jika bisa, memukul isi kepala sendiri seraya mengingatkan diri. Tolong jangan seperti Jokowi itu!

Jam di hape menunjukkan 22.32 WIB. Pikiran saya mendadak ingat kasus yang sempat viral itu. Seorang akademisi Indonesia, 463 publikasi, 3,7 juta sitasi, h-index 1.659. Angka yang bikin geleng kepala siapapun yang paham dunia akademik. Ayolah, h-index setinggi itu semestinya cuma dimiliki ilmuwan peraih Nobel atau para ulama klasik jika saya mereka punya akun Google Scholar sendiri. Angka setinggi itu hanya pantas didapatkan oleh Einstein, Hawking, Darwin, al-Thabari, al-Ghazali, atau Imam Suyuti. Daaannn.. the legendary Sugiyono.

Lalu saya iseng cek sendiri. Eh, kok tokoh yang viral ini ternyata nol publikasi di jurnal terindeks Web of Science (WoS). Kebanyakan sitasinya self-citation, hasil upload artikel ala kadarnya ke Academia.edu berkali-kali. Tapi ya namanya sudah terlanjur terkenal. Rekan-rekannya bangga. Kampusnya bangga. Dikti dan Indonesia mungkin juga bangga. #plak

Saya cuma bisa ketawa waktu baca itu. Tapi ketawa saya berhenti begitu saya sadar. Bukankah apa yang saya lakukan dari kekonyolan itu tak ada bedanya? Saya sama beliau cuma beda skala saja.

Saya juga sering cek Google Scholar, berharap ada sitasi yang bertambah. Saya juga pernah diam-diam senang ketika ada yang mengutip tulisan saya, terlepas apakah kutipan itu disematkan buat pemanis daftar pustaka. Terlepas apakah orang itu beneran baca argumen saya. Saya juga sering menulis tidak dengan niatan bahwa ada yang mau saya sampaikan pada dunia. Saya nulis karena ada kolom kosong di laporan administrasi yang harus diisi datanya (nuhun pa Ded).

Oh, pikiran saya ingat pada obrolan dengan seorang kawan hampir dua dasawarsa yang lalu. Tentang kecenderungan yang sama, yang sempat kami ludahi sama-sama. Kecenderungan yang disebut oleh Milan Kundera sebagai “grafomania.”

 

Kesunyian, Waktu Luang, dan Hasrat untuk Didengarkan

Kundera menulis istilah ini ini dalam karyanya, The Book of Laughter and Forgetting, novel yang isinya separuh cerita separuh esai filsafat. Orang gila memang. Ia bilang, “Graphomania is not a mania to write letters, personal diaries, or family chronicles (to write for one’s self or one’s close relations) but a mania to write books (to have public of unknown readers).” Grafomania sebenarnya bukanlah bentuk kemaniakan yang terjadi pada orang yang suka menulis surat, buku harian, atau catatan keluarga. Semua itu belum tentu kena grafomania. Aktivitas semacam itu masih bisa kita katakan normal, masih manusiawi. Ada penerima yang jelas. Ibu, kekasih, mantan yang sudah beranak tiga, atau siapapun itu yang dianggap penting untuk diniatkan sebagai pembaca.

Nah, grafomania beda cerita. Kundera menyebut itu seperti dorongan untuk menulis, entah itu buku, paper, atau naskah lain yang ditujukan ke pembaca yang tak dikenal, orang asing yang bahkan namanya pun kita tak akan pernah tahu. Apa yang dicari oleh penderita grafomania adalah orang-orang yang seperti itu, warga dunia yang mau mendengarkan dirinya bicara.

Oke, harus saya akui bahwa pada titik ini pula ada muncul perasaan malu untuk apa yang saya lakukan. Bisa jadi dalam banyak momen menulis, saya tak pernah berniat buat ngobrol dengan (calon) pembaca ataupun dunia. Bisa jadi saya menulis sebenarnya berangkat dari niat halus untuk riya. Atau paling ga, biar ada yang tahu bahwa saya memang cerdas, banyak ilmunya. Atau biar ada bukti bahwa saya berpikir, biar nama saya nongol di daftar penulis yang dirujuk, dan barangkali dianggap penting. Peduli setan apakah argumen saya dibaca detil atau tidak, yang penting ia disitasi, ia terbit di jurnal bergensi. Yang penting ada yang tahu saya eksis di dunia yang penuh peneliti dan penulis lain yang juga pasti pengin didengar.

Atau bisa jadi ia sebenarnya penyakit yang jauh-jauh hari sudah diramal oleh Kundera? Mbuhlah.. Kundera sih bilang jika fenomena ini sebenarnya cukup banyak syaratnya. Orang paling tidak harus sejahtera dulu, biar orang punya waktu luang untuk aktivitas konyol yang secara ekonomi memang tak jelas untungnya. Lalu harus ada isolasi individu yang tinggi dalam pergaulan sehari-hari. Orang semakin berjarak dengan yang lainnya. Jarang ngobrol sama tetangga. Atau seperti di ruang Gubes, sibuk dengan permainan caturnya aktivitasnya sendiri meski kita bersama. Dan yang terakhir, orang sudah stuck di titik itu. Di titik tak ada perubahan berarti dalam rutinitas hidup, sehingga menulis jadi satu-satunya cara agar hidup ini bergerak ke suatu tempat.

