Harapan Setelah Idul Fitri: Menolak Menjadi Homo Sacer dan Manusia Kedaluwarsa

Oleh: Bambang Q-Anees

Harapan Setelah Idul Fitri Menolak Menjadi Homo Sacer dan Manusia Kedaluwarsa

Takbir Setelah Kemenangan

Setelah bergembira menyambut kemenangan Idul Fitri, kita kembali berhadapan dengan dunia yang masih belum jelas. Perang Israel-Iran masih berlanjut; semoga tidak berkembang menjadi Perang Dunia III dan segera berhenti. Ditambah lagi, ada ancaman El Nino yang disebut-sebut akan membawa kemarau panjang dan kekeringan bagi negeri ini. Belum lagi situasi dalam negeri yang belum kunjung menunjukkan harmoni untuk bersama-sama menghadapi “badai”. Di tengah berbagai ancaman demikian, gema Allahu Akbar menemukan konteksnya.

Allahu Akbar. Allah lebih besar daripada apa pun, lebih besar daripada kecemasan saya menghadapi masa depan yang berada di luar prediksi dan kuasa saya. Allahu Akbar. Saya yakin Allah dapat memberikan jalan keluar dan jalan masuk kepada kebenaran dengan kuasa pertolongan-Nya. Rabbī adkhilnī mudkhala ṣidq wa akhrijnī mukhraj sidq waj‘al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā.

Seusai Ramadan berakhir, pertanyaan terpenting sesungguhnya tidak lagi berkutat pada “apakah kita telah menang melawan hawa nafsu”, melainkan mesti menjangkau “manusia seperti apa yang hendak kita bangun kembali setelah kemenangan itu”. Sebab, ancaman terhadap kemanusiaan hari ini datang dari berbagai arah. Ada kekerasan perang yang terang-terangan membunuh, dan ada kuasa teknologi yang diam-diam mengikis martabat manusia. Keduanya berbeda medan, namun sama-sama berbahaya bagi kehidupan kita.

Kala Perang Membuang Manusia

Perang Israel-Iran bukanlah perang yang patut didukung. Kita tidak pantas bersorak gembira saat sebuah kota hancur oleh rudal, karena kota yang satu dan kota yang lain sama-sama berisi manusia. Dan, kematian manusia tidak pernah layak disambut dengan kegembiraan. Kita mungkin membenci tokoh tertentu, rezim tertentu, atau kepentingan tertentu. Akan tetapi, kebencian tersebut seharusnya tidak menjadi penutup kejernihan akal dan kepekaan hati kita terhadap keadilan.

Di tengah situasi yang mengerikan seperti ini, saya teringat gagasan Homo Sacer yang diperkenalkan Giorgio Agamben. Menurutnya, homo sacer adalah seseorang yang boleh dibunuh tanpa dianggap sebagai pembunuhan, karena ia telah dikeluarkan dari tatanan hukum dan tidak lagi diakui sebagai “subjek” hukum yang berhak untuk dilindungi oleh aturan hukum. Pertanyaannya, apakah penduduk di Teheran, Gaza, Tel Aviv, dan kota-kota lain yang terjebak dalam pusaran konflik itu sedang didorong ke posisi semacam tersebut?

Secara etimologis, kata sacer dan sacra memang berasal dari akar yang sama dalam bahasa Latin, yakni sacer (feminin: sacra, netral: sacrum). Akar kata ini merujuk pada sesuatu yang “ditetapkan” atau “dipisahkan” dari urusan manusia biasa untuk urusan Ilahi. Dari pemisahan itu lahir dua kutub makna. Pertama, sacra sebagai kutub positif, yaitu hal-hal yang suci, kudus, atau terhormat. Sesuatu yang sacra dipersembahkan kepada para dewa melalui ritual dan dilindungi oleh agama maupun hukum. Kedua, sacer sebagai kutub negatif, yakni sesuatu yang “dikutuk”, “dibuang”, atau “dikeluarkan”. Pada titik inilah argument Agamben bekerja. Di tangannya, homo sacer merupakan figur manusia yang telah dicabut dari perlindungan hukum, namun tetap dibiarkan hidup dalam kerentanan yang total.

