MENGAPA KITA SALING MENCINTAI? FILSAFAT CINTA ANTARA RASIONALITAS, SPONTANITAS, DAN KEBERANIAN EKSISTENSIAL

Oleh: Fakhri Afif

 

What is noble?—That one gives style to one’s character.” (Nietzsche, Beyond Good and Evil)

For believe me: the secret for harvesting from existence the greatest fruitfulness and the greatest enjoyment is—to live dangerously!” (Nietzsche, The Gay Science)

 

Pertanyaan yang tampak sederhana—“Mengapa engkau mencintaiku?”—sesungguhnya membuka medan perdebatan yang paling kompleks dalam filsafat cinta. Ia menggugah dua hal sekaligus: apakah cinta itu berkaitan dengan alasan yang dapat menjustifikasi dan menjelaskannya, ataukah cinta justru merupakan domain yang melampaui kalkulasi atau proyeksi rasional? Lebih dari itu, adakah cara untuk mencintai tanpa terjerat dalam sentimentalitas dan tidak kehilangan bobot etisnya? Secara garis besar, tradisi filsafat analitik mencoba menjawab pertanyaan ini dengan memetakan struktur normatif cinta: apakah cinta didasari pada kualitas yang bernilai pada diri orang yang dicintai, atau oleh nilai relasi itu sendiri? Sementara itu, Nietzsche mengejutkan kita dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Alih-alih mempersoalkan alasan apa yang menjadi dasar bagi cinta, ia lebih memusatkan perhatiannya pada pertanyaan tentang bagaimana kualitas subjek yang mencintai. Apa artinya mencintai dengan intensitas yang menguatkan diri? Apa jenis cinta yang membuat hidup lebih besar, bukan lebih sempit?

 

Tradisi Analitik dan Stuktur Normatif Cinta

Dalam tradisi analitik, cinta umumnya dipahami sebagai respons terhadap nilai. Kita mencintai seseorang karena sesuatu yang bernilai atau patut dicintai dalam dirinya: kebaikan hati, kecerdasan, selera humor, kehangatan emosional, atau keunikan karakter yang membuatnya berbeda dari orang lain. Bagi banyak filsuf analitik, penjelasan semacam ini tampak intuitif karena ia selaras dengan pengalaman sehari-hari banyak orang, yaitu bahwa cinta yang baik bukanlah sesuatu yang muncul secara acak atau sewenang-wenang, melainkan merupakan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan melalui penalaran normatif. Penting untuk saya tekankan bahwa penalaran dalam konteks ini bukan sekadar alasan eksplanatoris, melainkan alasan yang membenarkan, merasionalisasi, dan membuat masuk akal mengapa sikap mencintai diarahkan pada orang tertentu. Karena itulah, rationalist view berangkat dari asumsi bahwa cinta adalah bentuk evaluasi: kita melihat sesuatu yang baik, berharga, atau layak dicintai, lalu kita mencintai.

Tatkala gagasan tersebut diperinci, muncul setidaknya dua varian besar. Yang pertama adalah quality view, yakni pandangan yang menegaskan bahwa cinta bersumber dari kualitas-kualitas personal yang bernilai pada diri seseorang. Dalam kerangka ini, kita mencintai karena ada sesuatu pada diri orang itu—kebaikan, karakter yang kuat, pesona tertentu, kecantikan, kecerdasan, humor—yang memicu dan menopang cinta. Meski tampak menjanjikan, pandangan ini sebetulnya menghadapi beberapa persoalan signifikan. Jika cinta semata-mata didasarkan pada kualitas, mengapa cinta sering tetap bertahan ketika kualitas tersebut berubah atau bahkan hilang? Mengapa kualitas yang sama pada orang lain tidak otomatis membuat kita mencintai mereka dengan intensitas yang sama? Dan bagaimana pandangan ini menjelaskan sifat ketaktergantikan (irreplaceability) dari orang yang dicintai—sebuah ciri yang hampir selalu melekat pada pengalaman cinta romantis? Jika cinta benar-benar didasarkan pada kualitas, maka orang lain yang memiliki kualitas serupa seharusnya dapat menggantikan kekasih kita. Akan tetapi, secara fenomenologis, ini bertentangan dengan pengalaman emosional manusia, yang hampir selalu menempatkan kekasih sebagai seseorang yang unik, tak tergantikan, dan tidak dapat disubstitusi oleh siapa pun.

