HERMENEUTIKA MIR’AT AT-TAWĀRIKH

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah [20]

 

Pagi ini, ketika menyiapkan tulisan ini, saya dikejutkan oleh sebuah ketelitian. Ketelitian merangkai kata. Ketelitian menyusun alur.

Yang saya baca bukan sembarang teks. Ini teks ke-19 dan 20 dari Muqaddimah Qanūn Asāsī, kitab fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama yang ditulis oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Begitu saya teliti polanya, māsyāAllāh, ini jenius sekali!

Mbah Hasyim ternyata bukan cuma ulama besar, tapi juga seorang “arsitek narasi” kelas wahid. Beliau menyusun naskah itu tidak asal tulis. Ada pola matematika yang begitu presisi di dalamnya.

Coba Anda lihat susunannya:

Teks 1 & 2: Pembuka yang gagah. Tentang organisasi ideal yang diberkahi Tangan Allah (yadullāh ma‘a al-jamā‘ah). Syaratnya empat: ijtimā‘ (berkumpul), ta‘āruf (saling kenal), ittiād (bersatu), dan ta’āluf (saling mencintai).

Teks 3 s.d. 8 (6 Teks): Mbah Hasyim menghantam kita dengan pentingnya persatuan.

Teks 9 & 10 (2 Teks Sejarah): Masuklah narasi sejarah. Keberhasilan Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah.

Teks 12 & 13 (Tengah-Tengah): Ini kuncinya! Mbah Hasyim menyelipkan filosofi min kulli syay’in sababa—sebab akibat (Surah Al-Kahfi: 84). Lalu disambung dengan filosofi sapu lidi yang sangat membumi: bersatu teguh, bercerai runtuh.

Teks 14 s.d. 18 (6 Teks): Gantian. Beliau menguliti habis-habisan soal bahaya perpecahan.

Teks 19 dan 20 (2 Teks Sejarah Lagi): Penutup yang menghentakkan kesadaran. Sejarah dihadirkan kembali sebagai pamungkas.

Lihat simetrisnya!

6 teks tentang persatuan -> 2 teks sejarah -> Prinsip Sebab-Akibat -> 6 teks tentang perpecahan -> 2 teks sejarah.

Rapi sekali. Berimbang.

Kenapa sejarah selalu dijadikan penutup dan penyimpul?

Di sinilah letak kearifan Mbah Hasyim. Beliau tahu betul tabiat manusia. Teori persatuan dan ancaman perpecahan itu bisa jadi cuma dianggap “angin lalu” atau dogmatisme belaka kalau tidak diberi bukti konkret. Nah, bukti konkret itu ada di mana? Di sejarah!

Tapi tunggu dulu.

Mbah Hasyim tidak sedang mengajak kita “mabuk sejarah”. Beliau tidak menyuruh kita bernostalgia sambil menepuk dada, “Lihatlah betapa hebatnya umat Islam zaman dulu!” atau “lihat mbah-mbah sayalah yang dahulu membangun organisasi ini, maka wahyu pulungnya jatuh ke saya”

Bukan. Sama sekali bukan.

Sejarah yang dihadirkan Mbah Hasyim adalah sejarah yang fungsional. Sejarah sebagai bukti Hukum Sebab-Akibat (sababa).

Kalau kamu mau bersatu (sebab), kamu akan jaya seperti Madinah (akibat). Kalau kamu bercerai-berai (sebab), kamu akan hancur runtuh seperti bangsa-bangsa di masa lalu (akibat).

Simple. Clear. Tanpa basa-basi.

Rupanya, seabad lebih lalu Mbah Hasyim sudah menyadari apa yang ditakutkan oleh para filsuf modern: jangan sampai sejarah cuma jadi bahan dongeng sebelum tidur. Sejarah harus jadi Cermin Sebab-Akibat untuk bertindak hari ini.

Membaca pola naskah ini, saya jadi tertegun. Mbah Hasyim tidak hanya menasehati kita untuk belajar dari sejarah, tapi juga mewanti-wanti agar kita tidak mabuk sejarah.

