Oleh: Syihabul Furqon

“…knowledge of the Total demands on man’s part totality of knowing” ~Frithjof Schuon, Survey of Metaphysics and Esoterism.
Saat kita menatap cakrawala, pernahkah terpikir siapa mencipta waktu dan menaruh objek-objek yang sudah tak lagi ada yang sampai ke mata kita nun jauh di sana? Betapa ambang antara gelap dan terang, siang dan malam, wujud dan nonwujud sangat pipih—atau nirkordinat. Seperti saat sebuah pensil dicelupkan ke dalam gelas berisi air bening dan kita dengan penuh keyakinan mengatakan: pensil itu telah patah dan pada saat yang sama tidak patah. Dunia-dunia paradoks. Ruang berdimensi tiga yang mengerkah objek. Waktu yang ambigu dan hati yang kerap ambivalen. Relevankah seseorang berkata: aku beriman pada angka-angka sebab mereka pasti? Atau: hanya laku dan objek eksternal saja yang boleh kuterima.
Tapi seperti dalam proposisi Universal Absolut yang sudah dipetakan dalam diagram sepuluh kategori, orang jadi tahu, pastilah ada kategori nonreduksionis yang dapat mereduksi, meringkas dan menihilkan kategori lain selain kategori singular ini. Metafisika bisa menjangkau itu. Tapi bisakah ini digunakan secara instan? Tentu tidak. Sebab orang kerap dipandu, atau hanya mau dipandu oleh indra luar. Atau insting.
Indra-indra manusia dapat menangkap jarak. Seperti saat kemarau tiba, ia dapat membaui aroma daun-daun kering, debu yang terbawa angin, majal dan kering, di langit awan bergerak menghiasi biru palsu ciptaan ilusi optik, semburat dari spektrum yang berbelok, tapi itu tetap biru. Dengan rutinitas jutaan tahun, orang menyerahkan diri pada keyakinan yang nyaris taklid, mentari akan muncul dari timur dan tidak akan pernah gagal tenggelam di barat. Langit malam akan terang, bertabur bintang, berhias residu kosmik. Mereka ada, wadak-wadak tak terjangkau itu. Tapi keberadaan mereka nisbi.
Metafisikus sejati—yang di suatu tempat mereka pasti masih ada, sebagaimana dapat kita temukan di binar mata anak-anak—barangkali sudah tahu bahwa kearifan pada akhirnya adalah pegangan dan tangga menuju metafisika. Bahwa metafisika bukan lagi sesuatu setelah alam, atau sebelum alam. Setelah penemuan dan perambahan besar manusia pada bidang fisika, bagaimana orang menenggelamkan diri pada ilmu itu dan lahir menjadi manusia yang asing dari aspek sapiensialnya, jelas menjadi kurang relevan jika orang hanya mencari titik masuk atau irisan antara fisika hari ini dan metafisika. Sejak metafisika dianggap tak lagi relevan, ilmu-ilmu eksak jadi besar kepala. Irisan jadi kurang mungkin. Sebab keduanya tidak lagi memiliki arah yang sama, fisika ke arah kepastian (matematis, betapapun abstraknya ini) dan metafisika ke arah makna.
Namun, orang masih diperkenankan untuk menjemput pertanyaan atau disapa pertanyaan-pertanyaan kemaujudan dirinya. Siapa saya dan ke mana saya akan menuju? Dalam soal ini, fisika barangkali punya jawaban: manusia adalah A, B, C (sejauh ia adalah wadak) dan barangkali mulai mengejek jawaban “manusi adalah makhluk yang berakal” sejak bahwa akal tidak lebih dari relasi sinapsis saraf di otak dan kerap dipengaruhi oleh hormon dll, dll. Tapi apa benar itu jawabab yang senantiasa tepat? Jangan-jangan bukan jawaban yang semata benar yang dicari manusia, melainkan seberapa bermakna jawaban itu. Jiwa manusia tampaknya juga menolak ditenangkan oleh semata antidepresan, ia kompleks, ia serumit labirin kaca. Jangan-jangan yang dicari adalah arti dan makna.