Varian kedua dari rasionalisme adalah relationship view, terutama dikemukakan oleh Kolodny dan Wallace. Mereka berpendapat bahwa alasan untuk mencintai tidak terletak pada sifat-sifat individual, tetapi pada relasi yang telah terbentuk antara dua orang. Nilai yang mendasari cinta tidak muncul dari atribut pribadi kekasih, tetapi dari sejarah bersama, komitmen yang berkembang, dan keterhubungan personal yang menciptakan nilai relasional yang unik. Cinta, dalam kerangka ini, adalah respons terhadap sesuatu yang hanya muncul dalam hubungan: sesuatu yang tak dapat ditiru atau diulang dengan orang lain. Menurut saya, keunggulan utama dari perspektif ini terletak pada kemampuannya untuk menjelaskan mengapa cinta tetap bertahan meskipun kualitas personal berubah, dan mengapa kekasih bersifat tidak tergantikan—bukan karena sifat-sifatnya yang unik secara abstrak, tetapi karena hubungan yang hanya dapat terbentuk antara dua individu tersebut. Namun, pandangan ini juga telah dikritik karena cenderung terlalu menekankan struktur normatif relasi dan kurang menangkap spontanitas emosional yang terjadi pada tahap awal jatuh cinta. Dengan kata lain, relationship view sangat baik dalam mendeskripsikan cinta yang sudah matang, tetapi kurang mampu menjelaskan momen-momen awal ketika cinta tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas.

Kontras dengan posisi dan komitmen di atas, ada pula pendekatan  no-reasons-for-love view yang sepenuhnya menolak gagasan bahwa cinta bersifat evaluatif. Frankfurt dan Zangwill, misalnya, berpendapat bahwa cinta tidak tumbuh dari alasan, melainkan cinta itu sendiri yang menjadi dasar sekaligus membuat sesuatu itu bernilai. Kita tidak mencintai seseorang karena alasan tertentu; justru alasan itu muncul karena kita mencintainya.  Dalam formulasi analitisnya, kita tidak mencintai bahwa p, melainkan mencintai p—yaitu orang itu sendiri. Oleh karenanya, kita tidak bisa mencari alasan untuk mencintai, karena “apa yang penting” sudah ditentukan oleh apa atau siapa yang kita cintai. Pandangan ini bagi sebagian kalangan menjadi amat memikat karena sejalan dengan pengalaman banyak orang: cinta sering datang tanpa penjelasan, dan keindahan cinta dapat rusak jika kita memaksakan penalaran yang terlalu formal dan kaku. Namun, pandangan ini juga mengandung sejumlah masalah tersendiri. Jika cinta berdiri tanpa alas apapun, bagaimana kita membedakan cinta yang sehat dan layak dari cinta yang sewenang-wenang, mengendalikan, dominan, destruktif, atau eksploitatif? Lebih dari itu, pendekatan tersebut tampaknya gagal mengapresiasi nilai objektif pada orang yang dicintai.

Kesadaran akan ketegangan antara kedua pendekatan di atas akhirnya mendorong kemunculan pandangan alternatif yang berupaya menyatukan spontanitas dan rasionalitas dalam pengalaman cinta. Menurut pendekatan ini, cinta manusia pada umumnya bergerak melalui dua fase yang saling berjalin-kelindan. Pada tahap awal, cinta bersifat a-rational: ia muncul secara spontan, tidak bergantung pada alasan normatif, dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui argumen evaluatif. Jatuh cinta sering kali terjadi begitu saja—sebagai gejolak emosional yang tidak dapat dikendalikan atau dibenarkan secara langsung.

Namun seiring berjalannya waktu, cinta dapat berkembang menjadi rational love, yakni bentuk cinta yang merespons nilai-nilai aktual, baik kualitas personal maupun nilai relasional. Pada tahap ini, cinta tidak hanya dirasakan tetapi juga direfleksikan; ia dipelihara melalui pengenalan terhadap kebaikan, komitmen, dan makna yang tumbuh dalam interaksi bersama. Refleksi semacam inilah yang memungkinkan seseorang memilih, memahami, dan akhirnya meyakini bahwa hubungan yang dijalani layak dirawat dan dipertahankan. Dengan demikian, cinta tidak dapat direduksi menjadi spontanitas murni ataupun rasionalitas semata: ia merupakan perpaduan keduanya, sebuah proses yang berawal dari ketakterdugaan emosional tetapi kemudian memperoleh struktur nilai yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Nietzsche dan Dimensi Eksistensial Cinta

