Oleh: Bambang Q. Anees

Peradaban tidak pernah runtuh karena kekurangan uang atau teknologi; ia hancur berkeping-keping justru ketika keputusan-keputusan krusialnya diserahkan kepada sekumpulan morosophers. Inilah yang dapat disimpulkan dari Hukum ke-5 Cipolla yang menyatakan secara gamblang: “Orang bodoh adalah tipe orang yang paling berbahaya yang pernah ada.”
Carlo M. Cipolla, seorang sejarawan ekonomi asal Italia, menulis esai satir ilmiah, The Basic Laws of Human Stupidity (1976), tentang bahayanya orang bodoh. Tentu Ahmad Khan dan Afghani tidak membaca karya Cipolla; Khan dan Afghani bahkan sudah meninggal pada saat Cipolla lahir. Tapi Khan dan Afghani begitu kuatir umat Islam akan dipenuhi orang-orang bodoh, karena itu pembaharuan Islam dilakukan dengan bertumpu pada berpikir kritis.
Kuadran Cipolla
Kembali pada Cipolla. Pemikir yang satu ini cukup kocak, ia membagi tindakan manusia ke dalam empat kuadran berdasarkan keuntungan (gains) dan kerugian (losses) yang ditimbulkan. Empat kuadran itu adalah Orang Cerdas (Intelligent), Bandit atau Penjahat (Bandits), Orang Naif (Helpless/Unfortunate), dan Orang Bodoh (Stupid). Empat kuadran ini merupakan Hukum ke-3 dari Cipolla, yakni “Orang bodoh adalah orang yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau sekelompok orang, sedangkan dirinya sendiri tidak memperoleh keuntungan dan bahkan mungkin mengalami kerugian dari tindakannya itu”.
Mari kita lihat keempat tipe yang dikemukakan Cipolla. Pertama, Orang Cerdas (Intelligent) itu punya ciri tindakannya menguntungkan diri sendiri sekaligus menguntungkan orang lain. Kedua, Seorang Bandit (Bandits) itu cirinya tindakannya menguntungkan diri sendiri dengan cara merugikan orang lain. Ketiga, orang Naif (Helpless/Unfortunate) itu tindakannya menguntungkan orang lain tetapi merugikan diri sendiri. Lalu Keempat, Orang Bodoh (Stupid) punya ciri tindakannya menyebabkan “kerugian bagi orang lain atau kelompok tanpa mendatangkan keuntungan apapun bagi dirinya sendiri, bahkan justru bisa ikut merugikan dirinya sendiri.”
Kocaknya Cipolla adalah saat menyatakan bahwa orang bodoh itu orang bodoh adalah tipe orang yang paling berbahaya yang pernah ada (hukum ke-5). Kalau kamu berhadapan dengan penjahat (bandit), tindakan mereka itu “jahat tapi rasional”. Mereka mencurangi sistem atau merugikan orang lain demi cuan, popularitas, atau keuntungan pribadi. Karena mereka punya tujuan yang jelas, gerakannya masih bisa dibaca, ditebak, dan diantisipasi. Tapi orang bodoh? Mereka membuat keputusan yang menghancurkan sistem, merusak pertemanan, atau bikin kegaduhan tanpa mereka dapat keuntungan materiil atau reputasi apapun. Mereka merusak cuma-cuma, tanpa pamrih, bahkan tindakan mereka sering bikin diri mereka sendiri ikut rugi.
Orang bodoh itu berbahaya karena mereka mengalami thoughtlessness (kematian fungsi berpikir kritis). Mereka tidak pernah meluangkan waktu untuk log out sejenak dan berpikir: “Apakah tindakan gue ini bakal merugikan orang lain?” Mereka cuma bergerak instingtif mengikuti emosi jangka pendek, asal share hoaks tanpa verifikasi, atau mematuhi perintah atasan/sistem secara buta kayak robot. Karena orang bodoh tidak memakai nalar, daya rusak yang dihasilkannya tanpa batas. Kejahatan itu ada batasnya—yaitu ketika tujuan terpenuhi. Tapi kehancuran yang dibawa oleh orang bodoh itu tidak ada batasnya karena mereka beroperasi di luar logika untung-rugi. Orang bodoh adalah tipe manusia yang bisa membakar seluruh rumah hanya untuk menangkap seekor nyamuk.
Ketika nalar kritis (ʿaql) menguap dan institusi strategis bertransformasi menjadi pabrik kedunguan fungsional yang merasa paling bijaksana (morosophy), maka “bodoh” bukan lagi sekadar absennya pengetahuan—ia telah menjelma menjadi senjata pemusnah massal yang siap menggilas dan memusnahkan masa depan umat manusia.