Poin kedua itu yang mungkin paling nempel di saya. Kundera melihat grafomania sebagai gejala orang kesepian di tengah keramaian. Padahal, kampus tempat saya mengajar penuh dengan manusia. Ruang rapat dan kelas penuh suara. Tapi ya tadi, berapa banyak saya merasa benar-benar didengar? Karena itu, suara saya kemudian harus saya alihkan ke kertas, ke jurnal, ke penerbit, ke webblog, ke mana saja yang mau menerima tulisan (suara) yang sumbang ini.

 

Di atas Grafomania…

Saya memang kenal beberapa kolega yang kerjanya submit paper ke jurnal predator, yang review-nya cuma butuh tiga hari dan biayanya bisa dicicil. Saya pernah melakukan itu untuk orang lain, waktu kepepet deadline penambahan kum buat naik jabatan. Ya, bangsatnya, kami sama-sama tahu paper itu ga akan dibaca siapapun, ga bermakna untuk siapapun. Tapi kan yang penting berkas masuk, poin terpenuhi, ada dana reimburse juga yang bisa dicairkan. Bukankah itu yang penting di tengah ketidakwarasan dunia akademik saat ini?

Ada juga rekan yang lebih sibuk cari co-author buat bayarin APC jurnal yang selangit tinggi, ketimbang baca literatur yang mau disitasi. Japri sana sini, atau minta numpang nama, atau nawarin slot penulis kedua, ketiga, sampai ke-duabelas asal mau bayar jerih upayanya. Saya pernah ditawari yang sama dan saya tolak karena memang tak punya duit saja. Entah jika saat itu sedang berlimpah materinya. Alasan yang dikemukakan oleh rekan ini “biar sama-sama untung.” eh, untung buat siapa? untung karena apa?

Tapi ya kampus pun tutup mata juga. Semakin banyak publikasi, nama dan ranking kampus juga melejit tinggi. Kita tutup semua kekonyolan ini dengan istilah yang wah, produktivitas akademik. Padahal ini cuma grafomania yang sudah tak lagi punya nama. Sebab bedanya tipis, mereka yang menderita grafomania di novelnya Kundera cuma butuh validasi. Lha, kita butuh validasi sekaligus angka. Kombinasi maut yang sulit untuk disembuhkan. Ini sudah di atas grafomania…

 

Penulis itu adalah Kita semua

Kundera nulis soal grafomania di era ketika dia merasakan mesin ketik mulai turun harga. Ketika orang kelas menengah Eropa Timur bisa punya alat untuk menuliskan pikiran mereka sendiri. Tapi ya, untuk ukuran zaman itu, hambatan buat “didengar” ini masih lumayan tinggi. Sekarang hambatan itu nyaris nol. Ada terlalu banyak media yang bisa digunakan sebagai ruang untuk menulis dengan warga pembaca yang sudah tersedia juga. Kita hanya perlu buka akun, upload konten, ketik utas, selesai. Kita semua jadi penerbit bagi suara kita sendiri.

Barangkali ini yang bikin grafomania era digital lebih licin dari versinya Kundera. Dulu, penderita grafomania paling banter nulis naskah yang berakhir di laci penerbit, lalu ditolak. Dan selesai di situ. Sekarang, ditolak di sini, tinggal kirim kesana. Tak bisa dipublikasikan sama yang lainnya, tinggal balik kaki ke media sosial yang ngasih ruang sebebasnya. Tinggal upload, lalu biarkan algoritma ngasih kita angka-angkanya. Lalu, seperti ujar Kundera di awal, kita semua bisa berteriak yang sama: “we are all writers!” Penulis itu adalah kita semua!

Kundera bilang wabah grafomania ini punya risiko tersendiri. Ia bisa bikin masyarakat jadi tuli. Ketika semua orang sibuk bersuara (menulis) dan ga ada yang mau dengar (baca) lagi, ya hasilnya seperti sekarang ini. Nah, di era sekarang, budek itu makin parah. Sebab mendengarkan (membaca) menjadi aktivitas yang langka. Kundera ga pernah kasih obat buat grafomania di novelnya. Ia cuma nunjukkin bahwa penyakit ini lahir dari rasa sepi. Sialnya, cara kita untuk mengobati kesepian itu, justru dengan nulis lebih banyak lagi, ngomong lebih keras lagi, cari media publikasi lebih luas lagi.

Lalu saya perlahan menutup layar hape dan mulai memejamkan mata. Grafomania ini rumit seperti kamu. Yang sederhana tetap rindu.

 

Bacaan:

Milan Kundera, The Book of Laughter and Forgetting. Diterjemahkan oleh Aaron Asher. New York: HarperPerennial, 1994.

WhatsApp
Facebook
Email
Print