Pada titik inilah, menurut saya, perspektif Nietzsche dapat menawarkan koreksi yang sekaligus memperkaya pembahasan tentang filsafat cinta. Penting untuk saya tegaskan terlebih dahulu bahwa Nietzsche sama sekali tidak tertarik—atau bahkan tidak peduli—pada upaya mencari dasar normatif bagi cinta; ia tidak menanyakan apakah cinta dapat dibenarkan secara moral ataupun rasional. Sebaliknya, ia lebih tertarik pada dimensi eksistensial cinta, yakni pada bagaimana cinta menjadi cermin terhadap, sekaligus merupakan kekuatan bagi, kesehatan jiwa dan vitalitas seseorang. Menurut Nietzsche, cinta yang sejati merupakan manifestasi dari will to power, dorongan fundamental kehidupan untuk terus bertumbuh, melampaui diri sendiri, dan mengafirmasi dunia yang paradoks melalui keberadaan yang-lain dalam keberlainannya. Maka dari itu, cinta bukanlah perkara kelembutan, altru­isme, atau pengorbanan, melainkan perkara kekuatan batin, keberanian eksistensial, dan kehendak luhur untuk berkembang.

Dengan ini, Nietzsche membentangkan sebuah horizon yang menunjukkan kepada kita bahwa cinta yang kuat adalah cinta yang memperbesar kehidupan kedua pihak, bukan cinta yang mengurung, melemahkan, atau bahkan mematikan potensi. Dengan demikian, ia menolak secara tegas bentuk cinta posesif yang memperlakukan kekasih sebagai milik pribadi, serta bentuk cinta pengorbanan diri yang merayakan hilangnya otonomi demi ideal romantik. Dalam observasi Nietzsche, kedua bentuk cinta tersebut bukanlah tanda keagungan jiwa, melainkan gejala kelemahan yang menyusutkan kemampuan manusia untuk mengafirmasi kehidupan sekaligus merusak cita rasa dalam jiwanya.

Bertolak dari eksposisi di atas, saya hendak menegaskan bahwa mencintai secara kuat (loving powerfully) berarti mencintai dengan keberanian, menerima beloved bukan hanya pada sisi-sisi yang indah tetapi juga pada segi-segi yang rentan, rapuh, tidak menyenangkan, dan kontradiktif. Jauh-jauh hari, Nietzsche telah merapalkan mantra eksistensialnya, amor fati: mencintai seseorang apa adanya, tanpa keinginan untuk mengontrol atau “memperbaiki” mereka agar sesuai dengan kebutuhan diri. Dalam kerangka tersebut, cinta menjadi medan penciptaan nilai—kita menemukan makna dalam keberadaan orang lain, bukan dengan menghapus diri atau menghapus mereka, tetapi dengan membiarkan pertemuan itu memperluas cakrawala kehidupan masing-masing. Bersama Nietzsche, kita diajak untuk menghayati cinta sebagai sarana untuk transformasi diri, mengingat bahwa kehadiran yang lain itu menantang, memperkaya, dan mengganggu kita dengan cara yang menyuburkan pertumbuhan.

 

Menuju Penghayatan Cinta yang Lebih Kaya dan Penuh Makna

Dari sinilah gagasan loving powerfully memperoleh daya analitisnya: cinta yang kuat adalah cinta yang berangkat dari kelimpahan batin, bukan dari kekurangan; dari kapasitas untuk mengafirmasi diri, bukan dari ketergantungan pada orang lain. Cinta seperti ini tidak mematikan identitas, tidak juga meleburkan dua individu menjadi satu kesatuan yang kabur, melainkan membuat masing-masing pihak bertumbuh menuju arah yang sama tanpa kehilangan kediriannya yang autentik. Hal yang penting untuk saya ingatkan, bahwa loving powerfully sama sekali tidak menjanjikan keamanan, kenyamanan, atau stabilitas emosional yang tanpa keretakan; justru sebaliknya, cinta Nietzschean selalu melibatkan risiko dan tuntutan keberanian eksistensial. Untuk mencintai secara kuat, seseorang harus siap menghadapi penolakan, kehilangan, pengkhianatan, dan ketidakpastian yang secara niscaya menyertai relasionalitas maupun keterikatan mendalamnya dengan yang-lain.

