Oleh: Alif Jabal Kurdi

Memahami Kesarjanaan Organik
Kesarjanaan Organik, atau dalam konsepsi aslinya disebut sebagai organic intellectual, merupakan terminologi yang diintroduksi oleh Antonio Gramsci, filsuf sosial asal Italia, melalui catatan-catatan kritisnya semasa di penjara yang kelak dibukukan sebagai Prison Notebooks. Gramsci berargumen bahwa “semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat”. Dalam kerangka ini, intelektual organik didefinisikan sebagai subjek yang mengaktualisasikan fungsi intelektualnya demi menggerakkan transformasi sosial dari akar rumput.
Lantas, bagaimana relevansi konsep tersebut dengan diskursus kontemporer? Di tengah bentang digital hari ini, Artificial Intelligence (AI) telah bermutasi menjadi instrumen utama yang didesain untuk mempermudah aktivitas manusia, tidak terkecuali dalam proses pedagogis. Namun, jika merefleksikan kembali gagasan Gramsci dan mengomparasikannya dengan realitas empiris di ruang kelas, penetrasi AI dalam lanskap pembelajaran justru sangat rentan tereduksi menjadi alat yang menggagalkan lahirnya para intelektual organik.
Hari ini, mayoritas siswa memanfaatkan AI bukan untuk menginternalisasi teori guna merumuskan solusi atas problem sistemik masyarakat, yang dalam terminologi Gramsci disebut sebagai praxis, melainkan sekadar untuk menggugurkan kewajiban tugas akademik. Belajar tidak lagi dimaknai sebagai ikhtiar emansipatif untuk merekayasa perubahan sosial melalui penelaahan sains. Sebaliknya, pendidikan mengalami komodifikasi; ia dianggap sebagai beban prosedural yang harus dilewati demi meraih kelulusan dan orientasi kerja pragmatis. Proses belajar akhirnya terjebak dalam formalitas administratif belaka.
Reduksi makna belajar tersebut turut mengalienasi manusia dari dimensi eksistensialnya yang paling mendasar, yakni kapasitas untuk berkontemplasi. Hannah Arendt mengonsepsikan dimensi ini sebagai vita contemplativa. Sirnanya kemampuan reflektif dan kontemplatif ini pada gilirannya mengikis kepekaan sosial serta daya kritis manusia, hingga mereka menjelma wujud robotik dari teknologi ciptaan mereka sendiri.
Pada titik inilah, kegelisahan epistemologis Gramsci menemukan momentumnya kembali. Ketika manusia tidak lagi belajar dalam kerangka peremajaan struktur masyarakat, maka gugur pula kelayakan mereka untuk menyandang status sebagai intelektual organik. Dunia kontemporer kita sedang menuju ke arah defisit tersebut, yang dipicu oleh pergeseran paradigma memaknai belajar serta dependensi akut yang berlindung di balik dalih “AI sebagai Instrumen Pembantu”.
AI yang Mengganti, bukan Membantu
Jika kita bersepakat untuk merujuk kembali pada gagasan pendidikan emansipatif Gramsci, atau secara lebih spesifik pada pemikiran Paulo Freire yang membumikan gagasan tersebut ke dalam ranah pedagogi praktis melalui Pedagogy of the Oppressed, maka AI tidak bisa lagi diposisikan sekadar sebagai “asisten” pembelajaran. Realitasnya, AI telah mengokupasi dan menggantikan subjek yang belajar maupun yang diajarkan. Dalam ekosistem yang termediasi penuh oleh teknologi ini, siswa dan guru terancam kehilangan subjektivitasnya.
Siswa tidak lagi dilatih untuk mengonstruksi makna secara personal dari teks yang mereka selami. Mereka kehilangan kepekaan untuk menangkap kekhasan stilistika seorang penulis, serta gagal mencerap alur logika distingtif dari seorang pemikir. Mereka didegradasi menjadi objek pasif yang diposisikan semata-mata untuk menerima transfer pengetahuan mekanis.
Fenomena inilah yang diidentifikasi oleh Freire sebagai Banking Concept of Education (Pendidikan Gaya Bank). Dalam konteks digital, AI bertindak sebagai “depositor super” dan murid bertindak layaknya “celengan” pasif yang menelan pasokan informasi tanpa proses kurasi kritis. Model pendidikan sinkronis semacam ini mematikan orisinalitas rasa ingin tahu dan menjinakkan daya kritis. Bahkan, guru pun berisiko tereduksi menjadi sekadar perpanjangan lidah dari algoritma. Walhasil, AI tidak lagi bisa disebut alat bantu. AI justru berpotensi mendisrupsi dan menggantikan institusi pendidikan sebagai satu-satunya otoritas pengetahuan yang otoritatif.
