Oleh: Bambang Q. Anees

TEKS #2:
CO-INITIATING, LEPASKAN SERIGALA EGOMU!
Hari ini mari kita baca teks kedua:
يَدُاللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فَاِذَاشَذَّالشَّاذُّ مِنْهُمْ اِخْتَطَفَتْهُ الشَّيْطَانُ كَمَايَخْتَطِفُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ
Yadullāh ma‘a al-jamā‘ah fa-idza syażża asy-syażżu minhum ikhtaṭafat-hu asy-syayṭān ka-mā yakhtaṭifu aż–żi’bu min al-ghanam
“Tangan Allah bersama jamaah. Apabila di antara jamaah itu ada yang memencilkan diri, maka setan pun akan menerkamnya. Seperti halnya serigala menerkam kambing.”
Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari rupanya tidak mau tanggung-tanggung. Setelah beliau menyodorkan menu pembuka yang begitu indah tentang pentingnya Ijtimā‘ (berkumpul), Ta‘āruf (saling mengenal), Ittiḥād (bersatu), dan Ta’āluf (berkasih-sayang), beliau langsung mengeluarkan jurus simpanannya.
Teks kedua dari Muqaddimah Qanūn Asāsī ini seperti pukulan telak. Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW yang sangat tegas, bahkan cenderung ngeri kalau dibayangkan: “Setan pun akan menerkam orang yang memencilkan diri!”.
Metafornya sangat visual. Sangat gampang dibayangkan oleh otak kita yang sederhana ini.
Ada seekor kambing. Dia merasa badannya paling kekar. Jalannya paling cepat. Bulunya paling lebat. Karena merasa hebat, dia emoh jalan bareng kawanannya. Dia memilih memisahkan diri, mojok sendirian di lebatnya hutan. Apa yang terjadi kemudian? Anda sudah tahu jawabannya. Selesai. Tamat. Serigala tidak perlu rapat berhari-hari untuk menyusun strategi. Cukup sekali lompat, kambing yang sok mandiri itu langsung diterkam tanpa ampun. Robek. Habis.
Begitulah kita, manusia.
Saat kita sendirian, kita ini sebenarnya rapuh sekali. Ringkih. Ego kita mudah sekali diserang oleh penyakit-penyakit psikologis: rasa malas, ketakutan yang tidak rasional, atau kesombongan yang semu.
Tapi, begitu kita melebur—menjadi jamaah, menjadi komunitas—kita mendadak punya tameng bernama perlindungan bersama. Kita mendapatkan energi kolektif yang jauh lebih besar. Itulah cara Allah menjaga kita agar tetap selamat sampai ke tujuan.
Tangan Allah dan Intelijen Setan
Sekarang kita perhatikan frasa ini: “Yadullāh“—Tangan Allah. Dahsyat sekali.
Apa maknanya? Itu adalah simbol pertolongan. Berkah. Backing-an langsung dari Penguasa Semesta. Pesan tersiratnya sangat sederhana: saat Anda bergabung dalam sebuah kelompok yang tujuannya baik, Anda tidak sedang berjuang sendirian. Anda berada dalam radar lindungan Tuhan. Organisasi atau komunitas yang kompak adalah tempat di mana pertolongan Allah paling mudah dirasakan. Kenapa? Karena di sana ada sistem saling jaga. Ada social safety net. Ada mekanisme saling bantu antar-anggota.
Lalu, apa itu “setan” dan “serigala” dalam konteks modern?
Jangan hanya membayangkan mereka sebagai sosok makhluk halus yang bermata merah dan bertanduk. Bukan. Itu terlalu kuno. Dalam bahasa manajemen organisasi modern, setan itu adalah bisikan ego kita sendiri.
Saat Anda memilih sendirian, menjauh dari jamaah, Anda akan mulai terserang penyakit star syndrome. Mulai berpikir yang aneh-aneh: “Ah, saya kan lebih pintar dari ketua.” Atau, “Organisasi ini jalannya lambat, lebih baik saya jalan sendiri.” Atau, “Saya tidak butuh masukan dari siapa pun”.
Nah! Saat pikiran itu muncul di kepala Anda, persis di detik itulah Anda sebenarnya sedang “diterkam”. Anda kehilangan perspektif yang jernih karena tidak ada lagi teman yang berani menjewer telinga Anda saat Anda salah. Anda terjebak dalam prasangka, kesombongan, atau bahkan keputusasaan yang tidak perlu.
Bahaya “Kambing Memencil” Di Era Modern
Mari kita bawa teks abad ke-20 ini ke realitas abad ke-21. Di zaman algoritma medsos dan dunia siber sekarang, “kambing yang memisahkan diri” justru jumlahnya makin banyak. Mereka merasa merdeka di balik layar gawai, padahal sedang menuju jurang diterkam serigala modern.
Lihatlah kasus-kasus hari ini.
Pertama, fenomena radikalisme Lone Wolf. Ini contoh paling ekstrem dari kambing yang memencilkan diri. Anak-anak muda yang merasa tidak puas dengan lingkungan sosialnya, mengurung diri di kamar. Mereka keluar dari jamaah dunia nyata yang sehat, lalu masuk ke ruang gema (echo chamber) di internet sendirian.
Tanpa ada kontrol dari kiai, guru, orang tua, atau komunitas yang waras, mereka disergap oleh “serigala” ideologi ekstrem. Mereka dicuci otaknya lewat algoritma. Akhirnya? Mereka melakukan tindakan nekat yang menghancurkan masa depan sendiri dan orang lain. Mereka mengira sedang berjihad, padahal mereka hanya sedang dikunyah oleh ego dan manipulasi global.
