Oleh: Bambang Q. Anees

Hidup terasa seperti ditelikung, tak bisa apa-apa, hanya berputar-putar di ruang sempit. Semua mimpi masa lalu menguap, idealisme tinggal catatan di kertas usang, yang tersisa hanya bagaimana bertahan hidup. Seseorang bertanya tentang tahun 2025, jawabannya cukup miris, “Bisa bertahan saja sudah menunjukkan prestasi”. Tahun 2026, kita harus menemukan jalan keluar.
Mungkinkah?
Mungkin saja bila dapat menemukan model dari sejarah yang mengisahkan kemampuan manusia keluar dari masalah terberatnya. Kisah Isrā’ Mi’rāj pernah menjadi model bagi cara untuk keluar dari masalah. Alurnya begitu sempurna; berada dalam derita terberat, Isrā’ Mi’rāj, hijrah, lalu mendapatkan kemenangan.
Titik Terendah Kehidupan Nabi Muhammad
Lelaki mulia yang ingin mereformasi masyarakatnya mengalami titik terendah dalam hidupnya. Bukan karena ia dicerca dan dibenci saudara-saudaranya sendiri dan dianggap sesat, bukan pula karena ia dan pengikutnya diboikot selama 3 tahun (616/617M – 619 M). Padahal 3 tahun itu adalah penderitaan yang sangat parah, mereka diasingkan di kotanya sendiri. Semua orang tak boleh membantu kelompok itu, Bani Hasyim dan Bani Muthalib (dua keluarga pendukung kelompok itu) juga diasingkan; tak boleh ada ada menikahi wanita-wanita dari dua keluarga ini, tidak boleh menikahkan gadis-gadis, tidak boleh menjual dan membeli apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Mereka seperti tahanan kota, tak dapat terhubung dengan siapapun. “Sampai mereka mengalami kesulitan dan terpaksa memakan daun kering dan kulit, bahkan terdengar dari balik perkampungan suara para wanita dan anak-anak yang menangis karena kelaparan dari kaum perkampungan Abu Thalib”. (Al-Mubarakfury: 120).
Tapi bukan itu yang titik terendah dalam hidup Muhammad Rasulullah. Saat ia dicerca, ditolak, dan diboikot, ia masih memiliki Siti Khadijah, istrinya, dan Abu Thalib, pamannya. Ia masih bisa berbagi cerita, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, ia masih merasa aman dan nyaman. Dunia yang sempit terasa luas ketika ada yang mau mendengar keluh kesah dan terasa nyaman ketika orang yang dicintai menunjukkan dukungan. Titik terendah justru terjadi setelah boikot itu dicabut. Pada tahun 619 M, Sayyidatina Khadijah wafat, disusul dengan wafatnya Abu Thalib.
Wafatnya istri tercinta berarti tak ada lagi sumber spirit yang terus menaikkan semangatnya untuk percaya pada maunya Tuhan. “Kau orang baik, tak mungkin Tuhan mempermainkamu!”, Siti Khadijah pernah menyatakan itu saat Nabi Muhammad ragu akan wahyu yang diterima. Wafatnya Abu Thalib membuat Nabi Muhammad sendirian di tengah kota Makkah. Saat Abu Thalib masih ada, suku-suku di Makkah dan sekitarnya tak dapat menyerang secara terbuka pada kelompok Nabi Muhammad. Mereka terikat perjanjian untuk tak boleh memerangi Bani Hasyim, memerangi kelompok Nabi Muhammad sama dengan memerangi Bani Hasyim karena Abu Thalib ada di dalamnya dan menjadi tameng. Setelah Abu Thalib wafat, kepala suku Bani Hasyim jatuh ke tangan Abu Lahab (adik tiri Abu Thalib) yang sudah lama ingin memerangi Nabi Muhammad dan kelompoknya.
Nabi Muhammad benar-benar sendirian, terpojok, seperti burung di dalam sangkar; dapat terbang, tetapi hanya berputar dalam ruang terbatas; dapat melihat angkasa, namun tak dapat menjangkaunya. Maka ia pun mencari dukungan ke Thaif, wilayah subur yang agak jauh dari kota Makkah. Hasilnya nihil, seluruh orang Thaif menolaknya bahkan melemparinya. Tak ada jalan keluar, benar-benar terjebak dalam sangkar. Lalu datanglah malaikat Jibril mengajaknya tamasya; terbang dari bumi ke langit terjauh. Terjadilah Isrā’ Mi’rāj. Setelah itu, hijrah ke Madinah dan membangun kejayaan dari sana dan pada tahun 630 M, Nabi Muhammad dapat kembali ke Makkah dengan kemenangan.