Situasi sacer demikian biasanya muncul ketika sebuah wilayah dinyatakan berada dalam state of exception—keadaan darurat yang menangguhkan hukum demi alasan keamanan, perang, atau keselamatan negara. Dalam situasi semacam itu, warga sipil yang terjebak di zona konflik—baik di Teheran saat serangan udara maupun di Gaza atau Tel Aviv—cenderung dianggap “wajar” untuk mati. Bahkan, tidak jarang kematian mereka tidak hanya diterima sebagai konsekuensi sampingan, namun juga disambut dengan sorak-sorai oleh mereka yang merasa sedang berada di pihak yang benar.

Padahal, ketika satu nyawa hilang dalam keadaan damai, hukum bekerja. Ada penyelidikan, ada nama, ada pelaku, dan ada kemungkinan pengadilan. Di sana, individu masih tampil sebagai bios—subjek hidup yang memiliki status politik, hukum, nilai, martabat, dan pengakuan di dalam komunitas. Tetapi, ketika ribuan orang mati dalam perang, mereka kerap kehilangan wajah dan cerita. Mereka direduksi menjadi angka dalam laporan, grafik, atau kalkulasi militer. Dalam bahasa Agamben, mereka direduksi menjadi bare life, menjadi zoe, hidup yang hanya dihitung jumlahnya, namun tidak lagi diakui maknanya. Di situlah ribuan manusia yang tewas berubah menjadi homo sacer.

Stalin pernah berkata, “Satu kematian adalah tragedi, satu juta kematian adalah statistik.” Dalam kerangka Agamben, kalimat demikian terasa menakutkan justru karena ia menggambarkan kerja kekuasaan modern dengan sangat telanjang. Ketika state of exception menjadi permanen, kematian massal tidak lagi dibaca sebagai kejahatan, namun sebagai efek yang dapat diterima dengan penuh pemakluman. Hukum seolah ditangguhkan, dan karena itu, pembunuhan tidak lagi diperlakukan sebagai pembunuhan. Orang dibunuh, namun tidak ada pembunuh yang benar-benar hadir di hadapan nurani moral publik. Dari sinilah penonton merasa sah untuk bersorak, sebab mereka menyaksikan kematian yang sudah lebih dulu dikeluarkan dari kategori moral.

Apa kesalahan mereka sehingga “dibuang” dari kategori hukum kemanusiaan? Apa kesalahan mereka sehingga menjadi homo sacer? Seseorang menjadi homo sacer bukan terutama karena apa yang ia lakukan, namun karena siapa ia atau di mana ia berada. Dalam genosida dan pembersihan etnis, kesalahan seseorang sering kali hanya identitas biologisnya. Dalam perang modern, warga sipil yang berada di radius sasaran serangan bisa menjadi homo sacer semata-mata karena mereka berada di ruang yang hukumnya telah ditangguhkan demi kepentingan militer. Mereka tidak harus bersalah terlebih dahulu untuk boleh mati.

Asal mulanya adalah keputusan penguasa ketika menetapkan keadaan darurat. Dalam keadaan tersebut, hukum tidak lagi bekerja secara setara. Ada kelompok yang tetap dilindungi, dan ada kelompok yang secara efektif disingkirkan dari perlindungan. Mereka dapat ditahan tanpa pengadilan, dikepung tanpa jalan keluar, diserang tanpa peringatan, atau dibiarkan kelaparan dalam nama strategi. Warga sipil pun berubah menjadi “beban”, “hambatan”, atau “kerugian yang dapat diterima” dalam logika perang.

Bagaimana jika itu terjadi pada kita? Bagaimana jika suatu hari kita pun tak lagi dipandang sebagai manusia dalam arti penuh, yakni sebagai bios—subjek politik yang memiliki makna, hak, dan martabat—melainkan hanya sebagai zoe, hidup biologis sederhana yang sekadar bernapas, makan, dan bertahan? Kalau Anda ngeri, saya pun demikian. Namun justru di dalam kengerian itulah tersimpan kemungkinan lahirnya harapan baru.

Menuju Kesadaran Baru

Apabila ribuan korban jiwa hanya berakhir sebagai kehancuran tanpa arti, maka yang terjadi hanyalah katastrofi. Perang hanya akan menjadi kumpulan trauma, puing, dan kematian massal tanpa kesadaran baru. Semuanya hancur, namun tidak ada yang sungguh-sungguh berubah di dalam jiwa manusia. Kita hanya menyaksikan produksi homo sacer dalam skala yang semakin membesar, lalu melanjutkan hidup seolah-olah tidak ada yang perlu dipertanyakan dari cara dunia ini diartikan, diproyeksikan, dan dikelola.

