Oleh: Aldi Hidayat

Celah ini kemudian ditambal oleh teori utilitas modern. Utilitas modern bertolak dari paradoks Santo Petersburg (St. Petersburg Paradox). Paradoks ini mempertanyakan fenomena perjudian; mengapa penjudi tidak membuat taruhan yang kemungkinan menangnya lebih besar dibanding kalahnya bukan sebatas kemungkinan imbang antara menang dan kalah? Daniel Bernoulli, matematikawan dan fisikawan Swiss menjawab bahwa utilitas marginal uang atau nilai tambahan dari uang akan berkurang ketika pendapatan meningkat (Stigler, 1950, pp. 373–374). Bagi orang berpenghasilan 5 juta sebulan, 1 jt jelas sangat bernilai. Tetapi bagi orang dengan penghasilan 1 miliar sebulan, 1 juta jelas tidak ada artinya. Kurangnya nilai uang ini dalam batas tertentu mendorong pemiliknya untuk menghambur-hamburkan uang misal melalui judi. Milton Friedman dan Leonard J. Savage mengembangkan hipotesa (Friedman-Savage Hypothesis) lebuh rinci bahwa UM uang bergantung kepada kelas sosio-ekonomi, ekspektasi pelaku judi dan resiko dari berbagai alternatif yang tersedia. Bagi kelas bawah, kenaikan pendapatan yang belum menjadikannya naik ke kelas menengah, UM uang menurun dalam arti “kepuasan” atas uang itu belum mencukupi sehingga memungkinkannya untuk “mengorbankan” uang itu lagi ke dalam judi dalam rangka meraup tambahan pendapatan yang membuatnya dapat naik level ke kelas menengah. Sebaliknya, jika ia sukses naik ke kelas menengah melalui judi, maka UM uang meningkat dalam arti harapannya akan uang bertambah sehingga ia tidak akan mudah mempertaruhkan uangnya untuk judi lagi demi menghindari resiko rugi (Savage, 1948, pp. 298–299). Hipotesa ini harus dipahami dalam pertalian antara tiga unsur; kelas sosio-ekonomi, ekspektasi dan pertimbangan resiko. Artinya, ketika seseorang di kelas bawah mendapatkan kenaikan pendapatan, tidak otomatis dia akan berjudi jika dia sendiri tidak berekspektasi naik ke kelas menengah atau tidak berekspektasi dengan judi itu sendiri. Pun juga, kesadarannya akan resiko berjudi patut dipertimbangkan. Intisari hipotesa Friedman-Savage ialah adanya “dorongan” dalam diri manusia untuk naik kelas sehingga berpotensi mengarahkan mereka kepada judi.
Ulasan lebih komprehensif disedikan oleh metode Neuman-Morgenstern dengan mengemukakan tiga kemungkinan dalam menilai utilitas marginal uang saat perjudian. Jika potensi menang besar, maka UM uang menurun karena kekhawatiran pemilik berkurang akibat potensi kemenangan yang akan didapatkan. Jika potensi menang-kalahnya imbang, maka UM uang bersifat konstan. Sebaliknya, jika potensi kalah lebih besar, maka UM uang meningkat karena kekhawatiran pemilik atas kehilangan uang sehingga menjadikan nilai uang itu bertambah (Morgenstern, 1953, pp. 15–30). Fitur yang membedakan utilitas modern dari dua leluhurnya adalah kefokuskannya pada utilitas yang diharapkan (expected utility) bukan hanya ke nilai uang. Sekadar tambahan psikologis atas teori utilitas modern tentang fenomena judi, penulis–mengacu langsung pada kesaksian penjudi–hendak menambahkan sisi “candu” dalam permainan judi. Candu dapat ditambahan sebagai alasan yang bisa dieksplorasi demi menjawab pusparagam kasus orang-orang yang masih berjudi. Selain utilitas ekspektatif, pertimbangan atas resiko masuk dalam pembahasan. Lebih jelasnya, utilitas modern adalah teori yang berupaya menjelaskan utilitas macam apa yang diharapkan seseorang dan resiko yang dia pertimbangkan dari masing-masing pilihan cara pemenuhan utilitas.
Dengan demikian, mengutip Friedman-Savage, dapat dipahami mengapa beberapa orang memilih berjudi karena selain alasan di atas, yang bersangkutan bermental lebih berani mengambil resiko (Savage, 1948, p. 279). Teori utilitas modern–tegas Watson–diadopsi oleh banyak perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya (Watson, 1963, p. 74). Bocoran singkat ini akan memperjelas dan akan penulis perluas dengan wacana kapitalisme lanjut (late capitalism), masyarakat konsumen (the consumer society) dan kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism). Supply and demand, utilitas dan tiga konsep sebelumnya sejatinya sangat bertali-temali namun dengan kerumitan luar biasa lantaran semuanya itu menunjuk realita global yang sama atau minimal berlokasi di dunia yang sama sehingga ketersalingan pengaruh antarsemua itu baik sadar maupun tidak tentu ada.
