Oleh: Rachmatullah Arken

Sejarah sebenarnya hanyalah upaya getir manusia merawat lupa.
Seperti dituturkan Wansbrough, ada suatu umat yang kian lama kian lupa. Ia membayangkan begini: Generasi pertama pergi ke hutan, menyalakan api, berdoa, dan keajaiban pun terjadi. Entah dari Tuhan atau sejenisnya. Generasi kedua menerima kebiasaan itu, mereka pergi ke hutan seraya mengingat doa, namun tak lagi bisa menyalakan api. Kemudian generasi ketiga sudah tak lagi tahu ada ritual menyalakan api, lupa juga tentang doa yang harus dirapalkan, tapi masih tahu tempatnya. Karena itu mereka tetap pergi ke hutan.
Dan generasi keempat? Mereka tak punya api, tak hafal doa, tak tahu jua di mana letak hutannya. Tapi mereka bisa membayangkan tentang apa yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Karena itu mereka bercerita. Dan bagi mereka, cerita itu entah nyata atau tidak, punya tuah yang sama.
Wansbrough membayangkan bahwa sejarah mirip dengan generasi keempat itu. Sejarah seperti tindakan yang cemas dan pilu untuk memanggil kembali masa lalu. Oleh mereka yang tak lagi punya hutan, api, atau doa. Kita yang hidup di hari ini menyebutnya sebagai mimesis. Menyangka bahwa kita sedang memungut apa yang tercecer dari fakta, padahal kita hanya menenun satu cerita. Tapi begitulah adanya. Sebab masa lalu memang tak pernah benar-benar hadir di hadapan kita. Yang ada hanya kata-kata. Yang ada hanya cerita.
“Res ipsa loquitur,” adagium dalam hukum sejarah berbunyi. Bahwa benda, objek, artefak masa lalu bisa bicara sendiri. Tapi benarkah?
Saya membaca ini dari Wansbrough. Ketika dalam perkuliahannya, yang saya yakin tak menarik untuk generasi Z hari ini, bahwa sejarah tidak bisa dibayangkan sebagai ruang arsip yang sunyi. Dalam arsip itu semua benda peninggalan harus dianggap bisu. Mereka tak berbunyi, tak mampu bernyanyi, apalagi mengisahkan dirinya sendiri. Sebuah nisan hanyalah batu, sampai seorang sejarawan datang, membersihkan debu dan airmata di celahnya, dan membuatnya bisa bercerita. Wansbrough tentu saja mencemooh ilusi itu. Baginya, sejarah bukanlah fotografi yang polos. Sejarah, sekali lagi adalah sebuah mimesis: sebuah tiruan, sebuah penciptaan ulang peristiwa di masa lalu.
Kita sering lupa bahwa sejarawan, seperti halnya novelis, adalah seorang penyusun plot. Ia memilih apa yang harus dikenang, apa yang mesti dibuang. Maka ketegangan yang abadi hadir di sini. Leopold von Ranke misalnya, pendeta agung historiografi Jerman abad ke-19, pernah bermimpi tentang sejarah sebagai sebuah cermin yang bening. Ia ingin menuliskan masa lalu apa adanya, sebagaimana yang terjadi sesungguhnya. Wie es eigentlich gewesen, ungkapnya. Ia ingin jujur, ingin objektif. Tapi kejujuran sering kali tersandung pada batasnya sendiri, yakni bahasa.
Wansbrough, yang datang jauh kemudian, melihat retakan pada cermin bening ala Ranke itu. Ia kemudian mengingatkan kita pada blurred genres, sebuah wilayah yang ambigu, di mana batas antara fakta dan fiksi tak lagi tegas. Lalu di wilayah yang kabur itulah sejarawan bekerja. Ia menyusun narasi, membangun cerita, tapi dilarang mengaku sedang berimajinasi. Ia memungut serpihan dokumen, ceceran bukti, lalu dengan lem bernama ‘interpretasi,’ ia menyebutnya sejarah yang sesungguhnya.
Sementara kita, para pembacanya, terlanjur lupa bahwa narasi sejarah yang dibaca di buku-buku teks adalah hasil dari logika sintaksis, bukan pantulan langsung dari realitas. Seperti generasi keempat yang tak pernah melihat api itu, sejarawan hanya mereka-reka panasnya berdasarkan bayangan abu yang tersisa.
Di titik itulah saya kira, selaku pembaca, dituntut untuk tidak lugu. Membaca sejarah bukanlah layaknya membaca kalimat-kalimat wahyu, melainkan sebuah tafsir. Kita tak boleh hanya menelan apa yang diceritakan, tapi juga mesti mau melacak bagaimana narasi itu tersampaikan. Kapan dan di mana sang sejarahwan menarik garis? Asumsi apa yang dipakai? Sebab di balik setiap kronologi, selalu ada ideologi yang bersembunyi. Ada tawa yang dikeraskan bisa jadi, lalu ada rintihan yang diam-diam disisihkan ke catatan kaki.
Mungkin akhirnya kita memang tak bisa lari dari takdir generasi keempat itu. Kita tak punya api, kita kehilangan hutan, dan doa-doa lama telah menjadi asing. Tapi kita punya rindu akan asal-usul. Dan sejarah, dengan segala tipu dayanya yang memukau, adalah cara kita merawat rindu itu agar tak beku. Ia adalah dongeng yang kita sepakati sebagai kebenaran, agar kita bisa terus berbohong tentang lupa. Tentang ingatan yang sudah tak lagi jelas bentuknya.
Dus, itu pula bahayanya. Ketika sejarah hanya dianggap sebagai cerita pelipur lara, ia mudah takluk di hadapan mereka yang memegang pena. Oleh pena itu, “kisah tanpa api” bisa dipoles menjadi monumen yang dingin. Kita dipaksa untuk iman bahwa masa lalu adalah garis lurus menuju kejayaan hari ini. Padahal seperti diungkap Wansbrough, garis lurus itu hanyalah ilusi. Sejarah tidak pernah semulus itu. Ia bisa jadi labirin yang buntu. Padanya, ada kemungkinan lain yang sempat terjadi, namun sengaja dimatikan agar tak mengganggu plot narasi.
Tapi ilusi itu pula yang membuat kita bisa bangga. Dan lagi, apa mungkin kita bisa hidup tanpa sempat bertepuk dada? Saya ragu. Manusia, tampaknya, adalah makhluk yang tak tahan tanpa ilusi. Tanpa api yang asli sekalipun, cerita tentangnya sudah lumayan untuk sekadar menghangatkan. Kita membutuhkan dongeng karena kita memang cengeng. Sebab realitas bisa menikam iman dengan beringas.
Saya mendadak ingat Jenson dalam How the world lost it’s story itu: kita terlanjur hidup dalam dunia yang hilang kisah. Sedang kisah (baca: sejarah) adalah unggun dunia. Setiap anak butuh cerita heroik agar bisa bermimpi dengan baik. Barangkali tugas kita memang hanya harus membiarkan generasi keempat itu terus bertutur. Biarkan juga sejarawan terus menuliskan cerita, sejauh kita yakin semua itu tanda sementara. Sebab di hadapan semesta yang tak bicara, hanya itu yang kita punya.[]