AI dan Terciptanya Achievement Society
Achievement society (masyarakat pendamba pencapaian) merupakan konsep kunci yang diintroduksi oleh filsuf kontemporer Byung-Chul Han untuk mengilustrasikan patologi masyarakat digital. Han menjelaskan bahwa subjek modern hari ini kerap merasa bebas, padahal mereka sebenarnya sedang terkekang oleh belenggu baru yang ironisnya bernama kebebasan itu sendiri.
Masyarakat kontemporer mengadopsi ritme yang sefrekuensi dengan algoritma; mereka mengagungkan metrik dan kuantifikasi. Ketiadaan batasan sosial tradisional justru mendorong mereka melakukan glorifikasi diri demi meraih rekognisi sosial sebagai pemuasan hasrat eksistensial. Sebagai amatan empiris, hari ini tidak ada otoritas yang mewajibkan seorang individu biasa (bukan atlet) untuk berlari setiap hari dengan target jarak atau kecepatan tertentu. Namun, aktivitas tersebut tetap dilakukan secara masif. Motivasi mereka tidak lagi murni bersumber dari orientasi kesehatan, melainkan didorong oleh platform seperti Strava dan akumulasi angka yang dapat dipamerkan di media sosial sebagai capaian performatif tertinggi.
Fenomena serupa secara eksplisit terjadi dalam lanskap pendidikan kontemporer. Angka dan indikator kuantitatif telah menghegemoni ukuran kesuksesan institusional. Status akreditasi, rerata IPK, produktivitas publikasi, apalagi Scopusisasi, hingga durasi tunggu lulusan mendapatkan pekerjaan telah menjadi parameter tunggal keberhasilan sistem pendidikan. Faktor terakhir disebut juga menunjukkan situasi dan orientasi pendidikan hari ini.
Bahkan, dalam kontestasi geopolitik global yang melibatkan negara-bangsa, tingkat adaptabilitas dan kecepatan mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum diadopsi sebagai instrumen determinan untuk mengukur kemajuan suatu negara. Kendati kolonialisme fisik mutakhir secara vulgar hanya tersisa di kawasan tertentu seperti Timur Tengah, apa yang terjadi di dunia pendidikan global memperlihatkan wujud “perang baru”, perang memperebutkan validasi angka-angka makro tersebut.
Bagi negara yang telah memapankan filosofi pendidikannya secara matang, integrasi AI akan bersifat inovatif dan kontributif terhadap akselerasi pedagogis. Namun, bagi negara yang belum memiliki garis filosofi pedagogis yang jelas, penetrasi teknologi ini justru menjadi anomali yang destruktif. Upaya mengadopsi AI ke dalam kurikulum hanya akan menjadi bom waktu yang meruntuhkan fondasi pendidikan yang sejak awal belum terbangun secara kokoh. Pada akhirnya, pemanfaatan AI terjebak pada komodifikasi visual demi sekadar menghindari stigma ketertinggalan dari tren global.
Gejala makro tersebut menjadi cerminan reflektif atas apa yang terjadi di ruang-ruang kelas kita. Integrasi AI sering kali hanya berfungsi sebagai kosmetik kurikulum. Tidak ada pemahaman komprehensif mengenai bagaimana AI dapat ditempatkan sebagai instrumen komplementer; ia diadopsi semata-mata karena dalih globalisasi. AI dipersepsikan sebagai alat bantu tanpa disertai panduan aplikatif yang berbasis pada kesadaran kritis. Akibatnya, AI menjelma sebilah pisau tajam di tangan balita yang bahkan berbicara saja masih terbata-bata.
Dimana AI Seharusnya Diletakkan?
Pertanyaan krusial yang kemudian menyeruak di tengah puing-puing ancaman ini bukanlah bagaimana kita mengenyahkan AI dari ruang kelas. Tentu, itu sebuah langkah anakronis dan anarkis yang mustahil dan naif. Melainkan, “di mana teknologi ini seharusnya diletakkan dalam alam pikir ideal pedagogi kita?”