Kemana Perginya Orang-orang Cerdas?
Hukum ke-3 dan 5 terasa cukup kocak karena seperti memberikan ruang bagi perilaku bandit. Jika orang bodoh lebih bahaya daripada orang bandit, itu berarti mendingan lingkungan kita dipenuhi lebih banyak orang bandit daripada dipenuhi orang bodoh.
Jika keberadaan orang bodoh sedemikian berbahaya, sudah seharusnya keberadaan mereka harus terus-menerus dikurangi. Itulah yang diserukan Nabi Muhammad, mengentaskan orang dari kebodohan jahiliyah, itulah yang diserukan Ahmad Khan, Afghani dan semua ulama. Itu juga yang seharusnya diperjuangkan lembaga pendidikan Islam. Sayangnya, upaya untuk mengurangi orang bodoh tidaklah mudah. Kenapa begitu? Mari kita lihat hukum lainnya.
Hukum ke-4 Cipolla menyatakan,”Orang yang non-bodoh selalu meremehkan kekuatan merusak dari orang bodoh” Sederhananya begini, orang-orang non-bodoh selalu lupa kalau berurusan atau bersekutu dengan orang bodoh itu adalah resep paling instan menuju kehancuran ekonomi dan mental. Orang non-bodoh selalu membuat kesalahan dengan mengira mereka bisa memanfaatkan, menyetir, atau mengontrol orang bodoh demi kepentingan pragmatis jangka pendek (misalnya biar organisasi kelihatan ramai, atau demi mendulang suara). Ia lupa bahwa logika orang bodoh itu acak, tidak terikat aturan untung-rugi, dan kebal terhadap argumen rasional. Karakteristik orang bodoh seperti itu pada akhirnya tidak bisa dikendalikan.
Ketika orang non-bodoh mulai menoleransi dan memaklumi keputusan-keputusan konyol dari orang bodoh demi menjaga kedamaian semu, atmosfer rasionalitas di dalam suatu kelompok akan runtuh. Standar kebenaran sengaja diturunkan agar kaum bodoh tidak tersinggung. SAat itu, tanpa sadar, seluruh kelompok sedang terseret ke dalam penularan kedunguan fungsional.
Orang bodoh juga dapat melakukan serangan senyap dari belakang. Karena selalu diremehkan, orang bodoh memiliki kebebasan untuk terus melakukan blunder aktif tanpa pengawasan. Dan karena mereka tidak memiliki kompas reflektif untuk memikirkan dampak tindakan mereka, suatu hari mereka akan mengambil satu keputusan fatal—entah itu salah pencet tombol, salah bicara di ruang publik, atau salah mengeksekusi aturan—yang langsung membakar habis seluruh pencapaian yang sudah dibangun oleh orang-orang cerdas di dalam tim.
Kesimpulannya: Hukum ke-4 Cipolla ini adalah sebuah peringatan keras: menoleransi kebodohan di dalam institusi strategis adalah bentuk kenaifan yang mematikan. Orang cerdas sering kali runtuh bukan karena dikalahkan oleh musuh yang lebih pintar, melainkan karena mereka terlalu sombong dan meremehkan daya hancur dari satu orang bodoh yang mereka biarkan berkeliaran di dalam rumah mereka sendiri.
Kalau begitu orang non-bodoh harus mulai hati-hati dan segera mengurangi kebodohan di sekitarnya. Ini juga tidak mudah.
Hukum ke-1 Cipolla menyatakan, “Selalu dan mau tidak mau setiap orang meremehkan jumlah individu bodoh yang beredar”. Sederhananya hukum pertama ini bisa berbunyi begini, “Kamu pasti selalu meremehkan seberapa banyak orang bodoh yang ada di sekitarmu”. Kamu mengira orang yang punya gelar berderet, jabatan mentereng di kampus, atau verified account di medsos itu pasti bijaksana. Zonk!. Cipolla bilang, kebodohan itu menyebar rata di semua lingkaran tanpa pandang bulu, bahkan di tempat yang isinya orang-orang pintar sekalipun. Jumlah mereka selalu jauh lebih banyak dari yang kamu duga.
Sementara Hukum ke-2 Cipolla menyatakan, “Kemungkinan seseorang menjadi bodoh tidak bergantung pada karakteristik lain darinya”. Hukum kedua ini menyatakan bahwa kemungkinan seseorang menjadi bodoh sama sekali tidak tergantung pada karakteristik lain dari orang tersebut. Kebodohan adalah sifat bawaan alami yang tersebar merata secara acak di setiap lapisan manusia.