 

Membaca Cepat Teks ke-19 dan 20

Teksnya seperti ini:

وَبِالْجُمْلَةِ، فَمَنْ نَظَرَ فِي مِرْآةِ التَّوَارِيخِ وَتَصَفَّحَ غَيْرَ قَلِيلٍ مِنْ أَحْوَالِ الْأُمَمِ، وَتَقَلُّبَاتِ الدُّهُورِ وَمَا حَصَلَ لَهَا إِلَى هَذَا الدُّثُورِ، رَأَى أَنَّ عِزَّهَا الَّذِي كَانَتْ مَغْمُوسَةً فِيهِ، وَفَخْرَهَا الَّذِي تَلَفَّعَتْ بِحَوَاشِيهِ، وَمَجْدَهَا الَّذِي تَقَنَّعَتْ بِهِ وَتَحَلَّتْ بِسِرْبَالِهِ، إِنَّمَا هُوَ ثَمَرَةُ مَا تَعَلَّقَتْ بِهِ وَتَمَسَّكَتْ بِأَذْيَالِهِ؛ مِنْ أَنَّهُمْ قَدِ اتَّحَدَتْ أَهْوَاؤُهُمْ، وَاجْتَمَعَتْ كَلِمَتُهُمْ، وَاتَّفَقَتْ وِجْهَتُهُمْ، وَتَوَاطَأَتْ أَفْكَارُهُمْ. فَكَانَ هَذَا أَقْوَى عَامِلٍ فِي إِعْلَاءِ سَطْوَتِهِمْ، وَأَكْبَرَ نَصِيرٍ فِي نُصْرَتِهِمْ، وَحِصْنًا حَصِينًا فِي حِفْظِ شَوْكَتِهِمْ وَسَلَامَةِ مَذْهَبِهِمْ.

Siapa saja yang mau pasang mata di depan cermin sejarah—lalu mau repot membedah rekam jejak bangsa-bangsa, memetakan pasang surutnya zaman, sampai menguliti kenapa mereka bisa hancur lebur jadi debu—dia pasti akan melihat satu kebenaran telanjang.

Kebenaran apa?

Bahwa seluruh kejayaan yang dulu bikin mereka mandi kemewahan, seluruh kebanggaan yang menyelimuti pundak mereka, serta segala keagungan yang jadi jubah dan mahkota kebesaran mereka … semua itu cuma buah manis dari satu hal!

Yaitu dari apa yang mereka pegang teguh dan perjuangkan mati-matian: persatuan.

Mereka bersatu karena cita-cita mereka menyatu. Kata dan narasi mereka padu. Arah pandang mereka sama. Pikiran dan gagasan mereka saling mengunci, tidak jalan sendiri-sendiri.

Nah!

Empat keterikatan itulah yang jadi mesin paling perkasa untuk mendongkrak wibawa dan kekuatan mereka. Jadi penolong terbesar saat mereka terdesak. Dan jadi benteng paling kokoh untuk menjaga pengaruh, wibawa, serta keselamatan prinsip hidup mereka.

Panjang sekali. Ya, ini memang 2 teks: teks ke-19 dan teks 20.

Tenang saja, saya akan ringkas agar mudah dipahami. Mudah-mudahan!

Membaca kalimat itu, Anda seperti diseret ke depan cermin raksasa. Cermin kuno. Namanya keren: Mir’āt at-Tawārīkh. Cermin Sejarah.

Bukan cermin biasa. Ini cermin ajaib yang bisa memperlihatkan jejak peradaban.

Coba Anda berdiri di depannya. Lalu intip perlahan. Apa yang kelihatan?

Bangsa-bangsa hebat. Kerajaan-kerajaan raksasa. Dulu, mereka megah luar biasa. Selendang kebanggaan melilit di tubuh mereka. Pakaian kebesarannya menyilaukan mata. Topeng keagungannya membuat siapa saja tertunduk segan. Kenikmatan? Jangan ditanya. Melimpah ruah.

Tapi lihat lagi lebih dekat.

Ke mana mereka sekarang?

Punah. Hancur. Hilang ditelan bumi. Tinggal puing dan cerita di buku pustaka.

Kenapa bisa begitu?

Di sinilah intinya. Kalimat tadi menyebut sebuah kunci emas: amaratu mā ta‘allaqat bih. Buah dari apa yang mereka pegang teguh.

Sederhana sekali. Tapi dalam.