Kita tentu menginginkan sesuatu yang lain. Kita menginginkan agar peristiwa tragis ini menjadi titik eksistensial bagi kelahiran perspektif baru tentang kebenaran—semacam peristiwa apokaliptik dalam arti yang paling subtil. Sehubungan dengan itu, kiamat yang dimaksud adalah momen penyingkapan. Kita menghendaki tragedi ini menghancurkan kepalsuan sistem lama agar manusia dipaksa melihat kembali kebenaran sejati yang selama ini tersembunyi/disembunyikan: bahwa hidup manusia tidak boleh tunduk kepada logika kalkulasi kekuasaan. Dalam pengertian ini, perang Israel-Iran yang tragis, dari penghayatan apokaliptik, akan dipahami sebagai “pertempuran akhir” yang mengguncang nurani dunia dan melahirkan kesadaran baru tentang keadilan Ilahi, hidup baik, dan tatanan baru yang lebih manusiawi.

Di titik inilah lantunan Allahu Akbar, Allahu Akbar dengan nada yang merdu menemukan bobot eksistensialnya. Melampaui gema ritual, takbir mengandung permohonan agar Tuhan memberi kita hidup baru, tatanan baru, dunia baru yang tidak membiarkan manusia terperosok menjadi homo sacer. Akan tetapi, ancaman terhadap kemanusiaan kita hari ini tidak datang hanya dari perang, rudal, dan negara yang menangguhkan hukum. Ada ancaman lain yang jauh lebih akrab, lebih dekat, lebih sehari-hari, dan justru kita bawa sendiri di telapak tangan kita. Ancaman tersebut tidak lain adalah teknologi. Jika perang dapat membuang manusia dari perlindungan hukum, teknologi dapat membuang manusia dari pusat makna. Yang satu membunuh tubuh, yang lain perlahan mengikis harga diri.

Teknologi dan Gejala Manusia Minder

Sejak dua hari sebelum Idul Fitri, puluhan bahkan ratusan foto dan video ucapan selamat berseliweran. Rata-rata menampilkan wajah dan tubuh yang cantik, ramping, muda, dan nyaris tanpa cela—entah karena filter, sudut pengambilan gambar, menahan nafas saat dipotret, atau sentuhan teknologi AI. Semua seolah berlomba menampilkan versi terbaik dari diri yang semakin mendekati kesempurnaan digital.

Menilik itu, saya teringat pada rasa malu Promethean (Promethean shame) yang dikemukakan Günther Anders. Gagasan ini terasa ironis, bahkan lucu, ketika pertama kali ditulis dalam Die Antiquiertheit des Menschen (Kedaluwarsanya Manusia), jilid pertama pada 1956 dan jilid kedua pada 1980. Anders mengatakan bahwa manusia modern menderita rasa malu di hadapan alat teknologi yang diciptakannya sendiri. Mesin tidak lelah, tidak mengantuk, tidak mengeriput, tidak loyo, dan tidak kehilangan fokus. Sementara itu, manusia rapuh, loyo, capek, menua, dan sering goyah. Kita lalu diam-diam merasa inferior terhadap ciptaan kita sendiri.

Namun hari ini, ramalan Anders ada benarnya. Banyak orang merasa malu karena tubuhnya bisa letih, ingatannya bisa lupa, suasana hatinya bisa turun, dan kerjanya tidak secepat algoritme. Kita terjebak dalam perasaan minder di hadapan mesin yang tampak selalu presisi, cepat, dan nyaris sempurna. Keterbatasan manusia kemudian terlihat seperti cacat produksi yang harus ditambal, diperbaiki, atau bahkan diganti. Pada titik itulah manusia mulai merasa dirinya kadaluwarsa.

Manusia kedaluwarsa (the obsolescence of man) adalah kondisi tragis ketika manusia merasa tidak lagi relevan, tidak lagi cepat, dan tidak lagi layak dibandingkan dengan mesin yang ia ciptakan sendiri. Anak-anak Gen Z hari ini sering merasa insecure bukan hanya karena pandangan orang lain, tetapi karena tekanan teknologi. Mereka merasa “lemot” jika tidak segera memahami tren, merasa tertinggal jika tidak cepat merespons, merasa “cupu” karena butuh istirahat, merasa tidak cukup jika tidak produktif setiap saat. AI dapat membuat gambar, tulisan, presentasi, bahkan simulasi karya seni dalam hitungan detik, sementara manusia tetap butuh waktu, jeda, salah, ragu, dan istirahat. Maka tubuh organik yang berjerawat, lelah, bimbang, dan butuh healing mulai dipandang sebagai “produk gagal” dibanding mesin yang terus diiklankan sebagai semakin canggih.

