Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [12]

Oleh: Bambang Q. Anees

 

Muqaddimah [12]

 

TEKS #12
FILOSOFI SAPU LIDI

 

Hari ini kta membaca teks ke-12. Bukan ayat al-Quran yang dikutip, tapi bait syair Arab kuno (mungkin karya penyair Al-Mu’ammal bin Amil Muharibi).

Setelah pada teks-teks sebelumnya beliau membombardir kita dengan dalil teologis yang berat, hukum alam yang makro, hingga catatan sejarah penaklukan imperium dunia, di teks kedua belas ini beliau mendadak melunak. Beliau memilih jalur yang tidak biasa untuk sebuah dokumen organisasi. Sastra. Puisi.

Isinya sebuah pesan hangat, personal, sekaligus magis dari seorang ayah kepada anak-anaknya di meja makan.

: فَلِلَّهِ دَرُّ مَنْ قَالَ، وَأَحْسَنَ فِي الْمَقَالِ

كُونُوا جَمِيعًا يَا بُنَيَّ إِذَا عَرَا * خَطْبٌ، وَلَا تَتَفَرَّقُوا اَحَادَا

تَأْبَى الْقِدَاحُ إِذَا اجْتَمَعْنَ تَكَسُّرًا * وَإِذَا افْتَرَقْنَ تَكَسَّرَتْ أَفْرَادَا

Duhai anak-anakku, berkumpullah bersama, Jika badai ujian datang melanda.

Janganlah kalian bercerai-berai, Berjalan sendiri hingga terkulai.

Ingatlah anak panah yang disatukan, Enggan patah walau ditekan.

Namun bila ia terpisah-pisah, Satu demi satu kan patah dengan mudah.

Itulah teks kedua belas. Sebuah penutup argumen yang tidak lagi menggunakan dalil teologis atau catatan sejarah penaklukan dunia.

Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari memilih cara lain yang lebih menyentuh batin: puisi. Sastra. Beliau meminjam bait syair Arab kuno yang berbentuk pesan mendalam dari seorang ayah kepada anak-anaknya.

Pesan yang terasa sangat personal, hangat, sekaligus penuh peringatan.

Saat Badai Masalah Datang Melanda

Kata kunci pertamanya adalah Jamī‘an. Bersatu padu. Si ayah pada puisi ini sedang berbisik, “Tetaplah berada di dalam kebersamaan. Jangan pernah berpikir untuk memisahkan diri dari barisan.”

Kapan perintah jamī‘an ini menjadi mutlak? Terutama ketika terjadi ‘Arā. Yaitu sebuah situasi gawat yang datangnya tiba-tiba, berbentuk Khathbun—masalah besar, urusan yang sangat berat, atau perkara penting yang membutuhkan perhatian serta energi serius.

Sang ayah dalam puisi itu mafhum betul: hidup ini tidak pernah datar. Hidup ini penuh dengan dinamika dan kejutan yang melelahkan. Suatu saat, badai masalah (khathbun) pasti akan datang mengetuk pintu keluarga atau organisasi kita. Itu keniscayaan.

Kata kunci kedua yang dipakai dalam syair itu adalah ‘Arā dan Khathbun. Urusan yang sangat berat. Masalah raksasa yang datangnya tiba-tiba, yang langsung menguras energi dan emosi.

Penyair itu—dan tentu saja Hadratusy Syaikh—paham betul filsafat hidup: ketenangan itu hanyalah jeda di antara dua badai. Hidup tidak pernah datar. Organisasi, korporasi, maupun negara, suatu saat pasti akan didatangi oleh badai masalah (khatbun). Itu adalah kepastian ontologis.

Dalam filsafat organisasi kontemporer, kita mengenal konsep Organizational Resilience (Resiliensi Organisasi). Karl Weick, seorang teoretikus organisasi terkenal, pernah membedah bagaimana sebuah sistem sosial bereaksi ketika menghadapi shock atau kejutan krisis.