Kejayaan bangsa itu bukan hadiah dari langit. Bukan ujug-ujug ada. Kejayaan adalah buah. Hasil panen. Dari apa? Dari prinsip yang mereka pegang teguh. Dari nilai-nilai mulia yang mereka ikuti sampai ke ujung jubahnya (tamassakat bi adzyālihi).

Sewaktu bangsa-bangsa itu memegang teguh keadilan, kerja keras, keilmuan, dan kebersamaan—mereka naik ke puncak. Jaya. Disegani.

Namun, ketika pegangan itu lepas? Ketika nilai-nilai itu diganti dengan keserakahan, kemanjaan, dan pertikaian internal?

Cermin sejarah tak pernah bohong: “mereka yang bertikai pasti roboh”.

Hukum sejarah itu dingin. Tanpa kompromi. Siapa yang konsisten memegang prinsip mulia, dia yang naik kelas. Siapa yang abai, siap-siap masuk keranjang sampah sejarah.

Pelajaran buat kita hari ini? Banyak sekali.

Kita sering kagum pada kebesaran masa lalu. Atau iri pada kejayaan bangsa lain hari ini. Padahal resepnya sama saja sejak ribuan tahun lalu. Tinggal tanya pada diri sendiri: nilai apa yang sedang kita pegang teguh hari ini?

Sebab, apa yang kita pegang erat-erat sekarang, itulah yang akan menentukan: apakah kita sedang merajut selendang kebanggaan masa depan, atau justru sedang menggali lubang kehancuran kita sendiri.

Begitulah cermin sejarah bekerja. Selalu jujur. Kadang menyakitkan.

 

Jangan Mabuk Sejarah!

Teks 19 dimulai dengan kalimat: Wa bil-jumlati, faman naara fī mir’āt-it-tawārīkhi …

Artinya kira-kira begini: “Singkat kata, siapa saja yang mematut diri di depan cermin sejarah …”

Kalimat itu berhenti di situ. Menggantung. Tapi justru di situlah enaknya. Kita diajak meneruskan sendiri. Mau dibawa ke mana cermin itu?

Mayoritas orang tua atau guru sejarah kita pasti langsung menyambung kalimat itu dengan nada normatif: “…maka ia akan menjadi bijak.” Atau, “…maka ia tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu.”

Bagus. Mulia sekali.

Tapi tunggu dulu.

Mari kita bawa kalimat itu ke ruang kerjanya Friedrich Nietzsche—si filsuf Jerman berkumis tebal yang pikirannya suka bikin kepala pusing tapi nagih itu. Tahun 1874, Nietzsche menulis risalah kondang: Vom Nutzen und Nachtheil der Historie für das Leben (Kegunaan dan Kerugian Sejarah Bagi Kehidupan).

Nietzsche tidak serta-merta mengagumi orang yang rajin menatap mir’āt at-tawārīkh (cermin sejarah). Bagi Nietzsche, terlalu lama menatap cermin sejarah justru bisa bikin manusia mabuk. Dalam istilah kerennya: Historische Krankheit—penyakit sejarah.

Bayangkan Anda berdiri di depan cermin seharian. Apa yang terjadi?

Anda tidak jadi kerja.

Anda makin narsis atau malah makin minder.

Anda lupa kalau kehidupan nyata ada di luar kamar, bukan di dalam pantulan kaca.

Itulah mabuk sejarah.

 

Tiga Jenis Manusia di Depan Cermin

Nietzsche membagi cara manusia menatap cermin sejarah itu jadi tiga tipe. Dan ini menarik sekali kalau kita pakaikan ke frasa faman naara fī mir’āt-it-tawārīkhi tadi:

Pertama, Tipe Monumental (Si Pencari Pahlawan). Dia menatap cermin sejarah cuma buat cari kebanggaan masa lalu. “Dulu peradaban Islam kita punya Wali Songo!” atau “Dulu kita organisasi terbesar!” Efek sampingnya? Dia lupa bikin karya baru hari ini. Dia cuma hidup dari kejayaan orang mati.

Kedua, Tipe Antikuaris (Si Pengumpul Fosil). Dia menatap cermin sejarah dengan sangat detail. Semua barang tua disembah. Tradisi lama tidak boleh diubah sedikit pun, meski sudah tidak relevan. Efeknya? Hidup dirinya sendiri stagnan. Bau apek. Takut berubah.