Mungkin ada yang mengira kebodohan hanya ada di kalangan orang yang tidak sekolah atau masyarakat kelas bawah. Cipolla mematahkan anggapan itu. Baginya, persentase orang bodoh itu konstan dan sama persis di setiap kelompok: mau di kalangan buruh pabrik, mahasiswa, organisasi keagamaan, elit politik, bahkan di dalam perkumpulan peraih penghargaan Nobel sekalipun. Hukum ke-2 ini menjelaskan mengapa gelar akademis yang berderet atau posisi mentereng di perguruan tinggi tidak menjamin seseorang bebas dari kebodohan fungsional. Pendidikan sering kali tidak menghilangkan kebodohan bawaan tersebut; ia hanya membuat cara bodoh orang tersebut dalam mengambil keputusan terlihat lebih ilmiah, canggih, dan berwibawa di atas kertas.
Karena sifatnya yang konstan dan melekat seperti DNA, kebodohan ini tidak bisa diubah oleh faktor lingkungan sosial. Seseorang tidak menjadi bodoh karena mereka miskin, dan tidak menjadi cerdas hanya karena mereka kaya atau berada di lingkungan orang-orang pintar. Sifat active blunder mereka akan tetap muncul secara alami di situasi apapun.
Kebodohan itu Menular
Hukum-hukum Cipolla begitu meyakinkan walaupun kita jadi terbelalak dan berbisik: ”bener juga ya?”. Cipolla tak hendak menyalahkan siapapun, takada kriteria IQ untuk masuk dalam kategori cerdas atau bodoh. Semua orang dapat menjadi orang bodoh, walaupun IQ-nya tinggi dan pendidikannya sudah melewati S3. Sebagai kuadran, teorinya jadi dinamis. Kadang saya cerdas, kadang naif, sesekali jadi bandit, tapi lebih seringnya jadi orang bodoh. Sebagai orang bodoh saya kerap melakukan tindakan ceroboh yang merugikan orang lain sekaligus merugikan orang lain.
Lebih bahaya dari itu, hukum ke-3 Cipolla secara eksplisit menguraikan bahaya penularan kebodohan. Ini terlihat pada Hukum Dasar Kebodohan. Penularan kebodohan terjadi ketika orang-orang non-bodoh mulai menoleransi dan bersekutu dengan orang bodoh demi target pragmatis jangka pendek (seperti suara dalam pemilu atau posisi di ormas). Cipolla memperingatkan bahwa atmosfer rasionalitas suatu lembaga akan runtuh seketika saat standar kebenaran diturunkan demi mengakomodasi kegilaan kelompok bodoh. Aliansi ini menyeret seluruh institusi ke dalam pusaran “blunder berjamaah” yang merusak sistem tanpa tujuan rasional yang jelas. Jika kebodohan menular, maka hukum ke-1 Cipolla semakin menjadi-jadi bahwa hidup kita dipenuhi oleh “orang-orang yang merugikan dirinya dan orang-orang di sekitarnya”.
Kebodohan yang menular ini juga dapat ditemukan dari studi perilaku organisasi modern, Mats Alvesson dan André Spicer memperkenalkan teori Functional Stupidity yang menjelaskan mengapa institusi yang diisi oleh orang-orang pintar (seperti perguruan tinggi, korporasi, atau ormas) bisa secara kolektif melakukan tindakan yang bodoh.
Kebodohan itu menular, bagi Alvesson dan Spicer, melalui tekanan struktural untuk patuh. Lingkungan institusi sering kali memotong kemampuan anggotanya untuk mempertanyakan aturan main atau melakukan refleksi moral (Vita Contemplativa), lalu memaksa mereka fokus hanya pada rutinitas teknis yang aman (Labour). Ketika sebuah ekosistem menghargai kepatuhan buta dan menghukum kritik, individu-individu cerdas di dalamnya akan secara sukarela “menularkan” kedunguan satu sama lain demi harmoni dan kenyamanan karier.
Hannah Arendt juga mengemukakan hal yang sama. Kebodohan atau thoughtlessness (kematian berpikir) bagi Arendt menular layaknya wabah udara ketika ruang publik (public realm) tersumbat oleh birokrasi yang kaku atau fanatisme buta. Bagi Arendt penularan kebodohan terjadi ketika ruang publik berhenti memfasilitasi perdebatan yang sehat dan plural. Saat itu, manusia di dalamnya mengalami deindividuasi—nalar kritis pribadinya larut ke dalam mentalitas robotik. Ketidakmampuan merefleksikan dampak moral dari tindakan sendiri ini menular dengan cepat karena sifatnya yang “memanjakan”: meniru tren atau mematuhi perintah tanpa berpikir jauh (taqlid) jauh lebih nyaman secara psikologis daripada harus lelah mengoperasikan nalar kritis secara mandiri.