Ketika badai datang, respons psikologis bawaan manusia purba kita biasanya adalah fight or flight—pilihannya kalau tidak melawan ya melarikan diri. Celakanya, dalam organisasi modern, ketika krisis melanda, egoisme sering kali menjadi kaptennya. Banyak orang memilih opsi flight: menyelamatkan diri masing-masing. Mencari selamat sendiri, melompat dari kapal yang dikira mau tenggelam, atau malah saling menyalahkan di dalam barisan.

Nah, ketika momen kritis itu tiba, sang ayah mewanti-wanti dengan sangat keras: Lā tatafarraqū aādā. Jangan bercerai-berai secara individual. Jangan sok jagoan menghadapi masalah sendirian tanpa dukungan orang lain.

Egoisme adalah musuh terbesar saat krisis melanda. Ada kalanya, ketika organisasi atau keluarga didera masalah, sebagian orang justru memilih untuk menyelamatkan diri masing-masing. Menjauh dari barisan. Keluar dari wadah.

Puisi ini mengingatkan kita bahwa tindakan melarikan diri seperti itu adalah awal dari malapetaka yang sesungguhnya. Menghadapi masalah besar sendirian tanpa ekosistem pendukung hanya akan membuat mental kita cepat runtuh dan lelah.

Filsafat Sapu Lidi dan Teori Emergence

Masuklah kita pada bait kedua yang menjadi puncak estetika teks ini. Metafora tentang Al-Qidā. Anak panah polos dari bambu.

Di Nusantara, kita tidak asing dengan ini. Kita menyebutnya filosofi “Sapu Lidi”. Sederhana, tapi dalam.

Mari kita praktikkan filsafat ini. Ambil sebatang lidi di halaman. Hanya satu batang. Lidi itu rapuh. Anda bisa mematahkannya menjadi dua bagian hanya dengan menggunakan dua jari tangan kiri Anda. Sambil merem pun bisa. Sekali petik, patah. Selesai.

Namun, ikatlah seratus batang lidi yang rapuh tadi menjadi satu kesatuan yang erat menggunakan tali yang kuat. Lalu, silakan kerahkan seluruh otot lengan Anda untuk mematahkannya sekaligus. Anda tidak akan pernah bisa.

“Nak,” demikian kira-kira pesan sang ayah yang luhur itu jika diterjemahkan dalam obrolan di meja makan kita hari ini. “Jangan pernah merasa sok kuat sendirian. Jangan biarkan dirimu terpisah dari barisan. Kalau kamu menjauh dari keluarga atau teman-temanmu saat ada masalah, kamu akan menjadi sangat lemah. Kamu akan menjadi seperti sebatang lidi yang gampang dipatahkan oleh kerasnya keadaan, atau mudah dihancurkan oleh musuh-musuhmu.”

Kekuatan itu, mutlak adanya di dalam kebersamaan.

Dengan bersatu, dengan saling memberikan dukungan batin, dan saling menguatkan pundak satu sama lain, beban seberat apa pun yang menggelayuti organisasi atau keluarga akan terasa jauh lebih ringan. Kita tidak akan mudah hancur oleh gempuran dari luar.

Mengapa Kumpulan Hal Rapuh Menjadi Kuat?

Secara filsafat organisasi, fenomena sapu lidi ini menjelaskan konsep Holism (Holisme) dan Emergence Theory (Teori Kemunculan dalam Sistem). Aristoteles ribuan tahun lalu sudah merumuskannya dengan kalimat pendek: “The whole is greater than the sum of its parts”—keseluruhan itu nilainya jauh lebih besar daripada sekadar penjumlahan komponen-komponennya.

Ketika lidi-lidi itu berkumpul dan diikat, terjadi perubahan sifat yang radikal. Mereka tidak lagi berdiri sebagai individu yang rapuh. Mereka saling mengunci (interlocking). Mereka saling menopang (cross-buffering).