Banalisasi Manusia
S&D merupakan logika pasar yang netral bukan dalam arti bebas dari nilai tetapi bebas untuk dimasuki oleh nilai dan kepentingan apa pun. Adalah Adam Smith, bapak kapitalisme, melalui karyanya, The Wealth of Nations, yang melegitimasi kepentingan pribadi sebagai penggerak pasar. Demi kodrat pribadi ini, maka pasar harus dibebaskan. Smith menulis:
It is not from benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity, but to their self-love, and never talk to them of our necessities, but of their advantages (Smith, 2005, p. 19).
Bukan karena kemurahan hati tukang daging, pembuat bir atau pembuat roti kita mengharapkan makan malam kita tapi karena mereka mementingkan kepentingan sendiri. Kita berbicara bukan dengan kemanusiaan mereka tetapi pada cinta mereka terhadap diri sendiri dan kita tidak pernah membicarakan keperluan kita melainkan demi keuntungan mereka.
Hanya saja, gagasan utama Smith sebenarnya bukan kepentingan pribadi namun tatanan harmoni alam (harmonious order of nature) yang menggerakkan roda ekonomi di mana kepentingan pribadi memainkan peran sentral. Ini bukan berarti Smith sama sekali menafikan peran penting selera konsumen tetapi menunjukkan bahwa kepentingan pribadi merupakan energi utama yang menggerakkan individu untuk bertransaksi. Pendasaran teoritis ini sebelumnya sudah Smith tuangkan dalam karyanya tentang moralitas, Theory of Moral Sentiments yang menegaskan pelestarian dan perkembang-biakan spesies sebagai tujuan utama alam semesta. Menuju kebahagiaan dan penyempurnaan, maka rasa lapur, haus, hasrat, cinta, kesenangan dan ketakutan akan derita mendorong manusia untuk mencari cara-cara ke arah sana meskipun sering beresiko mengabaikan aturan Tuhan (Smith, 2006, p. 71). Selanjutnya, mengenai kesejahteraan bangsa, Smith menolak anggapan bahwa ia bergantung pada keberlimpahan Sumber Daya Alam (SDA). Bagi Smith, kesejahteraan bangsa bergantung pada dua keadaan. Pertama, keterampilan, ketangkasan dan penilaian yang mendasari sistem kerja. Kedua, proporsi antara mereka yang aktif di pekerjaan yang berguna dan yang tidak (Smith, 2005, p. 8). Pandangan ini berpengaruh terhadap tumbuh-kembang kapitalisme di mana sistem ini sedari awal menekankan kreatifitas produsen.
Mengingat kapitalisme berasaskan kebebasan individu, gagasan Smith juga–lacak Jacob Viner–memengaruhi doktrin ekonomi laissez faire (biarkan saja) (Viner, 1927, pp. 207–213). Ekonomi “biarkan saja” beroperasi tanpa banyak intervensi dari penguasa. Tugas penguasa menurut Smith dibatasi kepada tiga; melindungi masyarakat dari invasi, membentuk administrasi keadilan yang jelas serta mendirikan institusi dan mandat publik yang jelas (Viner, 1927, pp. 217–218). Proses pembiaran ini secara konsekuensial pada tataran logis mengilhami tercetusnya hukum S&D; bahwa pasar bergerak berdasarkan resiprokalitas ketersedian komoditas dan permintaan konsumen. Singkat sejarah, di tengah jalan, kapitalisme mengalami gangguan kuat dari wacana sosialisme lebih-lebih pasca Karl Marx menerbitkan dua karya monumentalnya, The Communits Manifesto dan Das Kapital. Sayangnya, sosialisme dan Marxisme gagal menghentikan kapitalisme namun memberi umpan kepadanya untuk berintrospeksi, beretropeksi dan berkultivasi menjadi raksasa seperti yang kita hidupi saat ini. Satu zaman yang oleh Fredric Jameson disebut kapitalisme lanjut (late capitalism).