Ketiga, Tipe Kritis (Si Pemegang Palu). Nah, ini yang disukai Nietzsche—tapi paling berbahaya. Dia menatap cermin sejarah, lalu menghancurkan apa yang merusak masa kini. Dia berani bilang: “Masa lalu itu ada salahnya, dan kita harus lepas dari cengkeramannya!”

Jadi, Mau Buka Cermin atau Buka Jalan?

Kalau kita cuma “menatap” (Naara) tanpa punya daya hidup (Lebenskraft), cermin sejarah itu cuma bakal jadi tempat kita meratap atau membanggakan diri secara buta. Kita jadi umat atau jama’ah yang mabuk sejarah—pikirannya melayang ke abad ke-14, tapi kakinya tersandung batu di abad ke-21.

Nietzsche mengingatkan kita: “Sejarah itu harus melayani kehidupan, bukan kehidupan yang dikorbankan demi sejarah”. Cermin itu perlu. Bermanfaat. Tapi cukup dilirik sesekali untuk membetulkan kerah baju. Setelah itu? Palingkan wajah dari cermin. Buka pintu. Jalan keluar.

Sebab, sejarah yang sebenarnya tidak ada di dalam cermin. Sejarah itu diciptakan oleh langkah kaki kita hari ini.

Apa yang harus dilakukan agar tidak mabuk sejarah?

 

Tahap Pertama Hermeneutika Sejarah: Naara dan Taaffaha

Bercermin pada sejarah itu bukan untuk meratapi “kenapa kita sekarang begini”, atau menyombongkan “dulu kita begitu”.

Saya menemukan dua konsep kunci pada teks ke-19 ini. Mari kita lihat satu persatu.

Pertama, dua kata tentang metode Naara dan Taaffaha.

Wa bil-jumlati, faman naara fī mir’āt-it-tawārīkhi wa taaffaha ghaira qalīlin min awāl-il-umami, wa taqallubāt-id-duhūri wa mā aala lahā ilā hāżā-d-duūri

“Siapa yang naara Cermin sejarah, lalu melakukan taaffaha terhadap obyek sejarah”. Sederhananya bisa diartikan seperti itu.

Taaffaha punya kedudukan kunci. Kalau kata Naara (melihat) baru sebatas “membuka cermin”, maka Taaffaha adalah aksi membedah promotes-nya. Membalik-balik lembaran. Memeriksa detail.

Kata dasarnya adalah afaha—yang secara fisik berarti halaman, muka, atau lembaran. Begitu berubah jadi bentuk tafa‘‘ala (menjadi taaffaha), maknanya bergeser drastis. Taaffaha itu bukan sekadar melirik atau membaca judul berita (headline). Lebih dari itu: “membalik halaman demi halaman dengan teliti, tekun, dan penuh perenungan.”

Kalau di era digital sekarang, Naara itu seperti Anda melintas (scrolling) di feed TikTok atau Instagram. Cuma lewat. Tampak sekilas.

Taaffaha itu seperti Anda mengeklik tautan artikelnya, membaca dari baris pertama sampai akhir, membedah datanya, lalu memikirkan implikasinya.

Bercermin pada sejarah tanpa proses taaffaha itu berbahaya. Itu yang bikin orang gampang “mabuk sejarah”. Baru baca satu kutipan di medsos, langsung merasa paham seluruh dinasti. Baru dengar satu cerita kejayaan masa lalu, langsung jumawa.

Taaffaha menuntut kita masuk ke dalam perpustakaan masa lalu, membongkar debunya, dan membaca detailnya.

Tapi obyek taaffaha-nya jangan hanya sedikit (ghaira qalīlin).

Kenapa objek yang dibaca harus ghaira qalīlin? Kenapa harus banyak rekam jejak bangsa yang dipelajari?

Sederhana. Ini soal validitas.

Dalam metodologi penelitian modern, kalau Anda cuma riset pakai sampel satu atau dua kejadian, kesimpulannya pasti bias. Error-nya besar.

Kalau Anda cuma baca sejarah ‘satu bangsa’ yang berjaya, Anda bisa salah sangka. Anda kira mereka sukses karena warna kulitnya, atau karena faktor geografisnya saja.

Tapi kalau Anda membedah ‘banyak bangsa’ (ghaira qalīlin)—mulai dari Romawi, Persia, Abbasiyah, Majapahit, sampai Dinasti Ming—barulah kelihatan benang merahnya!