Kisah seperti ini kemudian memberikan inspirasi puitik tentang dunia yang penuh duka lara, dan pembebasan ruhani melalui tamasya dari dunia material ke wilayah non-material. Manusia yang terkurung dalam sangkar daging dan materi dapat membebaskan diri seraya menemukan spirit untuk menulis sejarah baru. Pelajarannya dapat berupa keyakinan seperti ini: penderitaan dapat dihadapi melalui perjalanan ruhani, lalu perjalanan ruhani dapat memberikan spirit baru mengubah kehidupan. Atau pelajaran seperti ini: Tuhan itu ada, bukan sekadar kisah mitos, manusia dapat mengalami Tuhan bahkan bertemu dengan-Nya. Lalu pertemuan dengan Tuhan akan mengubah manusia menjadi “lelaki sejati” yang memberi warna bagi kehidupan.
Hijrah Burung Ibn Sina
Ibn Sina (980–1037 M) pernah dipenjara pada tahun 414H/1023M atas perintah wazir Kurdi Tāj al-Mulk di benteng Fardajān di luar Hamadhān. Walaupun kemudian dibebaskan setelah empat bulan namun Ibn Sina menganggap penjara itu sebagai akhir dari hidupnya. Selama di penjara itu, menurut Corbin (Corbin: 184), Ibn Sina menulis Risālat al-Thayr, tentang burung yang terperangkap dalam sangkar pemburu yang telah menipunya. Di dalam sangkar penjara itu, ia tidak sendirian, ia bersama dengan burung-burung yang lain. Semua burung itu asalnya berasal dari alam bebas dan ingin kembali bebas, karena itu mereka semua mulai mencoba melarikan diri. Mulanya penuh semangat, segala cara dicoba. Saat semuanya gagal, akhirnya mereka menyerah dan melupakan keinginan bebas itu. Burung-burung itu pun menikmati kehidupan rutin mereka, hidup dalam sangkar, dan terbang seadanya. Lama kelamaan, sangkar yang kecil itu dianggapnya sebagai dunia.
Bukankah, situasi ini yang sedang kita alami?
Beberapa lama kemudian, beberapa burung yang masih menyimpan kerinduan untuk terbang masih terus melihat langit biru. Di sana terlihat terlihat sekelompok burung terbang bebas, burung-burung yang terbang itu terlihat memiliki tanda-tanda pernah ditangkap pemburu. Masih ada sisa tali di kakinya, “Mereka pasti pernah dipenjara sepertiku dan dapat membebaskan diri”. Pemandangan ini menciptakan harapan baru, “Mereka membuatku mengingat apa yang telah kulupakan (fa-dzakkaratnī mā kuntu unsītuhu), dan membuatku membenci sebagian dari laku pasrah yang telah kubiasakan selama ini.” (Peter Heath: 165).
Aku berpikir, seandainya terbebas dari kesedihanku yang kelewat batas ini, apakah hanya dengan menyaksikan kepergian burung-burung itu, jiwaku dapat tergelincir lepas tanpa suara dari jasadku?!
Kuseru mereka dan berteriak kepada mereka dari kedalaman sangkarku: “Kemarilah! mendekatlah! Ajari aku dengan muslihat macam apa pembebasan dapat diraih! Kasihanilah kesengsaraanku! Sebab aku telah sungguh-sungguh berada di ujung penghabisan daya upayaku.” (Ibn Sina, Risālat al-Thayr, Terj. Mardiansyah & Furqan)
Burung-burung di luar semula curiga akan perangkap. Pemburu burung sering menggunakan burung lain sebagai perangkap. Setelah mereka yakin tak ada perangkap, mereka pun mendekati sangkar. Burung-burung bebas itu sambil membuka sangkar menguatkan tekad sesama saudaranya, “Kami adalah tawanan dari penderitaan yang sama sebagaimana halnya dirimu; kami pun telah mengenal keputusasaan yang sama denganmu; kami juga telah terbiasa dengan nestapa, derita, serta kesakitan.”