Risiko-risiko ini menurut saya bukan alasan untuk mundur, tetapi justru merupakan syarat fundamental bagi kedewasaan cinta itu sendiri. Karena, hanya melalui kesediaan menanggung ambiguitas, ketaksaan, dan ketidakpastian hidup, mutu dari cinta dapat diangkat ke level keberanian dan autentisitas. Pada kenyataannya, Nietzsche memang mengamini dan “mengimani” bahwa hanya jiwa besar yang dapat mencintai secara besar: mereka yang menjadikan cinta bukan sekadar perasaan lembut, tetapi latihan kekuatan kreatif untuk membangun, menata, merombak, dan merumuskan kembali identitas dan dunia nilai mereka sendiri secara berkelanjutan. Dengan demikian, loving powerfully adalah sebuah proyek etis jangka panjang: usaha transformasional yang kontinu untuk menjadikan manusia lebih unggul, lebih penuh, dan lebih berani dalam mengafirmasi kehidupan. Cinta tidak lagi dipahami sebagai tempat bersembunyi dari dunia, melainkan sebagai cara untuk bertemu dengan dunia secara lebih intens, lebih jujur, dan lebih produktif.

Tatkala saya menyandingkan dua perspektif ini—analitik dan Nietzschean, saya lantas dapat mengimajinasikan sebuah gambaran cinta yang lebih kaya. Cinta dapat dipahami sebagai kekuatan yang menciptakan nilai sekaligus sebagai respons terhadap nilai itu sendiri. Pada tahap awal, cinta memiliki daya transformasi yang membuat kita melihat apa yang sebelumnya tidak terlihat. Kita merasakan energi kreatif yang membuka dunia baru bersama seseorang. Pada tahap selanjutnya, cinta memerlukan kemampuan untuk mengenali dan merekognisi nilai aktual: siapa orang itu sesungguhnya, bagaimana relasi berkembang, dan apakah relasi tersebut memperkuat kehidupan kita. Dengan demikian, cinta dapat dimulai secara a-rasional, namun ia harus dipelihara secara rasional—bukan melalui kalkulasi dingin, tetapi melalui pengenalan yang jujur terhadap kelebihan, kekurangan, dan potensi bersama.

Konstruksi imajinatif di atas, menurut saya, dapat membantu kita dalam menjelaskan mengapa orang yang kita cintai bersifat tidak tergantikan. Tradisi analitik menekankan bahwa nilai relasi membuat seseorang tidak dapat digantikan begitu saja: tidak ada dua sejarah yang sama. Nietzsche menambahkan dimensi eksistensial dari afirmasi tersebut dengan menegaskan bahwa seseorang menjadi tidak tergantikan karena mereka menjadi poros afirmasi hidup kita, titik di mana vitalitas kita menemukan cermin, gerak, dan pertumbuhannya. Pada titik ini, kekasih bukan sekadar individu dengan kualitas tertentu, tetapi seseorang yang keberadaannya memperluas dunia batin kita.

 

Catatan Penutup: Cinta sebagai Kekuatan yang Menghidupkan

Pada akhirnya, model cinta yang lahir dari pertemuan dua tradisi ini menawarkan gambaran yang lebih realistis dan lebih manusiawi. Cinta bukan sekadar ledakan emosi yang tidak terjelaskan, tetapi juga bukan program moral yang harus selalu logis. Ia adalah proses kreatif yang melibatkan spontanitas, evaluasi nilai, afirmasi hidup, dan tanggung jawab relasional. Dengan itu, saya ingin mempertegas bahwa cinta yang baik bukanlah cinta yang bebas dari alasan, tetapi cinta yang mampu menghasilkan alasan sambil tetap memeluk ketidakpastian yang menjadi titik berangkatnya. Mencintai secara kuat, dengan demikian, mencintai dengan dan melalui pemberian ruang bagi beloved untuk bertumbuh, menjadi, dan menyempurna. Singkat kata, cinta yang beralasan bukan cinta yang kering, tetapi cinta yang melihat dengan jernih.

