RESOLUSI AWAL TAHUN: SISIFUS TAK PERNAH MENYESAL

Oleh: Bambang Q. Anees

RESOLUSI AWAL TAHUN: SISIFUS TAK PERNAH MENYESAL

31 Desember 2025. Hari-hari telah lepas, 365 telah menghilang. Apakah yang tersisa darinya? Selain keluhan, kecemasan, rasa kesal terhadap segala hal, kecuirgaan, rasa iri yang akut, dan putus asa yang sangat dalam sehingga sudah tak disadari lagi. Selain itu, apakah yang tersisa? Hari-hari sudah raib, beberapa prestasi mungkin ada namun tak lebih seperti gemerlap kembang api: berpendar penuh pukau sebentar, lalu kegelapan lagi yang meraja.

Adakah 1 tahun ini prestasi kita? Rutinitas mungkin ada, seperti Sisifus yang terus mendorong batu ke atas bukit lalu menggelindingkannya ke bawah. Segera ia berlari ke bawah bukit, mendorong lagi ke atas, menggelindingkan ke bawah. Begitu seterusnya. Bukankah kita berlaku seperti itu. Bangun tidur, pergi ke kantor (walau tak jelas apa yang dilakukan), pulang ke rumah, tidur, berangkat lagi. Sungguh Sisifus. Lihat saja apa yang disebut sibuk para pekerja bank. Datang, duduk, membuka komputer, menerima keluhan, memberikan layanan, sesekali istirahat dan menguap, lalu sorenya pulang ke rumah dengan rasa capek. Esok paginya begitu lagi. Lihatlah para dosen, bangun pagi, masuk kelas dengan materi ajar yang sama, metode yang itu-itu juga, dan menemukan mahasiswa yang terus-menerus dikeluhkan. Kelas selesai, tak ada aktivitas selain menggunjing, sore menjelang, dan pulang. Esoknya, begitu lagi. Sungguh Sisifus.

Sisifus mungkin lebih mulia, karena ia mendorong ke atas dan menggelindingkan ke bawah sebagai perlawanan. Para dewa yang murka karena pemberontakan, menghukum Sisifus dengan rutinitas yang sia-sia. Para dewa ingin mengubah Sisifus, ingin melihat Sisifus menyesal karena telah melawan. Sisifus tak berdaya diringkus hukuman itu, namun ia tak hendak menyerah. Ia menerima hukuman, sekaligus ingin menunjukkan perlawanan: manusia tetap dapat mencipta makna dalam kerutinan itu. Segeralah hukuman itu menjelma menjadi unjuk rasa. Suatu ketika mungkin para dewa akan merasa terganggu oleh kekeraskepalaan Sisifus menerima hukuman dengan hati yang riang.

Tetapi kita tak seperti Sisifus, kita yang tak pernah melawan ini menerima rutinitas juga. Tak sekadar rutinitas fisik, juga rutinitas pikiran yang berputar antara kesal, marah, tak puas, iri, dan rasa malas. TAk ada perlawanan pada rutinitas yang terpaksa kita alami ini, semua terpaksa dilakukan. Hasilnya, hari-hari yang tanggal seperti dedaunan di musim kemarau. Satu persatu tanggal tak termaknai. Tak terasa, sudah hari Senin lagi. Tak terasa sudah ujung tahun. Tak tak terasa sudah ujung usia.

Innit tahamtu nashiihasy syaybi fi ‘adzalii Wasysyaybu ab’adu fi nushhi aniithuhami, tulis penyair Bushiri dalam Qasidah Burdah. Pada ubanpun, yang menginterupsi usiaku dengan tulus aku tak percaya. Padahal kau tahu, nasihat uban pastilah jujur tanpa pretensi. Uban yang terus menggejala di kepala mestinya jadi pengingat bahwa kita semakin menua, namun kita mencoba menipunya dengan semir hitam. Setiap bercermin dan melihat uban, mestinya ada kesadaran untuk memperbaiki diri dalam menghargai waktu. Tapi yang muncul adalah gerundelan, rasa iri pada prestasi orang lain, dan ketakberdayaan menyadari diri tak sampai ke titik manapun. Lalu Bushiri meneruskan syairnya, Fa inna ammaroti bisyu-i, matta’adzat min jahliha binnadziri syaibi wal harami (Karena nafsu yang cenderung pada kekeliruan takkan bisa membuat seseorang bisa mendengar. Seperti abainya nafsu menerima interupsi uban dan kepikunan).