Nah, kalau kita bedah teks di atas, apa saja sih yang sebenarnya jadi objek penderita dari aksi Taaffaha (meneliti/membolak-balik) itu?

Ternyata ada 3 Objek Utama. Tiga hal inilah yang dibongkar habis-habisan oleh si pengamat sejarah:

Pertama, Awāl-il-Umam. Rekam Jejak Dinamika Bangsa-Bangsa

Objek pertama yang dibolak-balik adalah rekam jejak atau kondisi sosial-politik bangsa-bangsa masa lalu.

Peneliti sejarah tidak cuma melihat satu negara, tapi ghaira qalīlin—banyak bangsa! Bagaimana kultur mereka? Bagaimana cara mereka memimpin? Bagaimana pola hubungan antarwarga negaranya?

Ini ibarat analisis corporate culture atau budaya organisasi. Si pengamat melihat gaya hidup, kebiasaan, dan fondasi moral dari berbagai peradaban yang pernah ada di muka bumi.

Kedua, Taqallubāt-id-Duhūr. Pasang Surut Gelombang Zaman. Objek kedua ini menarik sekali: dinamika perputaran waktu. Duhūr (zaman) itu tidak pernah datar. Dia selalu bergejolak (taqallub). Ada fase krisis, ada fase rebound, ada fase booming, ada fase resesi.

Dengan membolak-balik lembaran ini, si pengamat mempelajari pola siklus. Sejarah itu berulang. Naik-turunnya suatu peradaban itu punya siklus yang rasional. Orang yang melakukan taaffaha pada gelombang zaman tidak akan kaget kalau situasi hari ini mendadak krisis, karena dia tahu rumus recovery-nya seperti apa.

Ketiga, aala lahā ilā hāżā-d-Duūr. Anatomi Kehancuran hingga Punah. Ini objek ketiga yang paling krusial: proses dan titik akhir kehancuran.

Duūr itu artinya punah, hancur, atau lebur jadi debu. Si pengamat tidak cuma melihat masa-masa indahnya saja. Dia meneliti sampai ke akar-akarnya: kenapa kok kerajaan sesuperpower itu bisa runtuh? Apa variabel penyebabnya? Apakah karena korupsi internal? Karena perpecahan? Atau karena terlena oleh kenyamanan?

Ini ibarat studi kasus post-mortem dalam dunia bisnis. Belajar dari kegagalan orang lain supaya kita tidak mengulangi kebangkrutan yang sama.

Setelah ketiga objek itu dibedah, barulah masuk ke tahap berikutnya: RA’Ā (menemukan kesadaran) bahwa semua kemegahan itu ujung-ujungnya punya SATU KUNCI UTAMA yaitu persatuan.

 

Tahap kedua Hermeneutika Sejarah: Ra’ā yang Menemukan Kesadaran

Setelah capek membongkar lemari masa lalu (naara) dan teliti membedah tumpukan berkas dari berbagai bangsa (taaffaha ghaira qalīl), sampailah si pengamat pada satu titik pencerahan: ra’ā, ia melihat.

Eits, tunggu dulu. Melihat di sini bukan sekadar mata melirik atau menonton bioskop.

Dalam bahasa Arab, ra’ā setelah proses riset yang panjang itu artinya melihat dengan mata hati, mengerti hakikat, atau menemukan momen “Aha!”. Kesadaran yang jernih. Eureka!

Lalu, apa sebetulnya yang ditemukan (ra’ā) oleh orang yang sudah repot-repot membedah sejarah itu?

Ternyata, dia tidak cuma melihat puing-puing bangunan tua atau nama-nama raja yang sudah mati. Ada tiga lapis penemuan yang ditangkap oleh matanya

Lapis pertama, bungkus luar yang menyilaukan (‘Izz, Fakhr, Majd). Penemuan pertama yang dilihat oleh matanya adalah bungkus luar kejayaan suatu bangsa. Teks ini menggambarkannya dengan sangat puitis, hampir seperti peragaan busana mewah:

  1. ‘Izzah yang Maghmūsah: Kejayaan tempat mereka “tenggelam/tercelup” di dalamnya. Ibarat orang yang mandi uang dan kenikmatan.
  2. Fakhr yang Talaffa‘at bi-awāsyīhi: Kebanggaan yang “selendangnya melilit” tubuh mereka. Penuh percaya diri dan prestise.
  3. Majd yang Taqanna‘at bihi wa Taallat bi-Sirbālihi: Keagungan yang jadi “topeng, perhiasan, dan jubah kebesaran” mereka.