Jameson mendiskusikan kapitalisme lanjut dalam kaitannya dengan wacana postmodernitas. Apakah postmodern berarti keterputusan total dari modernitas? Cukup berbeda dengan pemikir postmodernis lain yang mengaksentuasi postmodernitas sebagai pemberontakan dan perombakan atas modernitas, Jameson menilai postmodern sebagai budaya baru yang dominan (cultural dominant) (Jameson, 1984, p. 55). Tidak sekadar wacana arus utama yang muncul pada penghujung 1950-an dan pangkal 1960-an, postmodern ialah keadaan baru pada paruh kedua abad 20 yang ditandai setidaknya oleh ekspansi perusahaan multinasional, prioritas besar-besaran akan kebaruan (Jameson, 1984, p. 56) dan fenomena pastiche. Yang terakhir (pastiche) adalah peniruan masa lalu yang kosong, dangkal, banal dan tanpa makna. Jameson menyebutnya parodi kosong atau mimikri tanpa motif. Ini merupakan dampak dari kapitalisme lanjut yang mengkomodifikasi apa saja sebatas demi nilai jual belaka sehingga apa yang dikomodifikasi kehilangan elan vitalnya dalam menyumbangkan makna (Jameson, 1984, pp. 64–65). Tak ayal, untuk konteks Indonesia, konten-konten yang mengolah dorongan purba, seperti gairah dan marah berseliweran setiap detiknya. Lalu konten yang membela nilai adiluhung, seperti nasihat, kritik, saran dan masukan mengerumuninya. Semua terjadi dalam hitungan sepersekian detik. Membuncah bagai acara kolosal lalu terlupakan laksana busa luatan. Seolah tidak ada satu pun dari tema konten ini yang berdampak serius kepada netizen kecuali sebatas tontonan. Suatu keadaan yang mensituasikan kita untuk mencandai apa yang mestinya serius lalu menjadikan canda, tawa, perkara receh dan remeh-temeh itu sendiri sebagai poros utama. Bercanda ketika serius tapi serius ketika bercanda. Keseriusannya tidak lebih dari canda belaka.
Fenomena demikian secara spesifik berkaitan dengan apa yang Bill Kovach dan Tom Rosenstiel sebut jurnalisme pernyataan (journalism of assertion); ketika jurnalis lebih sibuk menambahkan interpretasi atas fakta tinimbang memverifikasi kebenarannya akibat persebaran konten dan warta secara cepat dan massif melalui dan oleh internet (Rosenstiel, 2014, pp. 117–118). Pada lingkup media selaku corong utama zaman sekarang, Jameson–meminjam teori kesan Guy Debord–menganalisis pergeseran serial iklan dari yang semula periferal menjadi sentral. Bukan lagi apa yang diiklankan yang menjadi perhatian, tetapi proses narasi dan hiburannya kemudian menjadi objek baru yang utama. Debord menyebut kesan sebagai bentuk final dari reifikasi komoditas (Jameson, 1991, p. 276). Teori ini dapat memperjelas mengapa scroll media sosial diminati hampir semua kalangan sehingga memunculkan tradisi baru bernama rebahan. Efek sampingnya secara sosial ialah munculnya generasi jompo; masih muda tetapi stamina jiwa dan raganya sudah mirip lansia. Daya candu yang media sosial siramkan tentu salah satunya lantaran kemampuannya menghidangkan konten sensasional nan baharu secara berkelanjutan. Di sisi lain, ini tidak dapat dipisahkan dari teori utiitas modern seperti dikutip sebelumnya yang mempengaruhi pertimbangan perusahaan-perusahaan masa kini.
Tanpa centang-perenang, Jean Baudrillard mendiagnosa budaya baru itu sebagai The Consumer Society (masyarakat konsumen). Baudrillard yang sama-sama bertolak dari perspektif Marxis layaknya Jameson, mendiagnosa pergeseran nilai dalam ekonomi dan masyarakat. Pada masa Karl Marx, komoditas diproduksi dengan berdasarkan dua nilai; nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value) (Marx, 1887, p. 27). Nilai guna berarti jasa apa yang akan komoditas berikan bagi konsumen, sementara nilai tukar mengacu ke mekanisme harga di pasaran. Dua nilai ini–tulis Baudrillard–digeser oleh munculnya nilai tanda (Baudrillard, 1998, pp. 76–77). Nilai tanda mengungkapkan bahwa manusia tidak berelasi dengan objek atau dua nilai lamanya (guna dan harga) tetapi berhubungan dengan kenyamanan, prestise, gengsi dan reputasi yang demi tujuan lebih menggamblangkan, penulis sebut itu semua “hasrat”. Semua ini bersifat abstrak sehingga sangat mungkin suatu produk dapat tergantikan oleh produk lain sejauh lebih memanjakan hasrat. Tak heran, memasuki dekade kedua abad 21, kita menyaksikan merk-merk gawai raksasa dekade sebelumnya (Nokia, Motorola, Sony Ericson dll) merosot di pasaran, tergantikan oleh merk-merk baru (Iphone, Samsung, Vivo dll). Nilai tanda kemudian mengimplikasikan tiga hal. Pertama, diskriminasi yaitu kesenjangan sosio-ekonomi dari segi kuantitas dan kualitas kepemilikan atas komoditas. Dalam masyarakat konsumen apalagi seperti sekarang, diskriminasi ini amat kentara dengan munculnya segelintir kelas overdosis kaya sementara milyaran manusia hidup secukupnya bahkan beberapa dari mereka miskin dan papa. Elon Musk baru-baru ini berhasil mengumpulkan kekayaan 12 kuadriliun (12 ribu triliun); kekayaan yang melampaui anggaran tahunan Indonesia. Pada saat yang sama, warga Palestina dan Sudan hidup miskin-papa, nestapa dan nelangsa.