Fenomena demikian merupakan paradoks modern yang sangat pahit. Pada mulanya, manusia modern merasa diri lebih unggul daripada dunia agama dan ingin menggantinya dengan rasio serta teknik. Dengan penuh kepercayaan diri, modernitas mengusir Tuhan dari pusat makna dan menjadikan teknologi sebagai bukti superioritas manusia. Mesin diciptakan untuk menunjukkan kehebatan kita. Namun pada akhirnya, manusia yang semula menjadi subjek pencipta alat perlahan berubah menjadi pelengkap dari sistem yang ia buat sendiri. Di mata media sosial dan industri digital, manusia sering kali tak lebih dari data point, penyedia konten, atau pemasok atensi. Jika ia tidak update, tidak posting, tidak cukup cepat, dan tidak menghasilkan interaksi, ia merasa seperti hilang dari peradaban. Ia bukan lagi tuan atas perangkatnya, tetapi justru bekerja untuk algoritme agar algoritme itu terus hidup.

Anders menyebutnya sebagai perubahan manusia dari subjek menjadi penonton pasif dari kehancurannya sendiri. Ia menulisnya dalam konteks perang nuklir dan dominasi media, tetapi kegelisahannya terasa akrab dengan dunia kita hari ini. Ketika seluruh konsekuensi tindakan kita dijembatani oleh teknologi, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk sungguh-sungguh merasakan akibat dari apa yang ia kerjakan. Ia menjadi operator, bukan lagi pribadi. Ia menjalankan sistem, namun tidak lagi menyentuh makna.

Dua Ancaman, Satu Martabat

Pada titik ini, dua kecemasan yang saya uraikan di atas bertemu. Dalam perang, manusia dibuang dari perlindungan hukum dan direduksi menjadi angka. Dalam dunia teknologi, manusia dibuang dari pusat nilai dan direduksi menjadi fungsi. Yang satu melahirkan homo sacer, yang lain melahirkan manusia kedaluwarsa. Keduanya bekerja dengan cara yang berbeda, namun sama-sama menurunkan manusia dari martabatnya sebagai pribadi menjadi objek yang dapat dihitung, dikelola, atau bahkan disingkirkan.

Meski demikian, Anders tidak mempromosikan pesimisme dan mengajak kita untuk menghancurkan mesin. Ia tidak sedang berkhotbah tentang kembali ke zaman batu. Sebaliknya, yang ia tuntut kepada kita adalah perebutan kembali kemanusiaan melalui kesadaran kritis. Pertama, Anders mengajak kita memiliki “keberanian untuk takut” (the courage to fear). Rasa malu muncul karena kita merasa kecil dan lemah di hadapan teknologi. Karena itu, langkah pertama adalah mengakui ketakutan, bukan menyangkalnya. Kita perlu berani takut terhadap dampak teknologi, entah dalam bentuk nuklir, otomasi, AI, atau sistem yang mengubah manusia menjadi bagian kecil dari mekanisme raksasa. Ketakutan yang jujur justru bisa menjadi kompas moral. Mesin tidak bisa takut. Maka ketika manusia masih merasa cemas terhadap masa depan kemanusiaannya, di situ ia justru sedang membuktikan bahwa ia belum sepenuhnya kehilangan nurani.

Kedua, kita harus melatih imajinasi, sebab mesin tidak punya imajinasi. Anders percaya bahwa kemampuan teknis manusia berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan moral dan imajinatifnya. Kita bisa menciptakan teknologi yang dampaknya sangat besar, namun kita gagal membayangkan penderitaan yang ditimbulkannya. Karena itu, melatih imajinasi berarti melatih empati, melatih kemampuan untuk melihat wajah di balik statistik, mendengar cerita di balik angka, dan membayangkan luka di balik efisiensi. Jangan malu menjadi emosional. Justru kemampuan untuk tersentuh itulah yang menjaga manusia agar tidak berubah menjadi operator yang dingin.

Ketiga, kita harus menolak menjadi “suku cadang”. Kita tidak perlu terus-menerus berusaha menyamai kecepatan mesin. Bila sistem meminta kita bekerja tanpa henti seperti server yang menyala dua puluh empat jam, maka beristirahat, merenung, melambat, dan diam bisa menjadi bentuk perlawanan. Dalam dunia yang mengagungkan efisiensi, keraguan manusia, kebimbangannya, kegagalannya, bahkan kelambatannya, bukanlah kerusakan. Itu semua adalah bagian dari martabatnya. Ketidaksempurnaan, oleh karenanya, merupakan ciri eksistensial bahwa kita masih hidup sebagai manusia.

