Oleh: Bambang Q. Anees

Satu pemikiran Heidegger yang saya suka adalah “Lupa-akan-Ada”. Konsep ini rumit, tapi bisa disederhanakan. Ambil contoh saja dari pertanyaan “apa itu manusia?”. Terhadap pertanyaan ini ada banyak jawaban, “manusia adalah makhluk berpikir,” “manusia adalah makhluk sosial”, “manusia adalah serigala bagi yang lainnya”, “manusia adalah makhluk pelupa,” dan sejumlah rumusan konsep lain. Lalu kita pun sibuk membicarakan konsep-konsep tentang manusia, sampai akhirnya kita lupa pada “manusia”-nya.
Kasusnya terlihat pada pernyataan Descartes yang terkenal, “Aku berpikir maka ‘Aku’ ada”. Berpikir menjadi ciri dari “ada”-nya manusia. Setelah itu, filsafat modern sibuk membicarakan keberpikiran: apa itu berpikir, kenapa harus berpikir, bagaimana metode terbaik dalam berpikir? Dan seterusnya. Akhirnya filsafat modern lupa pada “manusia”-nya. Efeknya tentu saja, manusia modern sangat canggih dalam merumuskan cara berpikir, namun gamang dan cemas mengenai dirinya sendiri. Anak-anak sekolah begitu cerdas merumuskan gagasannya; anak-anak mahasiswa begitu mahir menulis artikel jurnal, namun gamang ketika ditanya “kamu siapa?; dan mau kemana?”
Kita lihat teori ini agak sedikir mendalam!
“Lupa-akan-Ada” (Seinsvergessenheit), adalah kondisi ketika manusia modern melupakan makna dan esensi dari “Ada” karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Heidegger membedakan antara “benda-benda yang ada” (das seiende) dengan “Ada” (sein). “Benda-benda yang ada” itu misalnya: kursi, pohon, teknologi. Sementara “Ada” (sein) adalah yang mendasari semua das seiende itu. Semua benda yang ada itu, pohon, kursi, nilai, bisa dibicarakan karena ia “ada”. Jadi “ada” dulu baru bisa dibicarakan. Kalau “tak ada” tentu tak bisa dibicarakan. Jadi “ada” adalah dasar dari seinde.
Nah, gejala lupa akan ada terjadi ketika Manusia modern cenderung melupakan esensi mendasar dari “Ada” karena selalu sibuk dengan “benda-benda yang ada” yang sifatnya lebih konkret dan dapat diobjektivikasi. Contoh sederhana, Anda mungkin lupa akan “Ada” saat Anda hanya fokus pada seberapa cepat Anda bisa menyelesaikan pekerjaan di depan komputer (fokus pada “benda yang ada”) dan mengabaikan suara alam di luar jendela atau perasaan lelah di tubuh Anda (mengabaikan “Ada”).
Gejala lupa-akan ada mengingatkan saya pada Surat Fusilat, “Apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat: 51). Di sini, manusia tahu bahwa Tuhan adalah dasar, sumber dan penyebab dari nikmat. Buktinya, saat nikmat itu tak didapatkan, manusia banyak berdoa pada Tuhan agar diberi nikmat. Namun saat banyak nikmat yang diterima, manusia lupa pada sumber, Tuhan. Ini seperti gejala “Lupa-akan-Ada”.
“Lupa-akan-Ada” ini seperti “Lupa-akan-Tuhan”, sangat berbahaya! Al-Quran Surat al-Hasyr ayat 19 menyatakan, Wa lā takūnū kallażīna nasullāha fa ansāhum anfusahum, ulā`ika humul-fāsiqūn (Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik). Jika “Lupa-akan-Ada” kita akan kehilangan makna, seraya terjebak pada kesibukan yang tak perlu. Lebih dari itu, jika “Lupa-akan-Ada”, manusia akan lupa keberadaan dirinya. Orang yang seperti ini disebut fāsiq (keluar dari yang seharusnya). Ya, seharusnya manusia tak lupa pada dirinya. Saat lupa diri, manusia biasanya bersikap destruktif.
