Oleh: Rachmatullah Arken

Pagi di manglayang, pada teras sebuah villa. Di depan tampak hamparan kota. Rimbun pertokoan, jalan dan bangunan. Kota yang padat, dengan kemanusiaan yang tersumbat. Dari puncak ini, tak ada tempat di hamparan itu untuk kekosongan. Tak ada halaman bahkan bagi semata pikiran. Segalanya seolah berebut pijak dan kepemilikan. Udara sesak dengan polusi yang tak berhenti. Elang pun hilang ruang di awan tinggi. Jangan ditanya tentang suara; takkan ada pekik dan raung yang jelas nadanya. Di kota ini, keheningan adalah barang langka.
Gilding rasanya benar; manusia itu brilian dan pintar. Ia dianugerahi kreativitas tak berpagar. Apa lagi yang kita cari, ketika segenap hal yang bisa direkam khayal dan mimpi sudah ditemui; juga bisa dibeli. Tapi manusia telah menciptakan terlalu banyak. Hingga bumi ini, hidup ini, terlampau sesak. Itu membuat diri ini sering hilang jejak. Bagaimana bisa ber-ada secara otonom di dunia, ketika saya, anda, bom mobil di afrika, masinis di lokomotif kereta, atau es yang mencair di alaska, semuanya sudah tak ada jaraknya? Bagaimana memberi makna pada hidup yang melaju tak tentu arahnya dan segenap perihal yang singgah hanya sekedip mata?
It is full of us, it’s full of our stuff, full of our waste, full of our demands. Yes, we are a brilliant and creative species, but we’ve created too much stuff — so much that our economy is now bigger than its host, our planet. –Paul Gilding
Dari teras ini, Gilding seolah menyatakan bahwa kota dan manusia bisa berdiri pada kalimat kerakusan yang sama. Seperti lampu-lampu yang masih menyala meski mentari sudah naik di atas kepala. Ada ketakutan akan gelap yang terus menyelinap ke celah kota dan orang-orang yang sibuk di dalamnya. Kendaraan berderet seperti urat nadi yang menjalar, memompa kebisingan ke seluruh tubuh kota yang hingar. Memandangnya dari ketinggian pun tak lagi menyelamatkan. Sebab sesak itu juga naik merayap, menyusup lewat udara dan pikiran yang sulit untuk senyap.
Perlahan mata ini terpejam, berharap ada bayang elang yang bebas melayang. Pikiran ini ingin lepas, namun Gilding terlanjur meneguhkan batas. Sayap khayal ini tak lagi bisa terkembang. Ia terus terbentur oleh dinding keriuhan yang usang, terbentur suara klakson, papan reklame raksasa yang berteriak tentang kebahagiaan yang bisa diperjual-belikan. Dari puncak ini, keheningan itu sudah dipagari harga.
Pagi di manglayang, pada teras sebuah villa. Kabut ketinggian belum hilang dari udara. Sedang gerimis dari mendung timur mulai tiba. Dalam dingin yang merambat pada kulit; entah kenapa saya merasa ruang ini semakin sempit. Meski pikiran masih saja ingin terbang, menjelajahi tujuh langit. Apa yang harus dilakukan, saya tidak lagi mengerti. Barangkali saya hanya harus di sini. Tidak beranjak hingga bisa mereguk rintik terakhir dari hujan ini. Dan melupakan sesaknya kota ini.