AL-TARĪQ AL-WA‘R NAHW AL-NŪR (JALAN TERJAL MENUJU CAHAYA)

Oleh: Erus Effendi

Aku menatap tumpukan buku di hadapanku, bukan dengan semangat, tapi dengan napas yang terasa berat. Malam ini, entah untuk keberapa kalinya, rasa lelah dan putus asa datang menyergap. Satu soal latihan yang tak kunjung kutemukan jawabannya, satu konsep yang terasa begitu rumit, membuatku merasa begitu kecil dan bodoh. Air mata mulai menggenang di pelupuk. “Apakah jalan ini terlalu sulit untukku?” bisikku dalam hati.

Kesedihan dan Keraguan

Awalnya, semangatku membara. Aku memilih jalan ini, jalan menuntut ilmu dengan keyakinan penuh bahwa ini adalah panggilan jiwaku. Aku ingin memahami ayat-ayat-Nya, mengerti hikmah di balik ciptaan-Nya, dan menjadi manusia yang bermanfaat. Namun, realitas tak seindah bayangan. Aku melihat teman-temanku dengan mudahnya memahami pelajaran, sementara aku harus berjuang mati-matian. Kegagalan dalam ujian, rasa minder saat diskusi, dan malam-malam panjang yang kuhabiskan tanpa hasil yang memuaskan, semua itu menumpuk menjadi sebuah bukit kesedihan.

Aku merasa seperti berjalan di lorong gelap tanpa ujung. Doa-doaku terasa tak terjawab. Aku mulai bertanya pada Allah, “Ya Rabb, mengapa Engkau persulit jalanku? Bukankah menuntut ilmu adalah jalan yang Engkau cintai?”

Ketabahan yang Terinspirasi dari Kisah Islami

Di tengah kerapuhan itu, aku teringat sebuah pengajian tentang biografi Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Kisah itu menamparku dengan lembut namun kuat. Aku membayangkan seorang anak yatim piatu yang miskin di Palestina, yang bahkan tidak mampu membeli kertas. Untuk belajar, beliau mengumpulkan tulang-belulang, pecahan tembikar, atau pelepah kurma hanya untuk bisa menuliskan ilmu yang didengarnya. Ibunya, seorang wanita yang luar biasa, dengan sumber daya yang sangat terbatas, mengantarkannya untuk menghafal Al-Qur’an dan belajar di Mekkah.

Lalu, aku merenungkan momen paling mengharukan: ketika Imam Syafi’i yang masih remaja harus berpamitan pada ibunya untuk melakukan rihlah (perjalanan) menuntut ilmu ke Madinah, untuk belajar pada Imam Malik. Ibunya melepasnya dengan doa, “Pergilah anakku, tuntutlah ilmu. Ibu ridha. Kita tidak akan bertemu lagi di dunia ini, semoga Allah mempertemukan kita di akhirat, Insya-Allah”

Bayangan itu membuat air mataku kembali menetes, tapi kali ini bukan karena putus asa, melainkan karena rasa malu. Kesedihanku? Aku punya buku, pena, bahkan akses internet yang tak terbatas. Imam Syafi’i hanya punya tulang belulang. Perjuanganku? Aku hanya perlu berjalan ke kampus atau membuka laptop. Imam Syafi’i harus menempuh ratusan kilometer dengan berjalan kaki, menahan lapar dan dahaga, meninggalkan ibu yang sangat dicintainya. Rasa lelahku? Aku masih bisa tidur di kasur yang empuk. Entah bagaimana kondisi istirahat para penuntut ilmu di masa lalu.

Kisah itu menjadi titik balik. Kesedihanku bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan ujian untuk membuktikan kesungguhan niatku. Aku menyadari bahwa jalan ini memang terjal, dan Allah tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah. Sebaliknya, Allah menjanjikan pahala besar bagi mereka yang sabar dan tabah.

Kekuatan Kerja Keras

Terinspirasi dari semangat Imam Syafi’i dan para ulama lainnya, aku mengubah caraku belajar. Aku bangun lebih awal. Aku paksakan diri untuk bangun di sepertiga malam terakhir. Bukan hanya untuk belajar, tapi untuk shalat Tahajud, memohon pada Sang Pemilik Ilmu agar dibukakan pintu pemahaman. Di saat hening itu, aku merasa lebih dekat dengan-Nya, dan hatiku menjadi lebih tenang.