Ada satu lagi gejala yang terkait dengan lupa-akan-ada, Goodhart’s law
Gagasan di atas disampaikan oleh seorang ekonom Inggris bernama Charles Goodhart di Inggris pada tahun 1975-an. Ceritanya begini. Pada sebuah pabrik paku, manajer menetapkan target, “Kita harus menghasilkan banyak paku!”. Semua setuju, lalu setelah itu pabrik menghasilkan banyak paku. Pabrik itu memproduksi paku-paku yang kecil namun jumlahnya banyak. Manajer bingung, maksudnya bukan begitu. Lalu ia menetapkan ukuran lain, “Kita harus menghasilkan paku dalam jumlah yang lebih berat”. Pabrik itu kemudian membuat paku-paku dalam ukuran besar. Sedikit pakunya, namun bobotnya berat.
Goodhart kemudian menyimpulkan, “ketika ukuran menjadi target, ukuran tersebut berhenti menjadi ukuran yang baik. Ketika ukuran menjadi target, ukuran itu kehilangan makna”. Ini seperti “Lupa-akan-Ada”.
Kita lihat contoh lain. Saat pandemi Covid-19, pemerintah pusat menetapkan kebijakan. Daerah disebut berhasil bila semakin sedikit yang positif Covid-19. Semakin sedikit yang terjangkit Covid-19, semakin dianggap sukses. Lalu apa yang dilakukan daerah. Jumlah tesnya dikurangi, agar kasus yang ketahuan bisa dibatasi.
Gambaran lainnya, jika polisi dinilai berdasarkan jumlah penjahat yang ditangkap, ada potensi kriminalisasi akan diberitakan naik. Jika dokter hewan dinilai dengan persentase hewan rawatan yang pulih, rawan muncul kecenderungan dokter menolak merawat hewan yang sudah sakit parah, padahal lebih dibutuhkan. Ketika suatu ukuran dijadikan target, manusia cenderung mencari siasat untuk mencapai target tersebut dan mengerdilkan makna ukuran itu sendiri.
Kita lihat contoh lain di Perguruan Tinggi. Di Perguruan Tinggi pasti ada KPI (Key Performance Indicators), indikator kunci keberhasilan. Jika KPI tercapai, Perguruan Tinggi itu dianggap sukses. Ada potensi, Perguruan tinggi akan lebih mengejar KPI daripada substansinya.
Misalnya, ketika KPI atau kualitas sekolah dinilai berdasarkan nilai test-nya, cara terbaik adalah guru melatih cara mendapatkan nilai tinggi pada murid-muridnya. Yang penting bisa mendapatkan nilai ujian yang besar, substansi ilmu nomor dua. Targetnya adalah mencapai KPI. Bukan menjadikan KPI sebagai efek samping dari proses utamanya.
Salah satu KPI untuk mengukur keberhasilan Perguruan Tinggi adalah dengan jumlah lulusan yang lulus tepat waktu. Tujuannya baik, agar pengajaran efektif, mahasiswa juga tidak berlarut-larut bayar SPP, dan seterusnya dan seterusnya. Di lapangan, para pengelola bertemu dengan mahasiswa yang malas belajar, jarang masuk, nilainya di bawah standar. Ini berabe, akreditasi jurusan bisa turun. Apa yang harus dilakukan? Nilai pun dikatrol agar KPI, ukuran keberhasilan itu, tercapai. Lupa tujuan, sibuk pada ukuran. Lupa pada tujuan Perguruan Tinggi sebagai penyelenggara pendidikan, karena sibuk pada KPI. Ini juga gejala “Lupa-akan-Ada”.
Jadi apa yang harus dilakukan?
Ada beberapa usulan dari Goodhart. Pertama, perbanyak matriks, jangan satu ukuran, yang saling melengkapi. pengukurnya harus sedemikian canggih sehingga tidak mudah dimanipulasi. Jangan pakai kacamata kuda, maksudnya jangan hanya memakai satu KPI saja. Kedua, evaluasi ulang terus-menerus dan perbarui ukuran secara berkala. Ketiga, dorong motivasi intrinsik dan ingatkan tujuan besar dari apa yang dilakukan. Tujuan besarnya penyelenggaraan pendidikan itu apa sih?
Heidegger mengusulkan kesadaran baru agar keluar dari enframing. Al-Quran tentu mendorong kita agar taubat (kembali). Ancamannya seperti dikemukakan al-Hasyr ayat 19, “orang yang telah melupakan Allah, ia melupakan dirinya”. Siapa lupa tujuan besar, ia lupa diri. Siapa lupa “ada”, ia lupa diri. Kalau sudah lupa diri, biasanya muncul tindakan yang tak manusiawi. Akankah kita terus melupa-akan-ada?