Ketika mayoritas orang di dalam sebuah lingkaran (misalnya, lini masa media sosial atau lingkaran elit ormas) menyuarakan konklusi yang salah atau melakukan tindakan blunder, individu yang waras cenderung akan ikut-ikutan memilih jawaban yang salah tersebut. Penularan ini dipicu oleh kecemasan sosial: ketakutan dianggap aneh, dikucilkan, atau di-cancel oleh kelompok dominan membuat individu memilih untuk ikut “bodoh” bersama mayoritas.
Apa yang Harus dilakukan?
Hukum ke-2 Cipolla itu semacam alarm pengingat: Berhenti menyembah flexing gelar atau jabatan. Jangan pernah mengira orang yang punya followers jutaan, centang biru, lulusan kampus luar negeri, atau punya jabatan mentereng di organisasi itu otomatis bijaksana. Kebodohan itu bisa menjangkiti siapa saja tanpa peduli seberapa tebal dompetnya atau seberapa tinggi IQ-nya. Kalau melihat ada orang bikin keputusan yang blunder dan merugikan, nilai tindakannya secara objektif berdasarkan daya rusaknya. Jangan memaklumi kebodohan mereka hanya karena mereka punya ijazah keren atau tampangnya kelihatan berwibawa.
Jangan pernah menurunkan standar logika atau ikutan jadi konyol cuma demi menjaga perasaan orang bodoh agar tidak tersinggung. Kesalahan fatal anak muda zaman sekarang adalah mencoba memanfaatkan orang bodoh demi kepentingan taktis kelompok—misalnya sengaja menoleransi kebodohan mereka demi mendulang massa, menaikkan views, atau bikin konten viral. Ingat, orang bodoh itu adalah “bom waktu” berjalan. Gerakan mereka acak dan tidak terikat logika untung-rugi. Strategi secanggih apa pun tidak akan bisa mengendalikan mereka. Sekali mereka meledak, seluruh lingkaranmu akan ikut hancur.
Karena orang bodoh adalah tipe manusia paling berbahaya di muka bumi yang daya hancurnya tidak ada batasnya (Hukum ke-5), maka membiarkan mereka memegang kendali atas keputusan penting di ruang publik—seperti di kampus, ormas, atau tempat kerja—sama saja dengan bunuh diri massal. Lakukan isolasi fungsional atau dikarantina. Taruh mereka di posisi atau aktivitas yang kalaupun mereka bikin blunder, dampaknya seminimal mungkin dan tidak merusak sistem besar. Jauhkan mereka dari posisi pengambil kebijakan strategis. Jangan pernah biarkan mereka memegang “tombol-tombol” penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Ciri utama dari kebodohan aktif adalah mereka mengalami thoughtlessness (mati fungsi berpikir kritis). Mereka bertindak bukan pakai argumen atau data, melainkan cuma bermodalkan fomo, dorongan emosional sesaat, atau patuh buta pada sistem kayak robot. Menyuapi mereka dengan data, argumen logis, atau mengajak mereka deep talk dan berpikir mendalam (Vita Contemplativa) adalah kesia-siaan murni yang cuma bakal menguras energi mental dan bikin kamu kena mental. Respons terbaik adalah lakukan containment (pembatasan tegas) untuk memblokir dampak kerusakan nyata yang mereka timbulkan. Blokir ruang geraknya, bukan didebat.
Ingat, kebodohan itu penyakit menular yang mewabah super cepat ketika orang-orang waras memilih diam atau membiarkan atmosfer drama dan irasionalitas mendominasi ruang publik. Kalau kamu diam saja melihat kebodohan, lama-kelamaan otak kamu akan terbiasa (teraklimatisasi) dan ikut terseret ke dalam lingkaran bunuh diri kolektif mereka. Satu-satunya cara agar tidak ketularan adalah dengan terus menyalakan tradisi kritik yang sehat. Jaga standar logika kamu, biasakan verifikasi akurasi data, dan pertahankan ketajaman berpikir di dalam sirkel terdekatmu. Ketika ekosistem berpikir kritis di lingkungan tetap kokoh, ruang gerak bagi keputusan-keputusan bodoh otomatis akan menyempit dan tersingkir dengan sendirinya.
Sayangnya semua tips pencegahan ini sia-sia, terutama jika Hukum ke-1 Cipolla itu benar. Cipolla menyatakan bahwa orang-orang non-bodoh tak pernah menyadari betapa banyaknya orang-orang bodoh di sekitarnya. Jadi harus gimana dong?
Masa bodoh!