Kedua, asosiasi yaitu bahwa komoditas dalam masyarakat konsumen, bukan sebatas berdasarkan kegunaannya tetapi juga afiliasinya dengan komunitas. Contoh sederhana ialah pembuatan seragam, logo, geng motor dan produk-produk yang bernilai afiliatif lainnya. Contoh-contoh semacam itu mencerminkan pergantian poros sirkulasi komoditas dari yang semula berbasis guna kini berlandaskan afiliasinya. Memakai kaos Real Madrid bukan demi kegunaan kaos untuk melindungi badan dari panas dan dingin tetapi menampilkan sisi afiliatifnya bahwa si pemakai merupakan fans salah satu klub sepak bola terbesar di dunia. Artinya, dia mengafiliasikan diri dengan entitas yang punya nama sehingga otomatis ia mendapat jatah popularitas darinya. Lebih jauh, nilai asosiatif kemudian menimbulkan kerumunan baru bernama massa. Berbeda dengan masyarakat sebagai kumpulan individu yang disatukan oleh ikatan kerabat dan adat-istiadat, massa merupakan kerumunan individu yang diikat oleh kontrak. Kumpulan manusia di stadion bukan masyarakat melainkan massa karena mereka diikat oleh kontrak yang sama; membeli tiket demi menonton klub idola. Massa kadangkala melampaui masyarakat. Taruhlah misal, fans Cristiano Ronaldo berjumlah lebih dari 500 juta, hampir dua kali lipat warga Indonesia. Anggap saja, CR7 bisa saja membangun negara, asalkan lahannya tersedia.
Ketiga, simbolisasi alias nilai prestise, gengsi dan reputasi yang komoditas tawarkan kepada pelanggan. Iphone atau Apple bukan sebatas perangkat informasi dan telekomunikasi namun juga perkakas gengsi dan reputasi. Hal serupa misal didapatkan dari fenomena orang kaya menghabiskan ratusan juta hanya demi pesta semalam. Bukan hanya kesenangan apa yang ditawarkan tetapi prestise macam apa yang memancar dari konsumsi demikian. Jadi, konsumsi bukan semata aksi membeli, tetapi di dalamnya turut berlaku signifikasi (penandaan) (Baudrillard, 1998, p. 60). Penandaan yang mengelupaskan kesadaran manusia akan nilai guna dan sebagai ganti, mengalihkan mereka pada nilai tanda. Daster dari segi guna melebihi busana ketat tetapi preferensi wanita pada busana ketat bukan karena kenyamanannya melainkan demi nilai simboliknya yakni sebagai gadis yang mempesona. Dalam masyarakat konsumen, konsumsi tidak berorientasi sebagai pemenuhan kebutuhan dan keperluan belaka, namun menjelma arus yang mencekcoki warga untuk menobatkan konsumsi sebagai tugas mereka (Baudrillard, 1998, p. 80). Konsumsi tidak lagi berasaskan kebebasan dan kemauan, namun menjadi energi candu yang mensituasikan manusia untuk terus melestarikannya. Singkatnya, aku membeli, maka aku ada. Konsumsi sudah menjadi modus eksistensi. Tepat di titik itu, Baudrillard menyebutnya sebagai mistifikasi baru. Jika mistika tempo dulu merujuk pada entitas di luar manusia, maka mistika kontemporer mengarah ke dalam diri manusia; ke antah-berantah hasratnya yang tanpa hingga (Baudrillard, 1998, p. 82). Mistifikasi konsumsi terus beroperasi melalui promosi.; Jika Anda mau lebih dari sebelumnya, maka belilah ini dan itu!