SALAH KAPRAH MEMAHAMI “VERSTEHEN”

Oleh: Agung Sholihin

Salah Kaprah Memahami Verstehen

Ada satu kesalahpahaman yang kerap beredar dengan wajah percaya diri: bahwa Verstehen (baca: memahami) adalah semacam izin akademik untuk meninggalkan kebenaran objektif. Seolah-olah begitu seseorang mengucap kata itu, fakta boleh dilelehkan, data boleh dikesampingkan, dan segala sesuatu sah selama terasa “dimengerti”. Dalam logika ini, sebuah klaim tak lagi diuji, cukup saja dirasakan. Sebuah persoalan yang bersangkutan dengan klaim kebernaran berubah dari sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan menjadi sesuatu yang sekadar cukup dialami, haram disentuh, apalagi untuk diperiksa. Di titik inilah Verstehen sering diseret ke ruang gelap yang bukan rumah sesungguhnya.

Padahal, Verstehen tidak lahir sebagai pemberontakan liar semacam itu terhadap Erklären. Ia muncul dari kegelisahan yang terang di abad pencerahan: kegelisahan melihat manusia diperlakukan seperti batu, seperti planet, seperti benda mati yang dianggap bisa dijelaskan tuntas oleh hukum sebab-akibat. Ya, Wilhelm Dilthey, yang namanya sering dikutip tapi ternyata jarang dibaca dengan sabar, sebab ia sesungguhnya tidak sedang mengusulkan relativisme murahan. Ia hanya bertanya: mungkinkah pengalaman manusia seperti cinta, iman, penderitaan, diperas ke dalam rumus yang sama dengan jatuhnya apel?

Pada tahap awal, kita harus memahami (Verstehen) terlebih dahulu bahwa Erklären memang bisa bekerja dengan baik pada alam. Ia mengukur, menghitung, menautkan sebab dan akibat; terlebih jika kita mengikuti perkembangan sainsyang begitu pesat sepanjang abad 20 hingga awal abad 21 ini. Erklären bertanya “mengapa” dengan harapan jawaban yang stabil dan berulang. Meski ketika pertanyaannya beralih kepada objek yang berupa manusia, jawaban semacam itu sering terdengar dingin; kaku dan tidak menjelaskan kompleksitasnya. Seperti adanya fakta seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidaklah bisa dipahami sekadar sebagai peristiwa biologis atau statistik demografis. Ada sesuatu yang tak terjangkau oleh alat ukur luar, oleh penjelasan yang terverifikasi secara kasar, sesuatu yang hanya bisa dipahami jika kita memeriksanya ke dalam.

Di situlah Verstehen mengambil tempat, bukan untuk menyingkirkan penjelasan, melainkan untuk melengkapinya, untuk memperdalamnya. Ia tidak berkata bahwa sebab-akibat itu salah, tetapi bahwa ia belum cukup untuk mengetahui lebih jauh. Dalam bahasa hermeneutis, ia mencoba menggapai lapisan makna dari sebuah peristiwa, bukan menghapus lapisan fakta objektifnya. Ia mengajak kita mendekat, bukan menutup mata. Ia mengajak kita untuk lebih tercerahkan, bukan terjerembab dalam kekaburan terlebih kebutaan akan apa yang utuh benar-benar terjadi. Dan di sini letak ironi pertama: sebuah metode yang lahir untuk memperdalam pemahaman justru sering disalahfahami sebagai jalan mengamputasinya; sebuah pandangan yang tak Verstehen tentang yang Verstehen itu sendiri.

Kesalahkaprahan itu mungkin berakar dari kekeliruan membaca kata “subjektif”. Dalam wacana populer, subjektif sering dianggap sinonim dengan sewenang-wenang. Di sinilah Verstehen sering disalahgunakan: bukan sebagai metode, melainkan sebagai alibi. Ketika argumen lemah, orang berkata, “ini soal pemahaman, bukan fakta.” Ketika data membantah keyakinan, ia berlindung di balik pengalaman personal. Verstehen dipelintir menjadi tameng, bukan jembatan. Sebuah ironi, sebab Verstehen sejatinya menuntut keterbukaan terhadap koreksi, bukan kebal terhadapnya. Padahal, dalam tradisi hermeneutik, subjektivitas bukan lisensi untuk asal merasa, melainkan justru tanggung jawab untuk memperdalam kebenaran dengan menempatkan diri secara jujur di hadapan teks, tindakan, dan sejarah yang objektif. Verstehen hakikatnya menuntut dalam praktiknya disiplin Erklären sekaligus kesiapan batin untuk bersedia mengarungi kelindan kejiwaan dan kesadaran manusia dalam menjalini makna hidupnya.

Memang, kita sering menemukan sebagian dari mereka yang bekerja dengan pisau tajam Erklären begitu lantang dan bahkan tanpa belas kasih dalam menyatakan “kebenaran objektif” yang sering kali mengabaikan perasaan pendengarnya. Bahkan lebih jauh (baca: lebih sadis) dari itu sering kali justru membekap tanpa ampun atas sebuah klaim kebenaran yang dianggapnya palsu, tanpa sama sekali memberinya ruang untuk bernafas. Objektivitas diperlakukan seperti azimat: cukup diucapkan, dan ruang memahami lebih jauh dianggap tidak diperlukan. Pada titik ini, Verstehen seakan-akan menjadi bidaah yang harus segera dijegal, dan penafsirnya harus pula dijagal. Namun, sekali lagi, kenyataan yang menyesakkan demikian bukan berarti menjadi sah dalih untuk melakukan yang sebaliknya.