Setelah semuanya terlepas, burung-burung bebas itu berujar, “Maslahatlah pembebasanmu! Jadilah kebebasanmu ini maslahat”. Burung-burung pembebas itu ingin agar kebebasan yang diraih tak sekadar lepas dari sangkar, kebebasan yang diraih harus memberikan maslahat. Kebebasan yang dimiliki tak boleh hanya diisi dengan bangun lagi tidur lagi, habis tidur tidur lagi seperti lagu Mbah Surip. Untuk itu, burung-burung pembebas itu mengajak melakukan petualangan kebebasan yang lebih mendalam, “Jauh di sana, di hadapanmu, ada sebuah negeri; kau takkan aman dari setiap marabahaya sampai kau melewati seluruh jarak yang memisahkanmu dari negeri itu. Karena itu, ikutilah jejak kami, agar kami bisa menyelamatkanmu dan menuntunmu ke jalan yang benar menuju tujuan yang kau kehendaki.”
Mereka pun terbang bersama, merasakan kebabasan yang lama dirindukan. Tetapi mereka masih merasa gamang, sisa jerat masih melekat pada tubuhnya. Kebebasan belum sepenuhnya didapatkan, burung pembebas mengatakan di hadapan sana terbentang sebuah tempat, yang hanya akan aman jika didatangi dengan keyakinan penuh. Merekapun terbang melintasi dua bukit untuk dapat mencapai puncak “Gunung Ilahi” pertama. Setelah itu mereka terbang lagi sampai pada puncak gunung kedelapan dan bertemu dengan “Raja Burung” yang digambarkan Ibn Sina secara puitis: kulluhu li ḥusnihi wajhun wa li jūdihi yadun (dalam keindahannya, ia adalah Wajah; dalam kemurahan hatinya, ia adalah Tangan).
Terbang ke angkasa yang jauh untuk dapat bertenggar di delapan puncak gunung sampai akhirnya bertemu “Raja Diraja Burung” adalah gambaran Mi’rāj dari Ibn Sina. Secara fisik, Ibn Sina terpenjara dan menderita; namun secara ruhani ia dapat mengembara ke alam ruhani tertinggi. Sama seperti yang dialami Rasulullah Muhammad, secara fisik ia harus menghadapi permusuhan kafir Quraish, namun secara ruhani ia telah bertemu Sang Ilahiah. Lihatlah, betapa kisah Mi’rāj telah memberikan harapan di tengah ketakberdayaan bagi burung yang terpenjara.
Secara alegoris, kita semua adalah burung yang terpenjara dalam sangkar daging di dunia ini. Ibn Sina menegaskannya dalam Qaṣīdah al-Nafs, bahwa jiwa manusia itu adalah warqāʾ (burung merpati berwarna perak) yang berasal dari ‘tempat tertinggi’, tempat suci di puncak gunung (himan), dan telah tinggal di sana selama berabad-abad. Burung itu terjatuh ke ‘dataran tandus’, dzāt al-ajraʿ, yaitu bumi. Awalnya burung merasa terasing dari lingkungan tandus itu, lama kelamaan ‘terbiasa dengan kehancuran dan tanah tandus’ seraya ‘melupakan (nasiyat)’ masa ia tinggal di tempat tertinggi dan mulia. Inilah titik terendah sejati: tidak hanya jatuh ke jurang tandus tetapi juga kehilangan pemahaman tentang realitas asalnya.
Burung merpati itu kemudian menemukan arah pulang, ‘dia menangis ketika dia mengingat (dzakarat) masa hidupnya di tempat suci’. Burung itu kemudian memulihkan kemampuan pulang ke sarangnya (ihtidāʾ). Tapi, bentuknya yang padat (syakl kathīf) –yaitu tubuh material yang membungkus jiwa–merupakan ‘sangkar’ (qafaṣ) yang menghalanginya untuk bertindak berdasarkan naluri pulangnya. Lalu, burung itu benar-benar menemukan jalan pulang, ia terbang seperti bintang yang terbenam dan kecerahan kilat (barqun) yang langsung ‘menghilang seolah-olah tidak menyala’. Lagi-lagi, pembebasan hidup adalah meninggalkan sangkar materi dan terbang ke langit. Kisah Mi’rāj memberikan harapan dan jejak jalan menuju pemerdekaan diri di tengah kedlaifan hidup.