Kedua, krisis kesehatan mental akibat isolasi sosial. Banyak profesional muda saat ini yang menganut paham individualisme akut. Hubungan dengan tetangga? Nol. Ikut jam‘iyah NU tingkat RT? Malas. Ikut kerja bakti? Ogah. Mereka merasa bisa hidup sendiri karena punya uang dan teknologi.
Tapi apa yang terjadi saat badai hidup datang? Saat bisnisnya jatuh atau hubungan asmaranya kandas? Karena tidak punya jamaah sebagai tumpuan, mereka diterkam oleh “serigala” yang bernama depresi, kecemasan akut (anxiety), hingga berujung pada keputusan tragis bunuh diri. Mereka rapuh karena tidak ada tangan-tangan komunitas yang merangkul mereka saat terjatuh.
Ketiga, hancurnya gerakan sosial karena ego sektoral. Di dunia korporasi atau politik, kita sering melihat orang-orang pintar yang merasa “terlalu hebat” untuk sebuah tim. Mereka keluar, bikin faksi sendiri, atau memisahkan diri karena urusan pembagian kue yang dianggap kurang adil.
Hasilnya bisa ditebak: gerakan mereka yang awalnya besar menjadi kerdil, lalu gampang digembosi oleh rival atau kompetitor (sang serigala pasar). Sesuatu yang besar kalau dipecah-pecah akan menjadi remah-remah yang mudah disapu.
Mengerumuni Kebaikan
Kesimpulan dari tulisan ini sudah sangat benderang.
Kita ini butuh komunitas. Kita butuh jamaah. Dan dalam konteks sejarah kita, kita butuh NU yang bergerak sesuai khitah Muqaddimah-nya. Kita butuh berkumpul bukan hanya untuk urusan menyelesaikan target kerja, mencari makan, atau menang pemilu. Lebih dari itu, untuk menjaga kewarasan kita sebagai manusia. Menjaga integritas moral kita.
Sendirian, kita mungkin merasa bebas. Merasa menjadi elang yang terbang merdeka. Tapi sejatinya, di bawah sana, serigala ego dan tantangan zaman sudah siap mencabik-cabik kita.
Bersama komunitas yang sehat, kita bisa saling “mengerumuni” dalam kebaikan. Saling mengingatkan saat keliru, saling memeluk saat berduka, dan saling menguatkan saat lelah. Lantas, tidak ada lagi ruang sekecil apa pun bagi serigala ego untuk masuk dan merusak tujuan mulia yang sudah digagas oleh para ulama terdahulu.
Jadi, setelah membaca ini, pilihannya kembali ke diri Anda masing-masing: masih mau mempertahankan gengsi lalu jadi kambing yang menyendiri di tengah hutan?
Saran saya: cepat-cepatlah kembali ke kawanan. Hangatnya jamaah itu jauh lebih menyelamatkan daripada dinginnya kesendirian yang menipu.
Catatan Akhir
Tulisan ini sengaja saya buat bersambung. Biar tidak capek membacanya. Juga biar meresapnya pelan-pelan. Dunia modern ini aneh. Orang makin pintar, teknologi makin canggih, tapi mencari organisasi yang solidnya minta ampun itu susahnya setengah mati. Kenapa?
Ya itu tadi. Kita ini sering terjebak pada formalitas.
Kita merasa sudah berorganisasi kalau sudah bikin grup WhatsApp. Kita merasa sudah berkomunitas kalau sudah rajin pasang foto bersama di Instagram. Padahal, itu baru sampai huruf A. Baru Ijtimā‘. Baru kumpul fisiknya saja. Lalu kita buru-buru loncat ke huruf C. Bikin aturan kerja, bikin target bulanan, bikin visi-misi yang mentereng (Ittiḥād). Kita lupa ada huruf B (Ta‘āruf) dan huruf D (Ta’āluf). Kita lupa memanusiakan manusia di dalam organisasi itu sendiri.
Efeknya?
Organisasi kita jadi dingin. Isinya orang-orang yang saling curiga. Kerja kalau cuma ada bos. Begitu ada masalah sedikit, langsung baper. Langsung pecah. Langsung memisahkan diri seperti kambing yang keluar dari kawanan.
Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari itu visioner luar biasa. Beliau mendirikan NU bukan dengan modal nekat. Tapi dengan cetak biru (bersama para kiai lain) yang fondasinya kokoh sekali: matematika batin bernama A + B + C + D.
Ketemu dulu (Ijtimā‘). Saling kenal luar-dalam (Ta‘āruf). Satukan visi dan langkah (Ittiḥād). Lalu ikat dengan rasa sayang dan nyaman (Ta’āluf). Kalau empat ini jalan, “Tangan Allah” yang bekerja. Berkahnya turun. Organisasinya mandiri, anggotanya waras, tujuannya tercapai.
Zaman boleh berubah menjadi serba digital di tahun 2026 ini. Tapi rumus manusia tidak pernah berubah. Kita tetap makhluk sosial yang butuh jamaah. Butuh kehangatan batin. Jadi, coba cek lagi organisasi Anda. Cek lagi perusahaan Anda. Atau cek lagi komunitas Anda.
Sudah sampai huruf apa?
Jangan-jangan, selama ini Anda baru sekadar “absen harian” tapi jiwanya kesepian di tengah kerumunan. Kan kasihan.
Hati-hati ada setan dan serigala yang sedang mengintaimu!