Gadamer yang datang di kemudian hari mengingatkan kita–dengan lebih terang lagi, bahwa kerja Hermeneutis, kerja memahami yang lebih luas, hakikatnya adalah peristiwa dialogis. Dialog antara dua subjek yang bukan hanya sekadar dialog dua arah. Akan tetapi, dialog yang ditengahi oleh sesuatu yang objektif sebagai wahana pemaknaannya, yaitu–setidaknya adalah Bahasa. Gadamer menekankan, bahwa selain seorang penafsir yang akan selalu membawa wawasan, tradisi dan luka-luka yang menjadi latar belakang kesadarannya sebagaimana subjek yang hendak didekati, bahasa (atau artifact non-bahasa) yang menjadi penengahnya juga memiliki endapan sejarahnya tersendiri.

Latar belakang-latar belakang dan endapan sejarah itu lah yang oleh Gadamer kemudian disebut sebagai Horizon. Horizon adalah cakrawala, sekaligus–sebagaimana makna harfiahnya yaitu–batasan, sebuah definit yang kita bukan hanya tidak boleh keluar dari situ, akan tetapi secara alamiah tidak akan bisa ke luar dari berbagai keterbatasan (definit-definit) kita sendiri. Dan proses Hermeneutika adalah proses peleburan dan rekonstruksi, prosesdialektis di antara berbagai definit-definit, definisi-definisi, konseputalisasi-konseptualisasi yang bersarang di dalam kesadaran itu sendiri sehingga melahirkan sintesis akan kebenaran yang lebih utuh.

Jika Erklären bertanya “apa penyebabnya”, Verstehen bertanya “apa maknanya”. Dua pertanyaan ini tidak saling meniadakan. Sebuah revolusi dapat dijelaskan secara ekonomi, selain itu pula bisa diperiksa makna psikisnya: endapan-endapan simboliknya di dalam harapan, ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, hingga depresi yang dirasakan oleh masyarakatnya. Menghapus salah satunya bukan kemajuan metodologis, melainkan amputasi intelektual dan jelas reduksi akan kebenaran itu sendiri. Erklären yang menutup pintu pada proses pemaknaan akan melahirkan penjelasan yang kering, sebaliknya, Verstehen yang direduksi menjadi empati kosong, sekadar merasa iba tanpa analisis, tanpa verifikasi, tanpa keberanian untuk mengatakan “ini keliru”, akan sangat mudah tergelincir menjadi pembenaran dan berubah menjadi sentimentalisme. Dan sentimentalisme, seperti kita tahu, sering kali adalah saudara dekat manipulasi.

Ingatlah, bahwa hakikat dari berpikir adalah kesediaan untuk ragu. Tidak terkecuali Erklären pula Verstehen,keduanya mewarisi semangat itu. Kedua-duanya punya kewajiban untuk menetapkan kebenaran sementara sekaligus menyediakan pintu untuk orang lain masuk ikut mematangkannya. Maka, sebenarnya sangat keliru besar jika Verstehen diposisikan sebagai lawan kebenaran objektif, atau musuh dari Erklären. Maka, jika kita menoleh kembali ke asal-usulnya, Verstehen sesungguhnya lahir dari sebuah kesetiaan, bukan pembangkangan. Kesetiaan pada martabat pengalaman manusia yang tak sudi direduksi menjadi angka dan hukum mekanis.

Dilthey, anak pendeta yang tumbuh di antara teks-teks suci, arsip sejarah, dan pergulatan filologis, menyaksikan dengan cemas bagaimana ilmu pengetahuan modern, dalam euforia keberhasilannya, hampir lupa bahwa manusia bukan sekadar objek yang bisa dipreteli. Verstehen ia ajukan bukan sebagai senjata melawan kebenaran, melainkan sebagai cara menjaga agar kebenaran tidak kehilangan manusia di dalamnya. Alam boleh dijelaskan, tetapi kehidupan (das Leben) menuntut untuk dipahami sebagai ungkapan makna yang hidup, berlapis, dan historis.

Dan sekali lagi, di titik inilah salah kaprah itu seharusnya berhenti. Verstehen bukan izin untuk kabur dari verifikasi, melainkan undangan untuk menanggung tanggung jawab yang lebih berat: memahami tanpa mengkhianati fakta, menafsir tanpa menghapus batas, merasakan tanpa menutup mata pada yang keliru. Ia berdiri bukan di luar kebenaran objektif, melainkan di hadapannya, dengan sikap penuh hormat, ragu, dan bersedia dikoreksi. Dalam dunia yang gemar memilih ekstrem, antara dingin penjelasan tanpa empati dan hangat empati tanpa penilaian, Verstehen hakikatnya mengajukan jalan yang lebih sunyi, lebih sulit, dan karenanya lebih bijak: memahami agar kebenaran tetap utuh, sekaligus mampu menjelaskan apa yang mengendap di dalamnya agar makna tidak lenyap.

WhatsApp
Facebook
Email
Print