Jika kita mengikuti tafsir Mi’rāj dari Ibn Sina, semua kita adalah burung yang lupa jalan pulang itu. Di pesantren kerap didengungkan bahwa manusia adalah tempatnya lupa. Begitu menjadi manusia, jiwa merpati dalam diri lupa akan jalan pulang. Kelupaan ini entah karena kesenangan duniawi atau karena dijebak keputusasaan yang banal. Tersebab penderitaan begitu menelikung, kita menyerah dan putus asa, lalu menganggap tak mungkin ada perubahan, daripada berubah dan mengubah lebih baik ikuti arus saja. Lalu jadilah burung merpati itu meninggalkan kemuliaannya, menjadi penjilat, kompromis, menipu dirinya sendiri, dan semua kebejatan demi bertahan hidup. Betapa putus asanya kita ini, padahal Tuhan sudah berfirman La tay-asū min rawhillāh, jangan berputus asa dari Rahmat Allah (QS Yusuf: 87). Untuk itulah ada perayaan Isrā’ Mi’rāj tiap tahunnya, agar semua kita mengingat bahwa hidup bukan sekadar bertahan hidup namun harus menerobos alam materi menuju perjumpaan dengan Tuhan.
Karena Jiwamu itu Bersayap, Terbanglah
Sebagai Burung merpati keperakan, jiwa kita telah terlalu kerasan dalam bentuk-bentuk baru. Kita tertipu oleh kesenangan dan kesusahan dunia ini. Dunia ini seperti permainan, la‘ibun wa lahwun, sayangnya kita secara dungu menganggapnya terlalu serius. Seperti kita memainkan game, beberapa orang terlalu serius menjiwai karakter dalam game itu. Beberapa orang ada yang membawa karakter dalam game itu ke dunia nyata. Jika di dalam game, ia terus-menerus kalah, ia pun menganggap dirinya sebagai yang sial dalam kehidupan nyata. Jika dalam game dia terus-menerus menang, ia jadi jumawa dalam kehidupan nyata. Ada banyak orang yang terperangkap dalam permainan dunia ini, sampai-sampai ia melupakan dirinya yang sejati. Jiwa yang merpati perak itu, mengalami hal serupa: perannya dianggap sebagai jati dirinya. Jiwa merpati perak itupun kemudian menganggap dirinya sebagai bentuk baru, sebagai bebek, ayam, burung merak, burung nuri, burung gagak, dan jenis burung lainnya.
Sejumlah burung-burung itupun suatu ketika dikumpulkan oleh burung Hudhud dalam kisah Mantiq ath-Thayr, karya Fariduddin Attar (1145-1221M). Semua burung yang sudah tak ingat jati dirinya diingatkan oleh burung Hudhud untuk terbang,
“Tinggalkan keseganan kalian, kesombongan kalian dan keingkaran kalian, karena siapa yang tak mementingkan hidupnya sendiri terbebas dari ikatan dirinya sendiri; ia terbebas dari ikatan baik dan buruk demi yang dicintainya. Bermurah hatilah dengan hidup kalian. Jejakkan kaki kalian di tanah dan melangkahlah ke istana Raja. Karena sesungguhnya kita semua ini mempunyai Raja sejati, ia tinggal di balik gunung-gunung Qaf. Namanya Simurgh dan ia Raja segala burung. Ia dekat dengan kita, tetapi kita jauh darinya … Janganlah kita menutup jiwa kita terhadap yang kita kasihi, tetapi hendaklah kita ada dalam keadaan yang serasi untuk menuntun jiwa kita ke istana Raja kita itu … Cucilah tangan kalian dari kehidupan ini bila kalian ingin disebut pengamal. Demi yang kalian kasihi, tinggalkan kehidupan kalian yang berharga ini, sebagai muliawan. Bila kalian menyerahkan diri dengan manis, Sang Kekasih pun akan memberikan seluruh hidupnya pada kalian!” (Musyawarah Burung, Terj. Hartono Andangjaya)
Burung-burung itu tergugah untuk melakukan perjalanan menemui Simurgh, Raja Diraja Burung. Mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama; masing-masing pun menjadi kawan bagi yang lain dan menjadi lawan dirinya sendiri. Tetapi ketika mereka mulai menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan mereka nanti, maka mereka pun ragu-ragu, dan meskipun jelas mereka berkemauan baik, namun mereka mulai berdalih menyatakan keberatan, masing-masing sesuai dengan wataknya. Satu persatu burung peragu maju mengemukakan keberatannya, ada burung Perkutut, Nuri, Merak, Bebek, Ayam Jago, Humay, Rajawali, Bangau, Burung Hantu, dan Burung Gereja. Burung-burung itu masing-masing mengajukan ketertartikannya seraya mengajukan keberatannya.