Jika kita merajut kembali benang merah dari Gramsci, Freire, Arendt, hingga Byung-Chul Han, AI sama sekali tidak boleh diletakkan pada titik episentrum pembelajaran, apalagi didudukkan di atas takhta otoritas epistemologis sebagai penentu kebenaran tunggal. Dalam arsitektur pedagogis yang membebaskan, AI harus digeser ke posisi periferal, posisi yang memang telah didesain bersamaan dengan awal mula penciptaannya. Mari ingat sekali lagi bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan subjek; ia adalah instrumen mekanis, bukan muara pemikiran.
Ada dua hal yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan krusial di atas. Pertama, demi menjaga vita contemplativa, AI harus diisolasi semata-mata pada fungsi kerja mekanis (labor). AI idealnya dialokasikan untuk mengurus efisiensi administratif, kalkulasi dan pengolahan data mentah, atau perancangan struktur teknis yang selama ini menyita energi kognitif manusia. Kehadiran AI diposisikan untuk “membersihkan kebisingan prosedural” agar manusia, baik guru maupun siswa, kembali mendapatkan jeda, keheningan, dan waktu untuk berkontemplasi, mengasah empati, serta mempertajam kepekaan sosialnya. AI ada demi menyediakan ruang kontemplasi manusia yang lebih leluasa, bukan justru mengokupasi momen reflektif tersebut.
Kedua, dalam kerangka pedagogi ala Freire, AI diletakkan bukan sebagai “depositor super” tempat siswa menenggak jawaban instan, melainkan sebagai batu uji (sparring partner) dialektis. Di ruang kelas ideal, siswa tidak mendatangi AI untuk meminta jawaban mutlak atas suatu problem, melainkan untuk menginterogasi narasi yang diproduksi oleh algoritma tersebut. Guru dan murid bersama-sama membongkar bias, mendeteksi perspektif kelas yang tereliminasi, serta melacak orientasi ideologis di balik teks otomatis yang dihasilkan AI. Di sini, AI justru diubah menjadi pemantik kesadaran kritis.
Ketiga, dalam perspektif kontra-hegemoni Gramscian, AI diperlakukan sebagai artefak politik yang harus selalu didemistifikasi. Calon intelektual organik tidak boleh silau oleh ilusi bahwa AI adalah teknologi netral. Mereka harus diajar untuk menguasai mekanisme operasinya, memahami logika algoritmiknya, lalu merebut teknologi tersebut demi menyuarakan narasi tandingan dari kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan oleh sistem. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa respons yang diproduksi AI sangat mungkin merupakan data yang tersedia secara hegemonik, data yang paling banyak didaur ulang dan diyakini “paling benar”. Ini juga sekaligus mengindikasikan betapa penerimaan pasrah (taken for granted) pada AI akan berkonsekuensi pada pengultusan narasi pengetahuan tunggal.
Pada akhirnya, menempatkan AI secara proporsional berarti mengembalikan hakikat pendidikan sebagai proses humanisasi—sebuah upaya memanusiakan manusia. AI boleh saja memiliki kapasitas untuk memproses jutaan data dalam sekejap mata, tetapi ia tidak akan pernah memiliki monopoli atas rasa sakit, kegelisahan sosial, kerinduan akan keadilan, dan keberanian moral untuk mengubah dunia.
Hanya ketika AI dikembalikan ke pinggiran lanskap pembelajaran, sebagai instrumen komplementer yang melayani daya pikir manusia, ruang pedagogis kita dapat kembali menjadi laboratorium yang subur bagi lahirnya para intelektual organik. Jika tidak, kita hanya sedang memfasilitasi lahirnya generasi yang mahir mengeksekusi instruksi algoritma, tetapi asing dan bisu di hadapan penderitaan zamannya.
Apabila kultur pendidikan yang superfisial dan mekanis ini terus dipertahankan, maka ekspektasi akan lahirnya generasi intelektual organik yang mampu mengaktualisasikan visi “Emas 2045” niscaya sekedar utopia. Pada titik terjauhnya, kita mungkin hanya bisa pasrah dan berdoa semoga para siswa kelak cukup kenyang dengan makanan di atas piring aluminiumnya.
Daftar Bacaan
Arendt, H. (1958). The human condition. The University of Chicago Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed (M. B. Ramos, Trans.). Continuum.
Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks (Q. Hoare & G. N. Smith, Eds. & Trans.). International Publishers.
Han, B.-C. (2015). The burnout society. Stanford University Press.
Han, B.-C. (2017). Psychopolitics: Neoliberalism and new technologies of power. Verso.