Rupanya benar dugaan Bushiri, nafs ammarah begitu menguasai diri ini. Nafs yang selalu mendorong pada kesalahan, kekeliruan, dan kemarahan. Nafs ini terus saja mendorong pikiran untuk menemukan kesalahan dan kekeliruan orang lain. Seraya pihak lain, kondisi cuaca dan politik, dijadikan terdakwa pada seluruh kegagalan dan ketakberdayaan. Benar kata Bushiri, nafs ammarah begitu kuat pada diri, sehingga saat bertemu dengan apapun yang terlihat melulu kesalahan dan kekeliruan, seraya kemarahan. Maka tak ada syukur, itu berarti tak ada juga tambahan nikmat dari Tuhan. Karena tanpa syukur takada alasan Tuhan kembali memberi. Hanya yang bersuka cita pada setiap pemberianlah yang akan mendapatkan tambahan pemberian baru (QS Ibrahim ayat 7).

Bushiri kemudian banting stir. Ia yang semula menggunakan kepiawaiannya bersyair untuk meraih pujian dunia, viral dan tepuk tangan, dan honor besar yang segera, memulai keinsyafannya. Ia gunakan syairnya untuk memuji Sayyidina Muhammad, bukan untuk viral namun untuk menyembuhkan rabun uban yang diidapnya. Mungkin itu juga yang harus kulakukan pada tahun 2026. Mungkin kalian mau ikutan, mari terus membaca.

 

Sejumlah Catatan Diskusi

Saya dan sejumlah teman muda mencoba memaknai hari-hari di tahun 2025 dengan membuat diskusi rutin, juga tahlil dan tawasul. Di ruang kecil sebagai anugerah dari kampus UIN Bandung, kami berdiskusi dan menulis. Beberapa tulisan disalurkan pada website values Institute. Hasilnya lumayan. Dalam 2 bulan, ada 10. 000 pembaca. Di luar dugaan. Di tengah rasa putus asa bahwa gen Z, gen Milenial, dan gen lainnya tak lagi mau membaca, 10,000 adalah jumlah yang cukup mengoreksi anggapan negatif itu.

Ada banyak tulisan yang disalurkan pada website itu, materinya bermacam-macam, dari Filsafat, Studi Quran, Tafsir, Hadits, ekologi, perenungan, dan lainnya. Narsisme sesekali bermunculan pada tulisan-tulisan ini, tentu narsisme dalam arti positif yaitu unjuk bahan bacaan dan kecanggihan membuat argument. Sejumlah teman-teman (Arken, Syaiful Anwar, Arip Budiman, Fakhri Afif, Alif JK, Syihabul Furqan, Radea, Dede Rodliyana, Dzarin) mengisi waktu luang di antara jam mengajar dengan menuliskan kegelisahan atau catatan dibuang sayang dari buku yang sudah dibaca. Beberapa saling meledek ihwal siapa yang lebih banyak dibaca (rata-rata perhari ada 500-1000 pembaca yang mengakses tulisan di values). Beberapa saling menantang, tulisan dibalas dengan tulisan. Semuanya berlangsung dinamis dan rancak.

Values sengaja membuat rubrik bagi tulisan-tulisan “liar”. Ada ide apapun, tuangkanlah tanpa batasan. Sisanya, buatlah menjadi artikel jurnal. Kira-kira platform yang diambil oleh Values. Artikel jurnal, bagi kami terlalu teknis dan sederhana (ide-idenya kadang terlalu dibatasi, sehingga tak mewadahi kompleksitas pikiran yang bercecabang mengikuti gairah neuron). Karena itu, pancinglah ide dengan menulis artikel “liar” di values, lalu setelah semua tersajikan, pilahlah mana yang bisa dikerucutkan menjadi artikel jurnal ilmiah. Menulislah untuk mengeksplorasi gagasan, bukan karena ingin dimuat jurnal ilmiah. Karena itu, hamper semua tulisan yang masuk dimuat tanpa seleksi yang ribet. Values memang hanya media udar gagasan saja.

Lalu dari diskusi, kami menemukan beberapa catatan menarik. Pertama, ada perbincangan keilmuan keislaman yang terus berlangsung di belahan sana. Upaya untuk merumuskan ilmu tersendiri yang terlepas dari kontruksi Barat atau penjajah, terus berlangsung. Kritik atas konstruksi modern, pencarian model tersendiri, rekonstruksi ulang temuan-temuan keilmuan, dan terobosan untuk rumusan keilmuan Islam yang lebih produktif terus berlangsung di luar sana. Sementara di sini, di negeri ini, geliat itu terbatasi oleh kepentingan dimuat dalam jurnal. Tujuan utama untuk dimuat dalam jurnal ilmiah terscopus membuat isi jadi tidak penting. Bukti isi tidak penting adalah tak ada diskusi bergairah terhadap isi tulisan jurnal itu. Yang muncul hanya rasa kagum dan sedikit ‘ngiri” melihat temannya dimuat di jurnal terscopus. Tentu, gejala ini bukan kesalahan, hanya kekurangan saja.