Kekuatan raksasa yang menolak untuk patah (Ta’bā) itu muncul bukan karena lidinya mendadak berubah menjadi besi. Lidinya tetaplah bambu atau kayu tipis yang sama. Yang berubah adalah strukturnya. Yang melahirkan kekuatan adalah hubungannya.

Di sinilah letak kejeniusan filsafat organisasi Hadratusy Syaikh. Beliau sadar, manusia-manusia yang berkumpul di dalam organisasi—termasuk di Nahdlatul Ulama—bukanlah kumpulan malaikat atau manusia super. Isinya adalah manusia biasa yang penuh keterbatasan, penuh cacat, dan rapuh jika berdiri sendiri. Kita semua ini hanyalah “sebatang lidi”.

Namun, begitu lidi-lidi rapuh ini diikat oleh visi yang sama, dipersatukan oleh irtibāth al-qulūb (keterikatan hati yang tulus), ikatan itu memunculkan entitas baru yang kebal terhadap patah, sekeras apa pun badai zaman mencoba menghantamnya.

Merawat Ikatan di Era Atomisasi 2026

Sekarang, mari kita bawa puisi kuno ini ke atas meja realitas kita di tahun 2026 ini.

Zaman kita hari ini adalah zaman atomisasi sosial yang akut. Era digital dan algoritma media sosial telah mendesain manusia untuk menjadi makhluk yang sangat individualis. Kita merasa bisa hidup sendiri hanya dengan sebuah ponsel di dalam kamar. Kita merasa tidak butuh orang lain karena semua kebutuhan bisa dipesan lewat aplikasi.

Ini ilusi yang berbahaya. Individualisme yang kebablasan membuat manusia modern menjadi sangat rapuh secara mental. Kita menjadi sebatang lidi yang kesepian di tengah keramaian. Begitu dihantam badai masalah sedikit saja—entah krisis ekonomi, tekanan kerja, atau perundungan siber—kita langsung patah dan stres.

Dalam filsafat tata kelola modern, Peter Drucker pernah mengeluarkan kutipan legendaris: “Culture eats strategy for breakfast.” Budaya organisasi itu jauh lebih menentukan ketimbang kertas-kertas strategi di atas meja.

Irtibāth Al-Qulūb Sebagai Perekat Budaya

Budaya organisasi yang kokoh tidak dibangun dengan aturan hukum yang kaku, melainkan dengan ikatan batin. Lagi-lagi Hadratusy syaikh menekankan pentingnya ta’āluf.

Ketika badai krisis melanda organisasi kita hari ini—entah itu konflik internal kepengurusan, fitnah yang berseliweran di media sosial, atau penurunan kinerja—resep dari teks kedua belas ini adalah satu-satunya obat: rapatkan barisan. Jangan berpencaran.

Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari sengaja menaruh filosofi anak panah ini menjadi bagian Muqaddimah Qanūn Asāsī agar kita semua senantiasa mawas diri. Organisasi Nahdlatul Ulama, atau organisasi apa pun yang kita pimpin hari ini, isinya adalah manusia-manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. Kita semua ini seperti anak panah yang tipis atau sebatang lidi yang rapuh.

Tapi begitu kita diikat oleh visi yang sama, diikat oleh irtibāth al-qulūb (keterikatan hati) yang tulus, maka kita tidak akan bisa dipatahkan oleh badai zaman sekencang apa pun.

Maka, ketika badai ujian itu datang menerpa barisan kita—entah itu berupa krisis ekonomi, konflik internal, atau fitnah yang berseliweran di media sosial—ingatlah selalu pesan sang ayah ini: rapatkan barisan. Jangan berpencaran.

Sebab, serigala hanya akan menerkam domba yang nekat memisahkan diri dari rombongannya. Dan nasib sebatang lidi yang sendirian, hanyalah menunggu waktu untuk patah dan dibuang ke tempat sampah sejarah.

Jangan tiru tabiat domba yang nekat memisahkan diri dari rombongan demi memuaskan egonya.

Serigala keadaan sudah menganga, siap menerkam siapa saja yang berjalan sendirian.

Ngeri!!!