FILSAFAT: KEPEKAAN, KEHADIRAN DAN KEHENINGAN

Oleh: Radea Juli A. Hambali

“Non scholae, sed vitae discimus.” — Seneca

Mungkin saja, ada momen-momen tertentu dalam aktivitas hidup kita untuk berhenti sejenak memerhatikan rutinitas. Berhenti dari kekaguman terhadap petugas damkar yang berhasil menyelamatkan seorang laki-laki yang “anunya” terjepit resleting celana. Berhenti dari berita Roy Suryo yang akhirnya digiring menjadi tersangka. Atau, berhenti dari informasi tentang Nikita Mirzani yang melakukan live Tiktok di ruang tahanan.

Abai terhadap itu semua, kita kemudian dipapah memasuki ruang sepi, tempat pertanyaan-pertanyaan mendasar muncul lebih dalam daripada jawaban yang dapat kita susun. Pada momen bermakna ini, kita seolah-olah menyambut kembali rahmat berharga. Suatu kesempatan untuk bersentuhan dengan renungan filosofis. Dalam esensinya yang paling murni, filsafat adalah disiplin perhatian, seumpama kepekaan untuk melihat dunia sebagaimana adanya, mendengar sesama dengan jujur, dan mengenali diri dalam kedalaman yang tak kasatmata.

Seorang Ludwig Wittgenstein konon pernah menulis dalam Tractatus Logico-Philosophicus-nya: “_Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”. Batas bahasaku adalah batas duniaku. Dari peringatan Wittgenstein ini kita memahami bahwa sebelum kita mengkritik dunia, kita harus lebih dahulu mengurai cara kita menamainya. Kata-kata yang kita gunakan membentuk horizon penglihatan kita. Jika bahasanya keruh, realitas pun tampak kabur. Maka sangat boleh jadi, sering kali bukan jawaban yang salah, melainkan pertanyaannya yang keliru sejak awal.

Kesadaran Wittgenstein ini sejalan dengan penegasan Bertrand Russell yang pernah menyatakan, “To conquer fear is the beginning of wisdom.” Kebijaksanaan awal, bagi Russell, bukan hanya keberanian moral, tetapi keberanian intelektual, menolak tunduk pada ketakutan kita sendiri: takut salah, takut dikoreksi, takut bahwa fakta tidak sesuai dengan cerita yang ingin kita yakini. Russell mengingatkan bahwa penalaran yang sehat menuntut pengawasan ketat atas langkah-langkah yang kita tempuh.

Namun, ketajaman logika saja tidak memadai. Seorang filsuf, entah siapa namanya saya lupa, melihat filsafat sebagai latihan empati, sebuah ketekunan untuk menggabungkan rasionalitas dengan kepekaan moral, kesediaan membuka diri pada pengalaman kelompok yang selama ini dibungkam atau diabaikan. Kita diajak bersikap eklektik: merangkul hal terbaik dari sains, sastra, agama, seni, dan psikologi, tanpa jatuh pada fanatisme terhadap satu pendekatan. Kebenaran, seperti dikatakan oleh Hans-Georg Gadamer, selalu lahir dalam keintiman dan dialog, melalui perjumpaan dan bukan isolasi. Kebenaran tidak bersemayam dalam satu kepala, tetapi dalam ruang perjumpaan antara dua hati yang mau mendengar. In optima forma!

Dan ketika kebingungan menghampiri. Ketika jawaban terasa menjauh dan kebingungan melelahkan, kita diingatkan oleh para Stoik semisal Marcus Aurelius bahwa ketekunan adalah bagian dari kebijaksanaan. Filsafat jarang memberi kepastian instan. Ia bekerja perlahan, membentuk kita menjadi pribadi yang lebih jernih, adil, dan lembut dalam memandang dunia.

Ketika kita berbicara tentang makna hidup, banyak orang berharap menemukan satu rumus besar yang selesai dan final. Namun tokoh-tokoh seperti Albert Camus mengingatkan bahwa hidup tidak datang dengan makna yang sudah jadi. Suatu makna justru hadir dari keberanian kita menghadapi absurditas dan merangkainya dalam tindakan sehari-hari. “One must imagine Sisyphus happy,” begitu bisiknya. Dengan ini, makna tidak ditemukan di luar diri, melainkan dirakit dan dianyam melalui tindakan yang jujur terhadap kenyataan.

Sementara bagi Viktor Frankl, dari sudut pengalaman eksistensial, melihat makna hidup sebagai sesuatu yang ditemukan melalui komitmen, tanggung jawab, dan kesediaan menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar mencapai prestasi yang tampak dari luar. Ya, makna hidup, bagi Frankl, lahir dari komitmen, tanggung jawab, dan kesediaan menumbuhkan karakter. Bukan soal seberapa banyak yang kita capai, melainkan siapa kita ketika sedang menjadi. Makna hidup bersifat “demokratis”. Ia terbuka bagi siapa saja yang mau hidup dengan kesadaran, kejujuran, dan komitmen untuk tumbuh.

Dari semua renungan ini, kita memahami bahwa filsafat bukanlah cahaya yang dapat menghapus semua gelap, tetapi lentera kecil yang menuntun langkah kita, sekalipun mungkin patah-patah. Ia mengajari kita untuk terus mencari, dengan kesabaran dan ketekunan, karena kebijaksanaan tidak datang melalui jawaban instan, melainkan melalui kesediaan untuk diperbaiki dan kesanggupan untuk memperbaiki.

Selamat Hari Filsafat Sedunia..!

Semoga setiap pencarian yang kita jalani menjadi jalan pulang menuju diri yang lebih jernih, lebih manusiawi, dan lebih terbuka pada kebenaran yang terus datang dan berkembang. Allahu a’lam bi Shawab.[]

WhatsApp
Facebook
Email
Print