Kedua, diskusi mengenai tatanan semesta menunjukkan adanya kesadaran baru mengenai realitas ketiga, realitas imaginal. Realitas bukan dualisme, realism-idealisme, fisik-pikiran, namun ada realitas ketiga yang disebut imaginal world. Realitas ketiga ini hanya bisa dipahami secara ontologis, jika dilihat “dari atas” bukan “dari bawah”. Dari bawah berarti dari material, diabstraksi menjadi konsep, lalu jadi teori yang dianggap dapat menjelaskan yang material. Sehebat-hebatnya cara pandang “dari bawah” tetap akan terbatas dengan keterbatasan dunia fisikal sehingga hanya dapat mencapai kesimpulan paradigmatic belaka. Cara melihat dari bawah ini membuat apa yang diwartakan agama seperti ruh, dunia ruh (alam kubur, alam akhirat, alam penciptaan alastu) tak mungkin dipercayai dan karenanya tak diperbincangkan secara ilmiah.

Melihat “dari atas” berarti dari penciptaan, dari bentuk sederhana (basith) menjadi kompleks dan semakin mematerial. Bukan dari yang terindera, namun dari ada yang memulai segalanya. Saat melihta “dari atas”, realitas sejati bukanlah sejauh terindera, justru yang terindra adalah realitas yang miskin dan membatasi. Melihat dari atas berarti menerima bahwa pikiran hanyalah percikan dari Aql (Yang Maha Berpikir), dan realitas terindera adalah bentuk pucat dari yang dalam terpikirkan. Apa yang terindera seperti antar-muka pada media digital, hanya yang terlihat saja, dan tak dapat menerobos system coding di belakangnya; karena tak menerobos system codingnya, kita pun tak sempat memikirkan kecerdasan pembuatnya. Melihat “dari atas” berarti menemukan system coding dan algoritmanya, seraya mengagumi pembuat coding semesta ini. Dari sini doa dapat dipahami sebagai permohonan mengubah system coding dan algoritma. Dari perspektif system coding, apapun bisa diubah, karena itu doa menjadi rasional untuk dipanjatkan. Nah, wilayah pertemuan antara manusia dengan pembuat coding semesta itu disebut imaginal world.

Ketiga, semakin dibaca semakin muncul kekaguman atas karya turats. Beberapa diskusi membaca Taymiyah, Al-Razi, Shabestari, karya-karya tafsir, juga karya-karya ulum al-hadits. Hasilnya menakjubkan. Taymiyah, misalnya, membuat kritik terhadap logika Aristotelian (via karya al-Razi) yang menghasilkan pemikiran yang baru dikemukakan Wittgenstein beberapa abad kemudian. Al-Razi, Fakhruddin al-Razi, menunjukkan kejeniusannya mengkonstruksi system pengetahuan baru yang islami namun tetap filosofis. Beberapa karya tafsir menunjukkan orientasi hermeneutis khas Islam yang mendahului gairah hermeneut muslim modern. Pemikir hadits menujukkan kedinamisan dalam memaknai sanad. Kesemuanya menunjukkan ranah yang sangat luas bahkan sangat luas, sehingga tak ada alasan karya akhir mahasiswa terjebak pada pengulangan tema-tema yang sama.

Tentu ada banyak hal lain yang dihasilkan dari diskusi dan penulisan Values. Tak semua dapat dikemukakan, bukti dari aktivitas akan terlihat pada efeknya di kemudian hari, atau di kemudian tahun. Seperti kartu buangan pada permainan remi, dapat saja kartu buangan itu menjadi bahan temuan untuk orang lain, dapat juga tak berarti apa-apa. Tergantung pada konstruksi kartu yang sedang dimiliki orang lain. Demikianpun diskusi dan menulis udar gagasan, dapat saja apa yang dikeluarkan itu berguna bagi yang lain dapat juga tak berarti apa-apa. Namun jika kartu di tangah tak dibuang, permainan tidak berlangsung. Peluang untuk dapat kartu baru yang melengkapi kartu cita-cita menjadi tidak mungkin. Maka, apapun hasilnya, kartu yang dianggap tak perlu harus dikeluarkan, sambil menata kartu-kartu yang dianggap akan menemukan bentuknya di masa mendatang (ini sebenarnya kesimpulan dari retreat di Sari Ater Subang).