Saya ingin mengakhiri refleksi sederhana ini dengan menegaskan bahwa jawaban atas pertanyaan “Mengapa engkau mencintaiku?” tidak perlu dihindari atau direduksi menjadi daftar kualitas yang kaku. Jawaban yang lebih mendalam justru terletak pada kesadaran bahwa cinta merupakan suatu proses yang secara bersamaan menciptakan dan menemukan alasannya sendiri. Cinta yang matang tidak lahir dari kalkulasi, tetapi tumbuh dari kemampuan untuk melihat kualitas dan nilai yang perlahan-lahan terungkap dalam diri beloved. Ketika cinta telah hadir, kita menjadi sensitif terhadap apa yang dapat disebut sebagai reasons that one grasps because one loves: alasan-alasan yang tidak mendahului cinta, tetapi justru menjadi tampak karena cinta itu telah muncul. Ini penting, karena ia menunjukkan bahwa cinta bukan hanya didasari oleh alasan, melainkan sekaligus membuka cakrawala alasan yang sebelumnya tidak terlihat secara kasat mata.

Dari sudut pandang moral dan eksistensial, afirmasi di atas berarti bahwa cinta dapat berkembang menjadi sebuah respons normatif yang mendalam, yaitu sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan baik dalam relasi maupun dalam kehidupan etis seseorang. Namun keberadaan unsur a-rational di dalamnya membuat cinta tidak pernah sepenuhnya dapat dibenarkan secara normatif. Ia selalu menyisakan ruang bagi spontanitas, ketakterdugaan, dan keunikan pribadi. Oleh karenanya, cinta terbaik bukanlah cinta yang sepenuhnya rasional ataupun sepenuhnya emosional, melainkan cinta yang berakar pada spontanitas awal tetapi tetap dikenali sebagai layak (appropriate), terarah secara benar, dan menghargai nilai aktual dari orang yang dicintai. Dengan meramu wacana dari filsafat analitik dan perspektif Nietzsche secara imajinatif, kita dapat memproyeksikan bahwa cinta tidak akan pernah memadai hanya dengan mengandalkan rasionalitas, dan mustahil menjadi adekuat jika berpijak sepenuhnya pada emosionalitas. Dengan demikian, cinta adalah kekuatan kreatif yang menghidupkan—sebuah kekuatan yang menuntut pemahaman, pemeliharaan, penghayatan, dan kesediaan untuk terus menumbuhkembangkannya sehingga ia dapat membuat hidup kita, dan hidup orang yang kita cintai, menjadi lebih penuh.

 

Daftar Rujukan

Cleary, S. (2015). Existentialism and Romantic Love. Palgrave Macmillan.

Ebels‐Duggan, K. (2008). Against Beneficence: A Normative Account of Love. Ethics, 119(1), 142–170. https://doi.org/10.1086/592310

Frankfurt, H. G. (2004). The Reasons of Love. Princeton University Press.

Kolodny, N. (2003). Love as Valuing a Relationship. Philosophical Review, 112(2), 135–189. https://doi.org/10.1215/00318108-112-2-135

Kroeker, E. E. (2019). Reasons for Love. In A. M. Martin (Ed.), The Routledge Handbook of Love in Philosophy (pp. 277–287). Routledge.

Nietzsche, F. (2001). The Gay Science (B. Williams, Ed.; J. Nauckhoff & A. Del Caro, Trans.). Cambridge University Press.

Nietzsche, F. (1968). The Will to Power (W. Kaufmann, Ed.; W. Kaufmann & R. J. Hollingdale, Trans.). Random House.

Nietzsche, F. (1990). Beyond Good and Evil: Prelude to a Philosophy of the Future (R. J. Hollingdale, Trans.). Penguin Books.

Reginster, B. (2006). The Affirmation of Life: Nietzsche on Overcoming Nihilism. Harvard University Press.

Schacht, R. (2023). Nietzsche’s Kind of Philosophy: Finding His Way. University of Chicago Press.

Schaubroeck, K., & Kroeker, E. (Eds.). (2016). Love, Reason and Morality. Routledge.

Solomon, R. C. (2004). Living with Nietzsche: What the Great “Immoralist” has to Teach Us. Oxford University Press.

Wallace, R. J. (2012). I—Duties of Love. Aristotelian Society Supplementary Volume, 86(1), 175–198. https://doi.org/10.1111/j.1467-8349.2012.00213.x

Zangwill, N. (2013). Love: Gloriously Amoral and Arational. Philosophical Explorations, 16(3), 298–314. https://doi.org/10.1080/13869795.2013.812739

WhatsApp
Facebook
Email
Print