Aku tak lagi malu bertanya. Rasa minderku kubuang jauh-jauh. Aku ingat perkataan, “Dua orang yang tidak akan pernah belajar: orang yang sombong dan orang yang pemalu.” Aku mulai aktif bertanya pada dosen, berdiskusi dengan teman yang lebih paham, bahkan jika aku harus terlihat bodoh sekalipun.

Aku mengulang dan mengikat ilmu. Aku teringat pesan Imam Syafi’i: “Ilmu itu bagai binatang buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya.” Setiap ilmu baru yang kudapat, segera kutulis ulang dengan bahasaku sendiri, kubagikan pada teman, atau sekadar kurenungkan. Proses ini membuat ilmu itu meresap, bukan sekadar singgah di kepala.

Kerja kerasku bukan lagi beban, melainkan sebuah ibadah. Setiap halaman buku yang kubaca, setiap rumus yang kupecahkan, setiap ayat yang kutadabburi, kuniatkan sebagai upayaku untuk mendekat kepada Allah.

Kebahagiaan yang Hakiki

Perlahan tapi pasti, cahaya itu mulai tampak. Bukan karena nilaiku tiba-tiba menjadi sempurna. Kebahagiaan itu datang dalam bentuk yang lebih indah.

Kebahagiaan saat memahami. Ada sebuah momen ketika aku sedang shalat, dan ayat yang dibaca imam tiba-tiba terasa begitu hidup. Aku memahami konteksnya, merasakan keagungannya, dan air mataku mengalir deras karena haru. Itulah lażżatul ‘ilmi, lezatnya ilmu. Rasa manis yang tak bisa dibeli dengan apapun.

Kebahagiaan ketika bermanfaat. Seorang teman datang bertanya tentang materi yang dulu membuatku menangis. Dengan izin Allah, aku bisa menjelaskannya dengan baik hingga ia paham. Melihat binar pemahaman di matanya memberiku kebahagiaan yang jauh melampaui sekadar mendapat nilai A.

Kebahagiaan dalam ketenangan. Aku tidak lagi cemas berlebihan tentang hasil. Aku sudah berikhtiar sekuat tenaga, berdoa sepenuh hati, dan sisanya aku serahkan pada Allah. Keyakinan ini memberiku ketenangan jiwa yang luar biasa.

Kini, saat aku menatap tumpukan buku di mejaku, aku tidak lagi melihatnya sebagai beban. Aku melihatnya sebagai anak tangga menuju cahaya. Setiap lembarannya adalah jejak perjuangan, setiap tintanya adalah saksi ketabahan, dan setiap pemahaman yang kuraih adalah anugerah kebahagiaan dari-Nya.

Jalan ini memang terjal, tapi di setiap tanjakannya ada kekuatan, di setiap kelokannya ada hikmah, dan di puncaknya ada cahaya yang menanti. Persis seperti para pencari ilmu terdahulu, yang rela menukar dunia demi setetes ilmu, karena mereka tahu bahwa ilmu itulah yang akan menerangi jalan mereka di dunia dan di akhirat.

Hikmah dari Kisah Inspirasi Islami Imam Syafi’i

Niat yang Lurus: Ilmu dicari karena Allah, bukan untuk pujian atau gelar semata.

Pengorbanan adalah Keniscayaan: Tidak ada ilmu yang diraih dengan bersantai-santai. Waktu, tenaga, bahkan perasaan harus dikorbankan.

Hormati Guru dan Hargai Ilmu: Adab sebelum ilmu. Cara Imam Syafi’i menghormati Imam Malik adalah teladan agung.

Jangan Pernah Merasa Cukup: Perjalanan menuntut ilmu adalah dari buaian hingga liang lahat.

Kebahagiaan Sejati adalah Keberkahan Ilmu: Ilmu yang paling membahagiakan adalah ilmu yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga cerita refleksi ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapa pun yang sedang berjuang di jalan ilmu. Setiap ilmu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, hanyalah keangkuhan yang tersamar, maka carilah ilmu yang membuatmu lebih rendah di hadapan manusia dan lebih dekat di hadapan Tuhan-Mu, jika hatimu bersih engkau tak akan kenyang dengan Al-Quran, jika hatimu gelap maka ilmu sebesar gunung pun tak akan meneranginya.