Orang awam kalau melihat sejarah cuma berhenti di lapis pertama ini. Cuma terpana sama indahnya jubah, mewahnya istana, dan hebatnya nama besar. Tapi pengamat yang ra’a-nya tajam tidak akan berhenti di bungkusan.

Dia mau melihat apa isi di dalam jubah mewah itu.

Lapis kedua: Hukum Sebab-Akibat (Innamā Huwa Tsamratu…). Di sinilah letak penemuan paling mendasar: Kejayaan itu bukan hadiah gratis dari langit! Si pengamat melihat (ra’ā) bahwa semua kemewahan, kebanggaan, dan keagungan di lapis pertama tadi hanyalah buah (amrah).

Ini temuan logika yang telak. Kalau ada buah yang manis dan lebat, pasti ada pohon dan akarnya. Tidak ada sejarah kejayaan yang lahir dari kebetulan. Ada hukum sebab-akibat yang sangat ketat (causal law) di dalam sejarah peradaban.

Mari kita lihat teksnya:

Innamā huwa amratu mā ta‘allaqat bihi wa tamassakat bi adzyālihi …

Artinya: “Sesungguhnya (semua kemegahan itu) hanyalah buah dari apa yang mereka gantungkan/kaitkan kepadanya (ta‘allaqat) dan apa yang mereka pegang teguh hingga ke ujung-ujungnya (tamassakat bi adzyālih).”

Kenapa Mbah Hasyim harus pakai dua kata kerja bergandengan: Ta‘allaqat lalu disusul Tamassakat?

Ini bukan pemborosan kata. Ini adalah dua tahapan sikap psikologis dan aksi nyata suatu bangsa yang ingin meraih kejayaan. Mari kita kupas satu per satu.

Pertama, Ta’allaqat, Tahap Komitmen Hati dan Keterikatan Pikiran. Kata ta‘allaqa itu akar katanya sama dengan ‘alāqah (keterikatan, gantungan, atau sesuatu yang menempel erat). Ta‘allaqat di sini adalah proses awal ketika suatu bangsa memiliki keterikatan batin dan orientasi hidup pada nilai-nilai persatuan.

Sebelum ada aksi fisik, pikiran dan hati rakyatnya harus “tersambung” dulu. Hatinya kepikiran visi bangsa. Pikirannya tidak bisanya cuma mencaci, tapi mencari solusi bersama. Ada kebanggaan bersama (collective pride) dan cita-cita bersama (shared vision).

Kalau rakyat suatu negara tidak punya taallaqat, alias hatinya tidak terikat pada consensus bersama, maka bangsa itu cuma jadi kumpulan individu yang sibuk dengan urusan perutnya sendiri-sendiri. Tidak punya ‘ruh’ persatuan.

Ta‘allaqat itu ibarat jangkar yang ditancapkan di dalam dada.

Kedua, Tamassakat bi Adzyālih, Tahap Aksi Nyata dan Konsistensi Tanpa Kompromi. Nah, punya keterikatan batin (taallaqat) saja ternyata tidak cukup! Itu baru niat. Baru dorongan moral. Makanya, teks itu menyambungnya dengan kata: Tamassakat (memegang teguh). Bahkan tidak cuma tamassakat biasa, tapi ditambah kalimat puitis yang dahsyat: bi adzyālihi—sampai ke ujung-ujung selendangnya!

Artinya apa? Mereka memegang prinsip persatuan itu sampai ke detail-detail terkecilnya. Tidak setengah-setengah. Tidak cuma di bibir. Tidak cuma pas ada upacara bendera, tapi konsisten dijalankan dalam kebijakan publik, sistem hukum, dan kehidupan sehari-hari.

Kalau ada godaan untuk memecah belah demi kepentingan pemilu atau muktamar? Mereka tidak mau lepas pegangan.

Kalau ada gesekan antarkelompok? Mereka pegang erat-erat ujung persatuan itu supaya tidak koyak.

Tamassakat adalah aspek eksekusi, kedisiplinan, dan ketahanan (grit) dalam menjaga persatuan.