Perkutut yang merdu suaranya merasa sudah nyaman dengan pujian para pendengarnya. Hidupnya penuh dengan nada indah dan menghasilkan suasana indah bagi pendengarnya sehingga kehadirannya menimbulkan cinta. “Perjalanan menemui Simurgh ada di luar kekuatanku; cinta para pendengar cukuplah bagiku,” ujar Perkutut. Burung Nuri yang memiliki bulu-bulu indah, terbiasa hidup dalam sangkar manusia yang indah membuatnya kehilangan kepercayaan diri untuk terbang. Aku ingin pergi ke sumber air ini, tetapi Ngengat tidak berdaya mengangkat dirinya ke sayap Simurgh yang besar itu,” kilah burung Nuri.
Merak Kencana dengan seratus ribu warna memperagakan dirinya, putar-putar ke sana-sini, bagai pengantin. Ia mensyukuri keindahannya, ia pernah tinggal di taman Eden bersama Adam-Hawa dan karena beramah-tamah dengan ular penipu ia diusir ke dunia gelap. “Sebenarnya aku selalu berharap agar ada penunjuk jalan yang bermurah hati mau menuntun aku keluar dari tempat yang gelap ini dan membawaku ke rumah-rumah besar yang tinggal berdiri selamanya. Tapi, aku tak mengharapkan akan sampai ke hadapan Raja yang kausebutkan itu, cukuplah bagiku untuk sampai ke gerbangnya saja. Bagaimana dapat kau harapkan diriku akan berusaha untuk sampai ke hadapan Simurgh jika aku telah tinggal di sorga dunia?”, ujar Merak Kencana.
Seekor Bebek dengan malu-malu keluar dari air. Ia merasa dirinya makhluk yang suci, setiap saat terus bersuci dalam air, paling sering bertaubat, berpakaian bersih dan hidup dalam unsur yang suci. Jika air itu mensucikan, seluruh hidupnya telah suci. Bebek itu mengemukakan alasannya, “Begitulah, karena aku hanya berurusan dengan air, mengapa pula aku harus meninggalkannya? Segala yang hidup ini hidup dari air. Bagaimana aku akan dapat melintasi lembah-lembah dan terbang mendapatkan Simurgh? Mana mungkin macam aku ini yang puas dengan permukaan air, merasa rindu untuk bertemu dengan Simurgh?”
Ayam hutan lalu mendekat, cantik tetapi sombong. Ayam hutan terbiasa memakan kerikil batu mutiara, kebiasaan yang membuatnya memiliki warna merah indah. Ia merasa bahwa mencintai batu mutiara adalah mencintai keindahan abadi, bukan yang fana, ia lebih mulia dari orientasi hidup burung-burung lainnya. Ayam hutan berkata, “Bagaimana mungkin aku berharap akan pergi dengan berani ke hadapan Simurgh yang besar, dengan tangan di kepala, kaki di lumpur? Biarlah Keluhuranku sudah jelas.”
Humay atau “si Mujur”, seekor burung mios Persia yang berbadan singa, bersayap Rajawali. Bayang-bayang sayap Humay dipercayai dapat membuat manusia menjadi mujur, bahkan menjadi raja. Humay merasa dirinya bukan burung biasa, semua raja-raja di Persia menjadi mulia karena pengaruh bayang-bayangnya. “Di bawah naungan sayapku setiap orang mencari lindungan. Masihkah kuperlukan persahabatan dengan Simurgh yang besar bila kemuliaan sudah ada padaku karena sifat pembawaanku?”
Rajawali yang perkasa mendekat dengan gagah. Rajawali adalah peliharaan raja dalam perburuan, hanya Rajawali yang boleh bertengger di tangan raja. “Mengapa pula aku harus bertemu dengan Simurgh, meskipun dalam mimpi? Mengapa begitu saja aku harus bergegas kepadanya? Aku tak merasa terpanggil untuk ikut serta dalam perjalanan ini, aku puas dengan sesuap dari tangan raja; istananya cukup bagus bagiku. Ia yang bermain-main demi kesenangan raja, mendapatkan segala keinginannya; dan agar berkenan di hati raja, … Tak ada keinginanku yang lain kecuali melewatkan hidupku penuh kegembiraan dengan cara begini baik dengan melayani raja maupun dengan berburu menurut kesukaannya,” teriak Rajawali.