 

Mengejar Barakah

Ada satu buku menarik dari Mohammed A. Faris, judulnya The Barakah Effect: More with Less, terbit tahun 2024 di California. Farish mengingatkan kaum Muslim mengenai barakah, atau berkah, yang dilupakan. Jika yang hendak dikejar dalam hidup ini produktivitas, banyaknya hasil (output dan outcome) ketimbang input dan prosesnya, kenapa umat Islam melupakan barakah. Begitu kira-kira titik awal pemikiran Faris.

Orang modern menganggap bahwa banyaknya hasil (output dan outcome) dibandingkan input dan susah payahnya proses ditentukan oleh rencana dan kerja manusia. Islam tidak demikian, ujar Faris. Islam memiliki doktrin berkah, yakni bertambahnya manfaat dari sedikit, berkurangnya bencana dari yang keliru, dan munculnya kebahagiaan dari apapun yang dihasilkan. Orientasi pada hasil berdasar kuasa manusia menghasilkan eksploitasi pihak lain, entah eksploitas alam atau manusia lain. Ujungnya tentu saja bencana. Kalau ingin hasil melimpah kenapa tak menginginkan berkah saja? Tuhan sudah menjamin bahwa 1 akan berubah menjadi 700. Perubahan 700 kali lipat ini dapat disebut produktivitas oleh orang modern, namun perubahan jumlah ini hanya mungkin ketika Tuhan campur tangan. Maka orientasi berkah harus melibatkan Tuhan sedari awal.

Faris mengajukan model Petani sebagai Pekerja Berkah. Petani adalah fallah, satu akar kata dengan falah (kebahagiaan, kemenangan). Petani dan bahagia, petani dan sukses, petani dan kemenangan, adalah identic. Maka jadilah petani, jika ingin mendapat berkah.

Petani memiliki rumus hidup yang unik, tidak seperti orang modern yang antroposentris petani selalu melibatkan kuasa Ilahiah dan kenyataan alamiah. Rumus hidup petani adalah “Free Will + Natural Laws + Allah’s Will = Outcome”. Hasil ditentukan dari usaha manusia yang penuh kebebasan, sembari menyadari adanya hokum alam yang tak bisa diubah (biji mangga akan menumbuhkan pohon mangga, misalnya) dan mengharap adanya campur tangan ilahiah dalam setiap aspek. Petani tentu tidaklah Qadariyah (karena menyadari adanya Allah’s wills), juga tidak jabariyah (karena ada unsur usaha, free will manusia pelaku). Rumus hidup petani berada di antara keduanya, mungkin seperti kasb-nya Asyari.

Seorang petani tentu saja berusaha keras, juga memiliki rancangan akan apa yang dilakukannya. Jadi ada kerja manajerial dalam kerja petani. Namun ia tetap menyesuaikan dengan alam. Tak mungkin menanam padi di waktu kemarau, tak mungkin berharap pohon mangga dengan menanam biji kacang hijau. Bersamaan dengan itu, petani sangat menyadari adanya factor x dalam yang menentukan proses dan hasil, karena itu ia berharap pada Tuhan sedari awal, sedari niat. Barulah setelah itu, outcome diperoleh dengan penuh keberkahan.

Faris mendorong orang beriman untuk memilih mindset petani ini.Mulai dari menanam benih (kata benih, nawat, dalam bahasa Arab satu akar kata dengan Niat) dengan niat membuat Allah senang (ridla), lalu menikmati proses (memeriksa apakah prosesnya masih dalam niat menyenangkan Allah atau tidak) daripada menggelisahi hasil. Petani pada saat berproses penuh dengan rasa syukur dan sabar. Petani niscaya sabar menunggu hasil dari apa yang diusahakannya, petani tak pernah grasa-grusu karena pohon apapun tak pernah tumbuh tergesa-gesa. Petani penuh rasa syukur bukan karena hasil, namun karena pertumbuhan dan kondisi yang ditanamnya. Saat padi bertumbuh walau satu senti, petani bersyukur, padahal tak ada keuntungan yang didapatkannya langsung. Saat mulai bertumbuh putik buah, petani juga bersyukur. Saat hama tak menyerang, atau hanya menyerang sebagian, petani bersyukur tiada kira. Semuanya penuh sabar dan syukur. Pada petanilah kita menemukan bukti hadits ”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.”