Taallaqat dan Tamassakat adalah Kombinasi Maut: Niat Baja + Eksekusi Konsisten. Coba bayangkan kalau salah satu dari dua kata ini hilang:

Punya Taallaqat tapi tanpa Tamassakat: Bangsanya cuma jago berwacana. Bikin jargon persatuan di mana-mana, tapi begitu ada konflik sosial sedikit langsung pecah. Omon-omon alias Omdo.

Punya Tamassakat tapi tanpa Taallaqat: Persatuannya dipaksakan dari luar (otoriter). Rakyatnya bersatu karena takut diintimidasi, bukan karena hatinya terikat pada visi bersama. Begitu rejimnya runtuh, bangsanya bubar.

Teks ini mau berpesan dengan sangat lugas: Buah kejayaan (amrah) yang dinikmati bangsa-bangsa besar di masa lalu itu tidak mendadak jatuh dari langit. Buah itu tumbuh dari pohon persatuan yang akarnya ditancapkan lewat ta‘allaqat (keterikatan visi) dan batangnya dipeluk erat lewat tamassakat (konsistensi aksi).

Kalau hari ini kita ingin memetik buah manis bernama kejayaan, pertanyaannya sederhana: Apakah hati kita masih ta‘allaqat (terikat) pada cita-cita bersama? Dan apakah pegangan kita pada persatuan masih tamassakat (kuat sampai ke ujung-ujungnya), atau malah kita sendiri yang sedang sibuk menggunting selendang persatuan itu?

Lapis Ketiga, Inti Mesin Kejayaan (4 Pilar Persatuan). Inilah grand prize-nya. Penemuan puncak dari kata ra’ā. Si pengamat menemukan bahwa akar dari seluruh buah kejayaan itu—akar yang dipegang teguh sampai ke ujung-ujungnya (tamassakat bi adzyālihi)—adalah Empat Pilar Ketahanan Ummat:

  1. Ittaadul Ahwā’: Cita-cita dan hasrat dasar mereka menyatu. Tidak ada yang tarik-menarik ke kepentingan kelompok kecil.
  2. Ijtimā‘ul Kalimāt: Narasi publik dan kesepakatan mereka padu. Satu komando, satu bahasa perjuangan.
  3. Ittifāqul Wijhāt: Arah kiblat pembangunan dan tujuan nasionalnya sama. Tidak plintat-plintut ganti pimpinan ganti arah.
  4. Tawāthu’ul Afkār: Gagasan dan pikiran para elit serta rakyatnya saling mengisi, bukan saling menjatuhkan atau saling membodohi.

Jadi, apa yang ditemukan (ra’ā) oleh orang yang mau pasang mata di depan cermin sejarah?

Dia menemukan rumus keselamatan.

Dia melihat bahwa ketika empat pilar persatuan itu berdiri, bangsa tersebut otomatis punya tiga hal luar biasa: mesin penakluk yang perkasa (aqwā ‘āmilin fī I‘lā’i sathwatihim), penolong terbaik di kala krisis (akbaru naīrin), dan benteng pertahanan kokoh (hinan haīnan) yang menjaga kedaulatan serta prinsip hidup mereka.

Mata ra’ā tidak lagi melihat sejarah sebagai kenangan masa lalu, tapi melihatnya sebagai Peta Jalan (Roadmap) Masa Depan.

Siapa yang punya empat pilar itu hari ini, dialah yang akan memetik buah kejayaan esok hari. Sederhana. Tapi dahsyat!

 

Refleksi Tongkat dan Tasbih

Siapa yang tidak tahu kisah tongkat dan tasbih Kyai Kholil Bangkalan?

Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), itu kisah legendaris. Sakral. Penuh karamah. Tongkat dan tasbih yang diutus lewat KH As’ad Syamsul Arifin kepada KH Hasyim Asy‘ari itulah yang jadi penanda spiritual berdirinya jam‘iyah terbesar di Indonesia ini.

Setiap perayaan ultah NU—apalagi pas momen Harlah dan Muktamar—kisah ini diulang lagi. Dibaca lagi. Ditangisi lagi. Didengungkan dari panggung ke panggung.

Indah? Sangat indah. Romantik? Banget.

Tapi, tunggu dulu.