Bangau yang rumahnya jelita dekat laut di antara danau-danau pantai, merasa terikat dengan air. Bangau itu berkata pelan, “Kalau tak ada air, apa yang akan terjadi padaku?! Walaupun aku tak hidup di dalam laut, jika lautan kehilangan airnya biar sedikit saja pun, hatiku akan terbakar oleh keresahan. Bagi makhluk seperti aku ini, gairahku terhadap laut cukuplah sudah. Aku tak kuat untuk pergi mencari Simurgh, maka harap dimaafkan. Mana mungkin makhluk seperti aku ini, yang hanya mencari setitik air, dapat mencapai persatuan dengan Simurgh?”
Burung Hantu yang hidup di antara reruntuhan dan tempat gelap merasa sudah menjalani asketisme, zuhud. “Aku memang percaya bahwa cinta terhadap Simurgh itu bukan dongengan. Cinta seperti ini tak dihayati oleh mereka yang tak peduli, aku peduli. Tetapi aku ini lemah. Simurgh terlalu mewah bagiku, aku hanya mencintai harta dan reruntuhan ini,” ujar Burung Hantu. Di belakangnya Burung Gereja menyusul. Burung Gereja berbadan lemah dan berhati lembut, gemetar, seperti nyala api, dari kepala hingga kaki. Katanya, “Aku termenung bingung dan patah semangat. Aku tak tahu bagaimana mesti hidup, dan aku rapuh bagai rambut. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti aku ini berusaha mendapatkan Simurgh? Aku tak ingin memulai perjalanan sesusah itu untuk mencari sesuatu yang tak mungkin kucapai. Jika aku mesti berangkat menuju ke istana Simurgh, aku akan binasa di jalan. Cukuplah aku melakukan perjalanan kecil saja.”
Semua burung-burung ini menunjukkan kemelekatan jiwa pada kehidupannya, pada perannya dalam game kehidupan. Hudhud dengan sabar mengajak mereka, sebagian ikut serta sebagian lagi mengundurkan diri. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dan pilihan yang telah dipilihnya masing-masing.
Jika ingin Terbang, Sembelihlah Burungmu!
Burung-burung ini kembali dibicarakan oleh Jalaluddin Rumi (1207 –1273 M), sufi besar yang pada masa kecilnya pernah digendong Fariduddin Attar. Rumi lebih tegas dari Attar, ia berseru, “Bertindaklah seperti Ibrahim, bunuhlah keempat hewan yang menghalang-halangi perjalanan (batin)-mu.” Rumi merujuk surat Al-Baqarah ayat 260, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?“, Ibrahim menjawab, “aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. “Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Keempat burung itu harus disembelih, barulah terbuka kesadaran akan kemahakuasaan Allah. Burung pertama yang harus kau sembelih adalah Bebek yang penuh keserakahan. Bebek tidak pernah puas, tidak pernah berhenti mencari. Di darat maupun di dalam air, dia mencari makan terus. Kerongkongannya seakan tidak berujung. Bebek melambangkan tamak atau rakus. Bebek mempunyai paruh yang cukup tebal dibandingkan unggas lainnya. Bebek dijadikan lambang kerakusan oleh Rumi karena bebek sering mengeruk apa saja dari tanah. Bebek mengeruk makanan entah dari tanah kering maupun yang terbenam dalam air, baik air bersih maupun air yang tergenang sangat kotor sekalipun. Tenggorokan bebek tak pernah santai sedikitpun dan suatu saat pun. Bebek, bagi Rumi, tak pernah mendengar firman Allah kecuali perintah kulū wa-syrabū (makan dan minumlah!)”. Bebek seperti koruptor yang mengeruk apa saja yang ada, entah itu miliknya atau tidak. Rumus hidupnya hanya satu, memenuhi pundi-pundinya dengan cepat, karena itu ia memasukkan semuanya, baik itu intan berlian atau sebiji kacang. Orang seperti ini khawatir ada pesaing yang merebutnya di waktu mendesak. Ia tak hanya mengambil semuanya, ia juga akan takut kehilangan walau hanya sebiji kacangpun.