Saat saya membaca buku Faris ini, saya membayangkan sejumlah dosen dan guru yang menggunakan mindset petani. Dosen-Petani tak melihat hasil, namun menikmati dengan penuh rasa syukur pada setiap senimeter pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya. Dosen-petani akan peduli pada hama yang mengganggu pertumbuhan, dan pupuk yang mendorong pertumbuhan. Guru-petani tak pernah menginginkan bibit padi jadi mangga, bibit mangga jadi semangka, ia tahu potensi dan kemungkinan jalur aktualitas dari peserta didik. Lalu guru-petani terus-menerus berdoa karena yakin Tuhanlah yang memberi tambahan ilmu dan memberi rejeki pemahaman, Rabbi zidni ‘ilman, warzuqni fahman.

Mungkinkah? Mari kita coba tahun 2026

 

Doa Akhir Tahun

Menyadari diri sebagai Sisifus setengah hati, hanya doa yang mungkin dilantunkan. Doa yang didasari oleh keyakinan bahwa hidup kita ditentukan oleh system coding yang dibuat Allah Sang Maha Perencana. Jika Tuhan ubah algoritma kita, pastilah kita akan berubah. Umar bin Khattab yang semula biadab saja, musuh pertama Nabi Muhammad saat awal-awal kewahyuan di Makkah, dapat berubah drastic setelah membaca awal surat Thaha. Sejarah mencatat bahwa perubahan Umar bin Khattab dimulai dari doa Rasulullah.

Untuk itu mari berdoa agar tahun 2026 lebih banyak berkah yang melimpah buat aktivitas kita. Mungkin ada baiknya kita berdoa untuk diri kita sendiri. Mbah Maimun Zubeir pernah mengijazahkan agar sesekali kita kirim Fatihah untuk diri sendiri, untuk roh kita sendiri. Sekian lama roh itu ada dalam diri, namun tak pernah disapa. Cobalah baca Ila Ruhi fi jasadi al-Fatihah, (Kepada ruh yan ada dalam jasadku, al-Fatihah). Roh yang tak pernah disapa membuatnya tidak eksis. Kepribadian yang selama ini disebut kepribadian kita bukan berasal dari ruh, tapi dari shadow (begitu kata Jung). Lalu buatlah afirmasi gaya Ho’oponopono, “Aku Menyesal, Maafkan aku, aku mencintaimu, terima kasih”. Ucapkan berulangkali dan fokuskan pada roh kita sendiri. Kemukakan penyesalan karena telah mengabaikannya, ajukan permohonan maaf karena sering mengisi ruh dengan kekesalan dan kemarahan. Kemukakan pernyataan cinta dengan tulus, dan jangan lupa terima kasih.

Allahumma man laa yarghabu fi-l-jazaai wa yaa man laa yandamu ‘alal ‘atha- (Ya Allah wahai Dia yang tidak mengharapkan balasan wahai Dia yang tidak menyesali pemberian) Wa ya man laa yukafi-u ‘abdahu ‘ala sawa- (wahai Dia yang tidak membalas dengan setimpal).

Anugerah-Mu permulaan Ampunan-Mu kebaikan Siksa-Mu keadilan Ketentuan-Mu sebaik-baiknya pilihan.

Jika Engkau memberi tidak Kaucemari pemberian-Mu dengan tuntutan Jika Engkau menahan tidak Kautahan pemberian-Mu dengan kelaliman. Kausyukuri yang bersyukur pada-Mu padahal Kauilhamkan pada-nya mensyukuri-Mu/ Kausembunyikan aib orang yang kalau Kaukehendaki Kaudapat mempermalukannya Kau sangat pemurah kepada orang yang kalau Kaukehendaki Kaudapat menahannya Keduanya layak Kaupermalukan atau Kautahan Namun Kautegakkan perbuatan-Mu di atas karunia Kaualirkan kuasa-Mu di atas ampunan

Kausambut orang yang menentang-Mu dengan santun. Kaubiarkan orang yang berbuat zalim pada dirinya. Kautunggu mereka dengan sabar sampai kembali kepada-Mu. Kautahan mereka untuk tidak segera bertobat supaya yang binasa tidak binasa karena-Mu dan tidak celaka orang yang celaka karena nikmat-Mu, tetapi hanya setelah Engkau lama membiarkan mereka dan setelah Kausampaikan rangkaian bukti atas mereka sebagai kemurahan ampunan-Mu, wahai Yang Maha Pemurah sebagai anugerah kelembutan-Mu, Wahai yang Maha Santun.

Engkaulah yang membukakan kepada hamba-hamba-Mu pintu menuju maaf-Mu. Kaunamakan pintu itu taubat Kauberikan petunjuk dari wahyu-Mu ke arah pintu itu supaya mereka tidak tersesat. Dari situ Engkau berfirman (Mahamulia nama-Mu): Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang tulus mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahanmu dan masukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka seraya mereka berkata: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

 

Sallimna Khallisna. Aaamiin.