Oleh: Bambang Q. Anees
![Serial MUQADDIMAH QĀNŪN ASĀSĪ [3]](https://valuesinstitute.id/wp-content/uploads/2026/07/WhatsApp-Image-2026-07-06-at-10.38.15-1024x538.jpeg)
TEKS# 3
Tiga Kunci, Tiga Larangan
Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari ini memang luar biasa. Cara beliau menyusun argumen itu runtut sekali. Logis. Tertata. Kelasnya bukan sekadar kiai tradisional, melainkan pemikir strategis tingkat tinggi.
Setelah dalam teks sebelumnya beliau bicara soal pentingnya berjamaah dan bahayanya memencilkan diri—lewat metafora kambing dan serigala—beliau tidak berhenti di situ. Beliau membawa kita menyelam lebih dalam lagi.
Kali ini, beliau mengeluarkan “senjata” berikutnya. Sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim dari jalur Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:
اِنَّ اللهَ يَرْضَى لَـكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَـكُمْ اَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلاَ تَشْرِكُوْابِهِ شَيْئًا
وَاَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَتَفَرَّقُوْا، وَاَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلاَهُ اللهُ اَمْرَكُمْ.
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَاِضَاعَةَ الْمَالِ.
“Sesungguhnya Allah menyukai tiga perkara yang dengannya Allah meridai kalian: (1) hendaknya kalian menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; (2) hendaknya kalian berpegang teguh kepada tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai; dan (3) hendaknya kalian saling memberikan nasihat dengan orang yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kamu. Dan Allah membenci kalian yang mengatakan sesuatu yang tak jelas sumbernya, banyak bertanya (tanpa tujuan), dan menyia-nyiakan harta benda.”
Ini teks yang dahsyat.
Kalau kita bedah dengan kacamata modern, hadis ini adalah panduan terlengkap tentang Sistem Manajemen Organisasi. Di satu sisi, ia memberikan tiga kunci emas untuk membangun organisasi yang sehat dan kokoh. Di sisi lain, ia memberikan tiga peringatan keras tentang racun yang bisa membuat organisasi sebesar apa pun hancur berantakan.
Mari kita bedah tiga kunci suksesnya dulu lewat pendekatan Teori Perilaku Organisasi (Organizational Behavior).
Tiga Kunci Emas: Niat, Kohesi, dan Komunikasi Dua Arah
1 – Kunci Pertama: An ta‘budūh wa la tusyrikū bih syay-a. “Menyembah Allah, jangan menduakan-Nya”
Apa urusannya tauhid dengan organisasi?
Ini soal orientasi terkecil di dalam otak manusia. Dalam Teori Perilaku Organisasi, ini disebut dengan Goal Alignment (Penyelarasan Tujuan) dan Shared Vision (Visi Bersama). Kumpulan orang belum tentu bisa disebut organisasi kalau masing-masing anggotanya punya agenda tersembunyi (hidden agenda). Di sini, Hadratusy Syaikh mengingatkan: bersihkan niat. Jangan berorganisasi di NU karena ingin cari pujian manusia. Jangan karena ingin cari panggung politik, apalagi keuntungan finansial pribadi.
Jadikan kerja di organisasi sebagai ibadah. Pengabdian total kepada Tuhan.
Secara psikologis, ketika goal alignment semua anggota sudah dikunci pada satu titik tertinggi—yaitu pengabdian kepada Tuhan—maka ego sektoral akan luruh. Organisasi tidak akan mudah pecah hanya karena urusan pembagian “kue” yang tidak merata.
2 – Kunci Kedua: An ta‘tashimū bi-ḥablillah jamī‘a wa lā tafarraqū. “Berpegang teguhlah pada tali Allah, jangan bercerai-berai”
Dalam ilmu manajemen, inilah yang dinamakan Group Cohesiveness (Kohesivitas Kelompok). Seberapa kuat daya rekat antar-anggota di dalam sebuah tim.
Ḥablullah (tali Allah) adalah aturan main objektif yang mengikat semua orang tanpa pandang bulu. Kunci kedua ini mengajarkan kita untuk selalu fokus pada kesamaan misi, bukan pada perbedaan persepsi. Jika ada konflik internal—dan konflik itu pasti ada di organisasi mana pun—penyelesaiannya harus kembali ke aturan dasar yang disepakati (rule of game). Bukan malah bikin faksi, kubu-kubuan, atau kasak-kusuk di belakang. Tingkat kohesivitas yang tinggi, yang berbasis pada nilai-nilai luhur, akan membuat organisasi memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan eksternal.
3 – Kunci ketiga: Tanāshaḥū man walāhullāh amrakum. “Saling memberi nasihat kepada pemimpin”
Ini poin yang sangat modern. Rasulullah sudah mengantisipasi ribuan tahun lalu: bagaimana kalau pemimpinnya keliru? Namanya juga manusia, bukan malaikat. Pemimpin pasti punya blind spot (titik buta). Dalam perilaku organisasi kontemporer, inilah yang disebut dengan voice behavior atau saluran upward communication (komunikasi ke atas) yang sehat. Organisasi yang hebat wajib menciptakan ruang yang aman secara psikologis (psychological safety), ketika anggota boleh memberikan masukan kepada atasannya.