Mari kita agak nakal sedikit. Bagaimana kalau tradisi memutar ulang kisah tongkat-tasbih ini ditaruh di atas meja bedahnya hermeneutika mir’at at-tawārikh ini?

Mir’at at-tawārikh telah mewanti-wanti: “sejarah yang dipuja secara berlebihan bisa jadi racun”. Salah membaca sejarah efek sampingnya fatal. Matinya Lebenskraft (daya hidup).

Kalau NU terus-menerus memposisikan kisah tongkat dan tasbih hanya sebagai alat romantisasi kejayaan masa lalu, NU sedang berada dalam bahaya mabuk sejarah.

Orang yang mabuk itu gejalanya sama: jalannya menyamping, tidak bisa maju; suka mengoceh soal kehebatan masa lalu; takut menghadapi tantangan hari ini karena merasa “zaman sekarang sudah tidak se-berkah zaman dulu”.

Tongkat dan tasbih itu dulunya adalah simbol aksi dan keberanian. Tongkat itu simbol kepemimpinan; tasbih itu simbol kesadaran spiritual yang bergerak. Tapi kalau hari ini tongkat dan tasbih cuma jadi legenda nina-bobo, dia berubah fungsi dari pemicu gerak menjadi obat tidur.

Nah, sekarang mari kita ajak Michel Foucault masuk ke arena analisa ini. Foucault punya teori kondang soal Power/Knowledge (Kekuasaan/Pengetahuan) dan Genealogi. Bagi Foucault, cara sebuah lembaga menceritakan sejarahnya itu tidak pernah netral. Sejarah sering kali dikonstruksi untuk memelihara status quo dan relasi kuasa.

Dalam kacamata Foucault, bahaya pengulangan narasi tongkat-tasbih yang dominan adalah terjadinya domestikasi wacana. Gampangnya begini: Setiap kali ada anak muda NU yang kritis, mau melakukan reformasi radikal, atau mempertanyakan kebijakan elit organisasi, narasi sejarah sakral langsung dikeluarkan. “Kalian itu siapa? Jangan aneh-aneh! NU ini didirikan pakai istikharah para wali, pakai petunjuk tongkat dan tasbih Kyai Kholil!”

Jleg! Mati angin.

Mitos dan sejarah sakral akhirnya dipakai sebagai “alat penjinak” (disciplinary power) untuk membungkam daya kritis. Sejarah dijadikan tembok tebal yang melarang orang berpikir melompat. Seolah-olah, menghormati pendiri organisasi harus dibayar dengan cara mematikan inovasi masa depan.

Mir’at at-tawārikh ingin sejarah harus melayani kehidupan hari ini, bukan kehidupan hari ini yang dikorbankan untuk memuja sejarah.

Kiai Hasyim Asy‘ari dan Kiai Wahab Chasbullah dulu adalah para pembaharu (innovator) di zamannya. Mereka tidak cuma duduk memegang tasbih, tapi bikin organisasi modern, bikin koran, bikin gerakan ekonomi (Nahdlatut Tujjar), dan bikin gerakan pemikiran (Taswirul Afkar). Mereka menggunakan “tongkat” untuk menuntun zamannya maju, bukan untuk memukul anak muda yang mau melangkah lebih cepat. Maka, masalahnya bukan pada tongkat dan tasbih Kyai Kholil-nya. Sama sekali bukan. Masalahnya ada pada cara kita memperlakukannya.

Kalau tongkat dan tasbih itu cuma dijadikan cermin narsistik untuk bilang “Dulu pendiri kita hebat”, kita sedang keracunan sejarah. Tapi kalau kisah itu dibaca dengan kacamata kritis untuk bertanya: “Tongkat dan tasbih macam apa yang dibutuhkan NU di era kecerdasan buatan, tantangan ekonomi geopolitik, dan perubahan iklim hari ini?”—barulah kita sehat. Lakukan taaffaha dan ra’ā, tongkat dan tasbih hanya permukaan, ada tiga lapisan lain yang menunggu untuk disingkap.

Cukuplah bercermin pada tongkat dan tasbih itu sebentar saja untuk membetulkan niat. Setelah itu, taruh tasbihnya, pegang tongkatnya, lalu mulailah berlari dan memukul siapapun yang merusak persatuan.

Sebab, zaman tidak pernah menunggu orang yang sibuk mengagumi cermin.