Idul Fitri sebagai Pemulihan Kemanusiaan

Pada titik inilah saya menemukan kembali makna Idul Fitri: mudik, sungkeman, makan bersama, mengaku salah, dan meminta maaf. Saat kita pulang, bersimpuh di hadapan orang tua, memeluk keluarga, dan makan bersama tanpa gangguan layar yang terus meminta perhatian, kita sedang menolak menjadi “manusia kedaluwarsa”. Kita sedang kembali ke fitrah, ke keadaan ketika nilai kita tidak ditentukan oleh jumlah likes, kecepatan balasan, produktivitas, atau performa digital.

Momen saling memaafkan adalah pengakuan bahwa “Ya, gue manusia, gue punya salah, gue nggak seakurat mesin”; sebuah pengakuan moral yang jujur dan tulus bahwa manusia memang tidak sempurna. Kita bisa salah, bisa menyakiti, bisa lupa, bisa menyesal, lalu meminta maaf. Dan justru di situlah letak kemanusiaan kita. Meminta maaf adalah fitur eksistensial-antropologis manusia yang tidak akan pernah bisa dimiliki oleh AI mana pun. Sebab, ia merupakan tindakan yang lahir dari kesadaran diri, kerentanan, dan keberanian moral. Mesin mungkin bisa meniru bahasa penyesalan, namun ia tidak sungguh-sungguh menanggung beban batin dari salah yang diperbuat. Hanya manusialah yang bisa menangis karena merasa telah melukai, lalu berharap dipulihkan oleh maaf.

Boleh jadi, di sinilah Idul Fitri memperlihatkan maknanya yang paling krusial. Selain merupakan penanda bagi berakhirnya puasa, ia juga merupakan latihan untuk memulihkan martabat manusia. Ia menolak logika perang yang membuang manusia dari perlindungan hukum. Ia juga menolak logika teknologi yang membuang manusia dari pusat makna. Dalam Idul Fitri, manusia diingatkan kembali bahwa ia bukan sekadar tubuh biologis yang dapat dikorbankan, dan bukan pula mesin yang harus selalu optimal; ia adalah makhluk yang dapat takut, dapat salah, dapat menangis, dapat meminta maaf, dapat memaafkan, dan justru karena itu memiliki martabat yang tak tergantikan.

Maka dari itu, nikmatilah momen Ramadan dan Idul Fitri. Lawan gengsi untuk merasa bersalah. Jangan malu menitikkan air mata. Jangan malu mengaku lelah. Jangan malu mengakui bahwa kita membutuhkan orang lain, membutuhkan keluarga, membutuhkan Tuhan. Semua itu adalah momen di mana kita mempertahankan diri dari dua ancaman besar zaman ini: dari ancaman menjadi homo sacer di hadapan kekuasaan, dan dari ancaman menjadi manusia kedaluwarsa di hadapan teknologi.

Di tengah perang, kita menolak bersorak atas kematian manusia lain. Di tengah teknologi, kita menolak merasa hina hanya karena kita tidak secepat mesin. Dan di tengah semua itu, takbir menemukan resonansinya: Allahu Akbar. Allah lebih besar daripada perang, lebih besar daripada algoritme, lebih besar daripada sistem-sistem yang hendak merampas martabat manusia. Dari keyakinan itulah harapan setelah Idul Fitri seharusnya tumbuh, yakni harapan akan dunia yang lebih adil, lebih jernih, lebih manusiawi, dan lebih sanggup menjaga setiap hidup agar tidak dibuang.

Iftaḥ lanā, Yā Allāh. Sallimnā wa khalliṣnā!

Selamat menjadi manusia!

Daftar Bacaan

Agamben, G. (1998). Homo Sacer: Sovereign Power and Bare Life (D. Heller-Roazen, Trans.). Stanford University Press.

Agamben, G. (2004). State of Exception (K. Attell, Trans.). University of Chicago Press.

Anders, G. (2025). The Obsolescence of the Human (C. J. Müller, Trans.). University of Minnesota Press.

Müller, C. J. (2016). Prometheanism: Technology, Digital Culture and Human Obsolescence. Rowman & Littlefield International.

WhatsApp
Facebook
Email
Print