Tapi ingat, kata yang dipakai adalah nasihat, yang akar katanya berarti memurnikan atau membersihkan. Tujuannya adalah memperbaiki sistem dan menyelamatkan pemimpin dari kesalahan, bukan untuk mempermalukan, menjatuhkan, atau melakukan pembunuhan karakter di depan publik. Hubungannya harus tulus, berbasis rasa saling percaya (mutual trust).
Tiga Racun Perusak Organisasi
Setelah memberikan tiga pilar kekuatan, hadis tersebut langsung menyodorkan tiga larangan yang dibenci Allah. Dalam dunia korporasi atau organisasi modern, tiga hal ini adalah disruptive behaviors (perilaku disruptif) yang bertindak sebagai sel kanker. Dia menggerogoti dari dalam secara pelan tapi mematikan.
Mari kita lihat satu per satu!
1 – Racun Pertama: Qīla wa qāla. “Katanya dan katanya. Rumor. Gosip. Hoaks”
Dalam sosiologi organisasi, ini dikenal dengan istilah buruk: the grapevine effect (efek desas-desus) yang tidak terkendali. Ini adalah musuh nomor satu dari transparansi. Informasi yang tidak jelas asal-muasalnya, berseliweran di grup-grup WhatsApp, lalu ditelan mentah-mentah. “Katanya si A begini”, “Katanya si B begitu”.
Ini racun yang paling cepat merusak organizational trust (rasa saling percaya). Sekali rasa percaya itu hilang, runtuhlah seluruh bangunan organisasi. Di dalam organisasi yang sehat, budaya gosip harus dipotong dengan sistem tabayyun—atau dalam istilah audit manajemen disebut data verification and fact-checking. Nilai sesuatu berdasarkan matriks data yang objektif, bukan berdasarkan “katanya”.
2 – Racun Kedua: Katsratul su’aal. “Banyak bertanya tanpa arah”
Lho, bukankah bertanya itu ciri orang kritis? Bukankah itu bagus untuk inovasi? Betul. Tapi yang dimaksud di sini adalah bertanya dalam konteks dysfunctional conflict. Bertanya hanya untuk mendebat hal-hal teknis yang sudah diputuskan, mencari-cari celah kesalahan orang lain, atau sekadar pamer kepintaran retorika.
Dalam teori manajemen, penyakit ini menghasilkan apa yang disebut analysis paralysis—lumpuh karena kebanyakan analisis. Kebanyakan rapat, kebanyakan seminar, perdebatan kusir tidak ada ujungnya, tapi aksi nyatanya nol besar. Energi organisasi habis di ruang sidang, sementara umat di bawah tidak terurus. Capek di omongan, miskin di tindakan.
3 – Racun Ketiga: Iḍā‘ah al-māl. “Menyia-nyiakan harta atau sumber daya”
Jangan salah kaprah. Mal atau harta organisasi itu bukan cuma uang yang ada di dalam brankas kasir atau rekening bank. Dalam konsep manajemen modern, resource (sumber daya) itu meliputi: Waktu, Energi, Fasilitas, dan Social Capital (Modal Sosial). Mengadakan rapat berjam-jam tanpa menghasilkan keputusan konkret? Itu iḍā‘ah al-māl—buang-buang waktu.
Menggunakan fasilitas organisasi untuk kepentingan faksi atau pribadi? Itu iḍā‘ah al-māl—korupsi skala kecil. Dan yang paling parah: menghabiskan energi emosional para anggota untuk bertengkar memperebutkan posisi di internal organisasi? Itu adalah pemborosan modal sosial yang luar biasa berdosa.
Semua sumber daya yang dimiliki organisasi harus dialokasikan secara efisien (Resource Optimization) demi satu hal saja: “mencapai Visi Bersama yang sudah digariskan di awal”.
Refleksi
Jadi, rumusnya sebenarnya sudah lengkap sekali. Sangat matematis. Tiga kekuatan harus digenggam erat-erat, tiga racun harus dibuang jauh-jauh ke tempat sampah.
Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari sudah meletakkan fondasi manajemen organisasi yang begitu kokoh, ilmiah, sekaligus bernilai teologis tinggi sejak tahun 1926. Konsepnya sangat simpel, mudah dihafal oleh santri mana pun.
Tapi ya itu dia. Masalah terbesar dalam ilmu perilaku organisasi bukanlah pada seberapa canggih teorinya disusun di atas kertas. Masalah terbesarnya adalah: Konsistensi Eksekusi.
Apakah kita hari ini masih memegang tiga kunci emas itu?
Gunakan semua sumber daya yang ada untuk satu hal saja: mencapai tujuan besar organisasi.
Jadi, rumusnya sudah lengkap sekali. Tiga kekuatan harus dipegang, tiga racun harus dibuang.
Simpel, kan?
Praktiknya yang harus konsisten!