Demikian pula dengan jawaban atas “ke mana saya akan menuju?” Tidak benar-benar mempersoalkan jarak yang ditempuh oleh satu entitas dari titik A ke B. Sebab fisika telah membawa pemahaman pada manusia hari ini bahwa waktu adalah suatu hal yang menakutkan. Dia bersifat linear dan sekaligus paradoks. Para filsuf kuno menyederhanakan waktu sebagai wadak yang bergerak pada satu plenum. Para fisikawan hari ini telah memberi banyak atribut tentang waktu, memberikan nilai padanya sebagai ini dan itu. Para ekonom memberi nilai kapital pada waktu. Tapi jangan-jangan bukan semata itu, melainkan siapa yang paling sepenuh kesadaran ada dalam waktu. Saat seseorang memikirkan waktu, waktu menggulung dia dalam daur dan durasi.
Upaya-upaya manusia menangkap kilasan dari makna “ke mana saya akan menuju” akan sama mencengangkannya dengan merenungkan tingkat-tingkat maujud pada tempatnya masing-masing. Mineral-mineral sebagaimana adanya ada di tempatnya, tampak mati, dingin berjarak, asing. Tumbuh-tumbuhan, tidur di musim kemarau dan bersemi di musim semi—memainkan peran mati dan hidup dan elemen-elemen konstituennya dapat berubah sepraktis saat seseorang membakar kayu, jadi api, jadi abu melalui proses oksidasi yang indah dan terjaga. Hewan-hewan di kerajaannya, menyerap, mengerkah dan mengolah, membalik tanah. Menciptakan keseimbangan rantai makanan. Lahir, tumbuh dan mati. Interaksi-interaksi elementer sesuai dirinya masing masing. Mereka yang kuat dalam penglihatan, kurang dalam penciuman; yang kuat penciuman kurang pendengaran, yang kuat pendengaran terbatas dalam penglihatan; yang kuat dalam gerombolan, lemah dalam sendiri, yang kuat dalam sendiri duduk di takhta tapi rentan pada waktu. Burung-burung akan mengurai kembali rantai ini, cacing akan bekerja dan proses daur terjadi. Siklus alam bertahan.
Manusia konon datang paling terakhir. Penumpang gelap bumi yang terusir dari langit. Atau menurut keyakinan mereka yang konon “berkemajuan”, merupakan produk evolusi paling akhir dan paling maju dari primata. Si paling maju ini memetakan bumi dalam kartografi, menatap langit dan memindai cakrawala, menciptakan dari akalnya entitas non benda dan non bahasa pertama dalam simbol dan angka. Angka tidak pernah ada kecuali dalam konsensus dan mereka yang beriman pada angka bisa sama dogmatisnya dengan orang yang iman pada Tuhan tanpa kearifan dan devosi.
Manusia mencipta alkimia dan di tangannya mineral ‘mati’ itu jadi emas. Bumi dibajak dan sungai dialirkan sampai kering demi mineral ini. Pohon ditebangnya jadi rumah dan kayu. Api ditemukan dan roda pertama menggelinding di bumi. Hewan-hewan ditundukkan dan manusia duduk di takhta tertinggi ini. Sampan dibuat, perahu dibangun, jarum ditemukan dan jala ditenun. Besi dan api, kayu dan kulit, gunung ditaklukkan, laut diarungi, ikan ditombak dan dijala. Manusia dengan akal, dua tangan dan dua pasang kaki itu mencakar-cakar bumi. Tapi adakah yang membuatnya kenyang dan menuntunnya untuk berkata “cukup”?
Barangkali yang dicari dari pertanyaan “ke mana kita akan menuju” bukan semata jawaban spiritual dan metafisis—jelas-jelas apa lagi jawaban materialistis seperti fisika dan eksak-eksak lainnya itu. Melainkan membangun jawaban demi kepentingan kata “cukup.”
Barangkali ini alasan mengapa metafisika ditinggalkan. Sebab proposisi universal absolutnya mengunci manusia pada posisinya sebagai makhluk nisbi, kontingen dan karenanya dia jadi bukan lagi makhluk paling berhak melainkan sekadar yang berkesadaran. Di atas rantai maujudnya terdapat wujud wajib, tugur, pasti, ajek, dan nihil dari segala sifat nihil. Selain wujud wajib ini segalanya nisbi, titik.
Barangkali perasaan nisbi yang tertanam jauh dalam kode mineral dan gen wadak kita itulah yang terpantik manakala kita melihat cakrawala. Kode nisbi dalam rantai maujud yang saling terhubung.[]