Hewan kedua adalah Ayam. Bagi Rumi Ayam melambangkan nafsu. Ayam jantan penuh dengan ketagihan nafsu., ia mabuk dalam anggur tawar yang sangat beracun. Ayam jantan tak henti-hentinya menyalurkan nafsunya dari satu betina ke betina lain, bahkan di tempat terbuka. Rumi menyatakan, jika saja nafsu ayam jantan tidak diperlukan untuk melanjutkan penciptaan, maka Bapak manusia, Adam, pun akan memandulkan dirinya karena malu terhadap nafsunya. Konon, nafsu seksual merupakan jebakan utama yang digunakan, “Dengan jebakan ini dan ikatan hawa nafsu, orang suci dipisahkan dari orang durhaka”, ujar Rumi.
Ketiga adalah burung Merak, yang senang pamer. Untuk mencuri perhatian orang dia akan melakukan apa saja. Burung merak melambangkan kesombongan. Merak terkenal dengan sayap berwarna ganda yang sangat indah, laksana insan memamerkan dirinya demi kemasyhuran nama. Cita-citanya cukup satu, mencari perhatian dari manusia tanpa memedulikan baik buruk, hasil maupun manfaatnya. Dirinya mengangkat teman-temannya hanya dengan 100 tanda kasih sayang, kemudian ia mencampakkannya begitu saja. Kegiatannya hanya menangkap orang dengan jebakan cinta dan upaya keras dirinya dengan mengejar orang hingga dapat memburu kemegahan dan kemasyhuran nama.
Burung keempat adalah Gagak. Ini adalah lambang keinginan untuk hidup terus, harapan untuk keabadian. Dia tidak peduli apakah hidupnya bermakna atau tidak. Dia tidak sadar bahwa sepanjang hidup yang dimakannya hanyalah kotoran (bangkai). Suara gagak yang sedang berkoak artinya ia sedang berteriak untuk permintaan panjang ketika berada di dunia. Gagak memohon kehidupan kekal sampai kiamat, sama seperti halnya Iblis yang meminta kepada Allah untuk dipanjangkan umurnya sampai dengan kiamat. Padahal seharusnya ia mohonkan ampunan pada Sang Pencipta.
“Penggal kepala mereka, sebelum mereka merenggut kesadaranmu!,” seru Rumi. Namun kita tetap menjadi burung peragu seperti dalam Kisah Attar. “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.” (Qs. An-Nisa : 66).
Refleksi
Sialan sekali, di depan cermin para burung ini kita ternyata adalah salah satunya! Bahkan bagi saya, keempat burung itu telah menjadi diri ini. Sayalah si rakus yang korupsi, si suka pamer yang sombong, si pelacur nafsu yang terus terangsang, dan ingin kekal tanpa rasa sakit atau mati! Keempatnya telah menjadi diri ini sehingga tak terdengar panggilan mesra Ilahi, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (Qs. Al-Fajr: 27-28).
Panggilan ini bagi Ibn Sina, Attar, dan Rumi diterima sebagai perjalanan untuk Mi’rāj, menemukan diri dan sejarah diri. Sementara bagiku, panggilan ini hanyalah kata-kata mutiara. Mungkinkah kita melakukan perjalanan Mi’rāj? Apa sajakah yang ditemukan bila manusia biasa melakukan Mi’rāj? Kita akan bicarakan pada tulisan berikutnya.
Pustaka
Al-Mubarakfury, Shafiyyurahman. Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah. Riyadh: Darussalam, 1996.
Attar, Fariduddin. Musyawarah Burung (Mantiq ut-Thayr). Diterjemahkan oleh Hartono Andangjaya dari edisi bahasa Inggris The Conference of the Birds (C.S. Nott). Jakarta: Pustaka Jaya, 1983.
Corbin, Henry. Avicenna and the Visionary Recital. Diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Willard R. Trask. Princeton: Princeton University Press, 1988.
Heath, Peter. “Disorientation and Reorientation in Ibn Sina’s Epistle of the Bird.” Dalam Allegory and Philosophy in Avicenna (Ibn Sina): With a Translation of the Book of the Prophet Muhammad’s Ascent to Heaven. Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1992.
Mardiansyah, Lutfi & Syihabul Furqon. Resital Burung Risālat at-Ṭayr Ibn Sina. Marim Pustaka, 2022.